Skip to main content

Cici Ingin Terbang

Di tengah hutan yang tenang dan damai tinggallah keluarga kelinci. Keluarga kelinci terdiri dari ayah, ibu, dan satu anak kelinci putih kecil. Pada suatu siang anak kelinci putih kecil bermain bersama teman-temannya di dekat danau yang jernih, mereka menyebutnya Danau Pelangi. Danau Pelangi merupakan danau yang jernih dan jika selepas hujan akan memantulkan warna-warna pelangi, sehingga mereka menyebutnya danau pelangi.

Anak kelinci putih kecil bernama Cici sedang bermain dengan Momo si monyet kecil, Ruru si anak rusa dan Bubu si burung pipit kecil. Mereka tengah bermain petak umpet. Sampai suatu saat Momo mengeluh capek, “Sudah, ah, teman-teman, aku capek sekali. Haus,” sahutnya kecapekan sambil bersandar di pohon papirus.

Cici yang masih semangat dan belum capek cemberut seketika.

“Yaaah, Momo, aku kan masih ingin bermain, kok sudah capek, sih?” tanyanya cemberut. Momo diam seraya mengipas-ngipaskan dedaunan kering yang ada di dekatnya, berharap dedaunan yang tengah dikipaskannya bisa membantu menghilangkan keringatnya. Ruru dan Bubu duduk mendekati Cici dan Momo.

“Ya sudah, besok kita main lagi,” ucap Ruru menengahi seraya mengisi botol minumnya dengan air danau dan memberikan kepada teman-temannya setelah meneguknya. Bubu menyesap air langsung dari danau, lebih enak katanya.

Cici berdiri tiba-tiba.

“Aku ingin bisa terbang,” ucapnya.

Momo yang tengah minum tersedak.

“Terbang? Jangan bercanda, Ci. Kamu tidak punya sayap seperti Bubu, kamu tidak akan bisa terbang,” jawab Momo.

Bubu terbang mendekati Cici.

“Kamu ingin terbang? Kenapa? Bukankah di daratan seperti ini lebih enak?” tanya Bubu.

“Iya, Ci, bukankah lebih enak seperti sekarang ini? Kamu bisa melompat-lompat riang, kamu bisa berlomba melompat dengan katak, kangguru...”

Belum selesai Ruru bicara Cici menyela cepat, “Tapi aku ingin terbang. Aku ingin memegang awan,” sahutnya sambil menatap awan dengan mata berbinar. Momo, Bubu, dan Ruru menghela napas panjang bersamaan. Mereka tahu itu tidak mungkin untuk dilakukan Cici. Namun mereka juga tahu, jika Cici adalah pekerja keras dan berkemauan kuat, jadi bukan tidak mungkin apa yang mereka sarankan tidak didengarkan oleh Cici.

Esoknya, Cici pergi ke pasar ditemani ketiga sahabatnya membeli seratus balon. Cici mencoba dengan seratus balon untuk bisa terbang. Di dalam balon berisi gas karbon, yang jika balon dilepas akan terbang ke angkasa. Sesampai di bukit, Cici dibantu ketiga temannya mengikat seratus balon di seluruh badan Cici. Cici jadi tampak kecil sekali tertutupi oleh banyaknya balon. Orangtua Cici menatap Cici cemas, berulangkali mereka mengingatkan, namun tidak pernah didengar oleh Cici.

“Nak, kalau kamu jatuh nanti gimana, Nak?” tanya ibunya seraya mengusap air di pelupuk matanya. Ayah memeluk menenangkan ibu. Cici berbalik tersenyum melihat satu persatu temannya bergantian dan melompat mendekati orangtuanya, dia tidak bisa memeluk karena badannya penuh dengan ikatan balon. Sesaat kemudian, Cici melompat dari bukit, dan seratus balon mengangkat tinggi tubuhnya yang mungil.

“Horeee, aku terbang, aku terbang!!” Cici berteriak senang ketika dirinya berhasil terbang ke angkasa. Namun, sesaat kemudian satu persatu balon mulai meletus, Cici kehilangan keseimbangan. Dia takut jatuh seperti yang ditakutkan ibunya. Cici panik ketika balon yang meletus makin banyak.

“Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku takut jatuh,” ratapnya mulai menangis. Orangtua dan teman-temannya yang melihat balon-balon Cici meletus juga ikut cemas. Mereka takut Cici jatuh. Bubu terbang kesana kemari menandakan dia sedang panik. Momo melompat-lompat menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ruru berlarian tak tentu arah. Ibunya menangis semakin kencang. Semua panik. Hanya ayah Cici yang tetap tenang berdoa di dalam hatinya memohon keselamatan Cici pada Tuhan.


Tar!! Balon terakhir meletus. Cici terjun bebas jatuh menuju daratan.

“Aaaaaaaaaa!!!!!!” Cici berteriak kencang ketakutan.

“Ciciiiiiiii!!” Orangtua dan teman-temannya berteriak khawatir memanggil Cici.


Wuuuuuuzzzzz!

Seekor elang coklat menyambar tubuh Cici, membawanya meliuk-liuk ke angkasa. Cici terdiam berhenti menangis. Elang coklat terbang kesana kemari, meninggi menurun, membawa Cici berputar-putar ke angkasa. Cici yang semula terdiam sedikit mengembangkan senyumnya. Tanpa disadarinya Cici mulai merentangkan kaki depannya seolah-olah dia mempunyai sayap, sedangkan kaki belakangnya mencengkeram badan elang coklat erat. Cici tertawa riang ketika elang coklat kembali meliuk-liukkan badannya, bersalto di angkasa.

“Aku terbang. Aku terbang. Ayah, ibu, teman-teman aku terbaaaanngg!!” Cici berteriak kencang ke arah orangtua dan teman-temannya. Orang tua dan teman-temannya ikut senang melihat Cici senang, dihapusnya perasaan takut dan cemas akan kehilangan Cici tergantikan oleh perasaan lega.

Hap! Elang coklat menukik cepat dan mendarat tepat di depan orangtua Cici dan teman-temannya, menurunkan Cici seraya tersenyum.

“Bagaimana? Kamu sudah bisa terbang, ‘kan?” tanya elang coklat pada Cici.

Cici mengangguk cepat.

“Terima kasih, kak El, kalau tidak ada kak El mungkin Cici sudah mati,” jawab Cici seraya memeluk kak El.

“Aku kemarin siang tidak sengaja mendengar obrolan kalian. Aku mendengar kalau Cici ingin terbang meraih awan dan aku tahu Cici tidak mempunyai sayap. Jadi aku mengawasi Cici dari kejauhan saat Cici mulai terbang dengan seratus balon.” Kak El menjelaskan.

Orangtua Cici mendekati kak El.

“Terima kasih, kak El, terima kasih sudah menolong Cici,” sahut Ibu Cici seraya tersenyum. Ayah Cici menyalami kak El dan mengucapkan terima kasih.

“Ayah, Ibu, Momo, Bubu, dan Ruru, terima kasih sudah membantu Cici untuk bisa terbang. Cici tahu kalau Cici tidak mempunyai sayap untuk terbang. Tapi sebenarnya Cici hanya ingin mencoba untuk terbang sebelum Cici jadi pilot kalau besar nanti. Maaf sudah merepotkan,” kata Cici tertunduk.

Ayah dan ibu Cici tersenyum melihat Cici yang tertunduk.

“Tidak apa-apa, Cici, yang penting kamu sudah mencobanya. Dan Cici sudah tahu, kan, dimana letak kekurangan Cici?” Ayah memegang pundak Cici dan tersenyum.

Cici mengangguk.

“Cici tidak punya sayap, Yah,” jawabnya tegas seraya mengangkat kepalanya memandang ayahnya.

“Cici, Tuhan itu Maha Adil, Tuhan tidak akan membiarkan Cici dalam keadaan kekurangan. Buktinya Cici bisa melompat, kan? Tuhan menciptakan bermacam-macam jenis hewan sesuai dengan kemampuan dan kelebihannya, Cici, semua itu semata-mata supaya kita bersyukur kepada Tuhan karena telah menciptakan kita. Kalaupun kita diciptakan dalam keadaan kekurangan, pasti Tuhan memberikan kita kelebihan yang lain karena Tuhan itu... ”

“Maha Adil, ya, kan, Yah?” Cici menyahut cepat diikuti tawa orangtuanya, teman-temannya, dan kak El.

Momo, Ruru, dan Bubu mendekati Cici dan memeluknya.

“Sudahlah Cici,tak apa-apa, ‘kan kita teman. Bukankah teman harus saling membantu?” sahut Momo disambut anggukan dan senyuman teman-temannya, mereka pun berpelukan.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…