Thursday, March 3, 2011

Cici Ingin Terbang

Di tengah hutan yang tenang dan damai tinggallah keluarga kelinci. Keluarga kelinci terdiri dari ayah, ibu, dan satu anak kelinci putih kecil. Pada suatu siang anak kelinci putih kecil bermain bersama teman-temannya di dekat danau yang jernih, mereka menyebutnya Danau Pelangi. Danau Pelangi merupakan danau yang jernih dan jika selepas hujan akan memantulkan warna-warna pelangi, sehingga mereka menyebutnya danau pelangi.

Anak kelinci putih kecil bernama Cici sedang bermain dengan Momo si monyet kecil, Ruru si anak rusa dan Bubu si burung pipit kecil. Mereka tengah bermain petak umpet. Sampai suatu saat Momo mengeluh capek, “Sudah, ah, teman-teman, aku capek sekali. Haus,” sahutnya kecapekan sambil bersandar di pohon papirus.

Cici yang masih semangat dan belum capek cemberut seketika.

“Yaaah, Momo, aku kan masih ingin bermain, kok sudah capek, sih?” tanyanya cemberut. Momo diam seraya mengipas-ngipaskan dedaunan kering yang ada di dekatnya, berharap dedaunan yang tengah dikipaskannya bisa membantu menghilangkan keringatnya. Ruru dan Bubu duduk mendekati Cici dan Momo.

“Ya sudah, besok kita main lagi,” ucap Ruru menengahi seraya mengisi botol minumnya dengan air danau dan memberikan kepada teman-temannya setelah meneguknya. Bubu menyesap air langsung dari danau, lebih enak katanya.

Cici berdiri tiba-tiba.

“Aku ingin bisa terbang,” ucapnya.

Momo yang tengah minum tersedak.

“Terbang? Jangan bercanda, Ci. Kamu tidak punya sayap seperti Bubu, kamu tidak akan bisa terbang,” jawab Momo.

Bubu terbang mendekati Cici.

“Kamu ingin terbang? Kenapa? Bukankah di daratan seperti ini lebih enak?” tanya Bubu.

“Iya, Ci, bukankah lebih enak seperti sekarang ini? Kamu bisa melompat-lompat riang, kamu bisa berlomba melompat dengan katak, kangguru...”

Belum selesai Ruru bicara Cici menyela cepat, “Tapi aku ingin terbang. Aku ingin memegang awan,” sahutnya sambil menatap awan dengan mata berbinar. Momo, Bubu, dan Ruru menghela napas panjang bersamaan. Mereka tahu itu tidak mungkin untuk dilakukan Cici. Namun mereka juga tahu, jika Cici adalah pekerja keras dan berkemauan kuat, jadi bukan tidak mungkin apa yang mereka sarankan tidak didengarkan oleh Cici.

Esoknya, Cici pergi ke pasar ditemani ketiga sahabatnya membeli seratus balon. Cici mencoba dengan seratus balon untuk bisa terbang. Di dalam balon berisi gas karbon, yang jika balon dilepas akan terbang ke angkasa. Sesampai di bukit, Cici dibantu ketiga temannya mengikat seratus balon di seluruh badan Cici. Cici jadi tampak kecil sekali tertutupi oleh banyaknya balon. Orangtua Cici menatap Cici cemas, berulangkali mereka mengingatkan, namun tidak pernah didengar oleh Cici.

“Nak, kalau kamu jatuh nanti gimana, Nak?” tanya ibunya seraya mengusap air di pelupuk matanya. Ayah memeluk menenangkan ibu. Cici berbalik tersenyum melihat satu persatu temannya bergantian dan melompat mendekati orangtuanya, dia tidak bisa memeluk karena badannya penuh dengan ikatan balon. Sesaat kemudian, Cici melompat dari bukit, dan seratus balon mengangkat tinggi tubuhnya yang mungil.

“Horeee, aku terbang, aku terbang!!” Cici berteriak senang ketika dirinya berhasil terbang ke angkasa. Namun, sesaat kemudian satu persatu balon mulai meletus, Cici kehilangan keseimbangan. Dia takut jatuh seperti yang ditakutkan ibunya. Cici panik ketika balon yang meletus makin banyak.

“Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku takut jatuh,” ratapnya mulai menangis. Orangtua dan teman-temannya yang melihat balon-balon Cici meletus juga ikut cemas. Mereka takut Cici jatuh. Bubu terbang kesana kemari menandakan dia sedang panik. Momo melompat-lompat menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ruru berlarian tak tentu arah. Ibunya menangis semakin kencang. Semua panik. Hanya ayah Cici yang tetap tenang berdoa di dalam hatinya memohon keselamatan Cici pada Tuhan.


Tar!! Balon terakhir meletus. Cici terjun bebas jatuh menuju daratan.

“Aaaaaaaaaa!!!!!!” Cici berteriak kencang ketakutan.

“Ciciiiiiiii!!” Orangtua dan teman-temannya berteriak khawatir memanggil Cici.


Wuuuuuuzzzzz!

Seekor elang coklat menyambar tubuh Cici, membawanya meliuk-liuk ke angkasa. Cici terdiam berhenti menangis. Elang coklat terbang kesana kemari, meninggi menurun, membawa Cici berputar-putar ke angkasa. Cici yang semula terdiam sedikit mengembangkan senyumnya. Tanpa disadarinya Cici mulai merentangkan kaki depannya seolah-olah dia mempunyai sayap, sedangkan kaki belakangnya mencengkeram badan elang coklat erat. Cici tertawa riang ketika elang coklat kembali meliuk-liukkan badannya, bersalto di angkasa.

“Aku terbang. Aku terbang. Ayah, ibu, teman-teman aku terbaaaanngg!!” Cici berteriak kencang ke arah orangtua dan teman-temannya. Orang tua dan teman-temannya ikut senang melihat Cici senang, dihapusnya perasaan takut dan cemas akan kehilangan Cici tergantikan oleh perasaan lega.

Hap! Elang coklat menukik cepat dan mendarat tepat di depan orangtua Cici dan teman-temannya, menurunkan Cici seraya tersenyum.

“Bagaimana? Kamu sudah bisa terbang, ‘kan?” tanya elang coklat pada Cici.

Cici mengangguk cepat.

“Terima kasih, kak El, kalau tidak ada kak El mungkin Cici sudah mati,” jawab Cici seraya memeluk kak El.

“Aku kemarin siang tidak sengaja mendengar obrolan kalian. Aku mendengar kalau Cici ingin terbang meraih awan dan aku tahu Cici tidak mempunyai sayap. Jadi aku mengawasi Cici dari kejauhan saat Cici mulai terbang dengan seratus balon.” Kak El menjelaskan.

Orangtua Cici mendekati kak El.

“Terima kasih, kak El, terima kasih sudah menolong Cici,” sahut Ibu Cici seraya tersenyum. Ayah Cici menyalami kak El dan mengucapkan terima kasih.

“Ayah, Ibu, Momo, Bubu, dan Ruru, terima kasih sudah membantu Cici untuk bisa terbang. Cici tahu kalau Cici tidak mempunyai sayap untuk terbang. Tapi sebenarnya Cici hanya ingin mencoba untuk terbang sebelum Cici jadi pilot kalau besar nanti. Maaf sudah merepotkan,” kata Cici tertunduk.

Ayah dan ibu Cici tersenyum melihat Cici yang tertunduk.

“Tidak apa-apa, Cici, yang penting kamu sudah mencobanya. Dan Cici sudah tahu, kan, dimana letak kekurangan Cici?” Ayah memegang pundak Cici dan tersenyum.

Cici mengangguk.

“Cici tidak punya sayap, Yah,” jawabnya tegas seraya mengangkat kepalanya memandang ayahnya.

“Cici, Tuhan itu Maha Adil, Tuhan tidak akan membiarkan Cici dalam keadaan kekurangan. Buktinya Cici bisa melompat, kan? Tuhan menciptakan bermacam-macam jenis hewan sesuai dengan kemampuan dan kelebihannya, Cici, semua itu semata-mata supaya kita bersyukur kepada Tuhan karena telah menciptakan kita. Kalaupun kita diciptakan dalam keadaan kekurangan, pasti Tuhan memberikan kita kelebihan yang lain karena Tuhan itu... ”

“Maha Adil, ya, kan, Yah?” Cici menyahut cepat diikuti tawa orangtuanya, teman-temannya, dan kak El.

Momo, Ruru, dan Bubu mendekati Cici dan memeluknya.

“Sudahlah Cici,tak apa-apa, ‘kan kita teman. Bukankah teman harus saling membantu?” sahut Momo disambut anggukan dan senyuman teman-temannya, mereka pun berpelukan.
Post a Comment