Tuesday, April 3, 2012

#FF tak lengkap

Secangkir kopi panas mengepul di meja makan beriringan dengan suara derap langkah terburu wanita paruh baya yang kupanggil ibu. Pagi itu seperti pagi sebelumnya, pagi dengan secangkir kopi panas dengan sepiring pisang goreng panas disajikan langsung dari penggorengan. Aku menyebutnya ibu, ketika kami masih asik dengan mimpi-mimpi yang tak jarang indah, ia telah duduk bersimpuh menghadap Sang Khaliq meminta ini-itu untuk kami. Ya, aku menyebutnya ibu, wanita paruh baya yang wajahnya mulai menunjukkan guratan-guratan halus tanda kulitnya tak lagi kencang.

"Yudaaa!!" Ibu berteriak kencang dari lantai bawah membangunkan kakakku yang masih berasyik-masyuk dengan mimpinya. Jam sudah menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit, tapi seperti yang lalu-lalu, kakakku masih tidur dengan anteng seolah dunia juga sedang tertidur menemani.

Sementara itu, aku tengah berkemas memberesi peralatan sekolah yang akan dibawa adikku yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Seperti pagi yang sudah-sudah, aku membangunkannya, memandikan, memakaikan seragam, menyuapi, lalu mengantarkannya hingga sampai di tempat duduknya di sekolah. Iya, adikku terlahir autis, ia tak bisa melakukan segala hal sendiri. Ia pun kini duduk di bangku kelas 1 di Sekolah Dasar dengan sistem Montessory. Aku paham, terlebih ibuku, sungguh besar sekali hatinya menerima keadaan adikku yang satu ini. Mungkin memang seperti ini jalan yang digariskan Tuhan untuk menguji kesabaran keluarga kami.

"Ratna, sepulang mengantar adik jangan lupa cek kamar kakak, pastikan dia sudah bangun. Oh iya, bekal makanan Arimbi ada di meja makan. Ibu mandi dulu." Ibu berteriak dari bagian belakang rumah seraya menarik handuk yang tersampir di jemuran ketika aku sekilas melihatnya. Multitasking. Seperti biasa, setiap pagi selalu heboh.

Aku bergegas mengambil bekal makan Arimbi, adikku, dan memasukkannya ke dalam tas jinjing tempat bekal makanan. Secepat kilat aku meraih helm dan jaket untuk segera mengantarkannya sebelum dia banyak berulah lagi. Oke, aku memang paham dengan keadaannya, tapi entah mengapa kadang aku tak rela memiliki adik seperti dirinya. Aku menyebutnya, malu mengakui. Sadis memang.
**
Aku meletakkan helm di tempatnya dan membuka resleting jaket seraya berjalan menuju meja makan. Kuhampiri secangkir kopi untuk kakakku tadi sambil mencomot satu pisang goreng yang tak lagi hangat. Mataku mencari-cari sesuatu yang aku tak tahu itu apa, sementara tanganku memegang cangkir kopi. Dingin.

Dengan mulut masih mengunyah pisang goreng, aku berlari menuju kamar kakakku dan mendapati dirinya tak ada di kamarnya. Astaga, ada rasa mendidih di kepalaku. Langkahku gusar mencari-cari sosoknya. Kemana dirinya? Setengah berlari menuruni anak-anak tangga dengan sedikit rasa cemas dan terburu-buru aku mengaitkan peniti di jilbab coklatku. Meneliti bagian-bagian rumah, hatiku semakin runyam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Tidak! Gusti... Setetes air mataku tumpah. Langkahku semakin cepat berjalan menyusuri jalanan di luar rumah. Nihil.

Seperti kesetanan, aku berlari tak tentu arah mencari sosok kakakku satu-satunya. Dengan mulut komat-kamit, berdoa agar tidak terulang kembali kejadian yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Dzikir, sholawat, seolah tak pernah lepas dari mulutku. Kakiku gemetar kecapekan tak peduli dengan kerikil-kerikil tajam yang sempat mampir di telapak kakiku. Aku baru menyadari bahwa aku lupa memasang sandal sepeninggalku dari rumah. Tak apa, demi kakakku, batinku berteriak.

Pias. Aku berhenti di perempatan jalan mendapati sosok yang sangat kukenal sehari-harinya. Kakakku di antara banyak orang. Tangan dan kakinya terikat pada jalinan bambu. Kejadian itu terulang kembali, ia dipasung. Aku menjerit tak rela. Bulir mataku semakin deras, memohon pada sekeliling untuk melepaskannya. Aku menangis di depan pasungan kakakku. Kematian ayah membuat jiwa dan mentalnya terganggu. Tak ada yang tidak merasakan trauma semenjak kematian ayah yang tubuhnya ditemukan terpotong-potong. Ibu menjadi pendiam di hadapan banyak orang, kakak menderita schizophrenia. Begitu pun aku. Pita suaraku pecah, akibat terlalu kencangnya jeritanku tatkala melihat kenyataan yang terpapar jelas di hadapan kami. Aku bisu permanen. Sementara adikku, ia autis sejak lahir. Aku tak pernah tahu, apakah ada kaitannya antara mental ibu yang down ketika ayah meninggal dengan bayi yang ada di kandungannya. Keluargaku...
Post a Comment