Skip to main content

#FF tak lengkap

Secangkir kopi panas mengepul di meja makan beriringan dengan suara derap langkah terburu wanita paruh baya yang kupanggil ibu. Pagi itu seperti pagi sebelumnya, pagi dengan secangkir kopi panas dengan sepiring pisang goreng panas disajikan langsung dari penggorengan. Aku menyebutnya ibu, ketika kami masih asik dengan mimpi-mimpi yang tak jarang indah, ia telah duduk bersimpuh menghadap Sang Khaliq meminta ini-itu untuk kami. Ya, aku menyebutnya ibu, wanita paruh baya yang wajahnya mulai menunjukkan guratan-guratan halus tanda kulitnya tak lagi kencang.

"Yudaaa!!" Ibu berteriak kencang dari lantai bawah membangunkan kakakku yang masih berasyik-masyuk dengan mimpinya. Jam sudah menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit, tapi seperti yang lalu-lalu, kakakku masih tidur dengan anteng seolah dunia juga sedang tertidur menemani.

Sementara itu, aku tengah berkemas memberesi peralatan sekolah yang akan dibawa adikku yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Seperti pagi yang sudah-sudah, aku membangunkannya, memandikan, memakaikan seragam, menyuapi, lalu mengantarkannya hingga sampai di tempat duduknya di sekolah. Iya, adikku terlahir autis, ia tak bisa melakukan segala hal sendiri. Ia pun kini duduk di bangku kelas 1 di Sekolah Dasar dengan sistem Montessory. Aku paham, terlebih ibuku, sungguh besar sekali hatinya menerima keadaan adikku yang satu ini. Mungkin memang seperti ini jalan yang digariskan Tuhan untuk menguji kesabaran keluarga kami.

"Ratna, sepulang mengantar adik jangan lupa cek kamar kakak, pastikan dia sudah bangun. Oh iya, bekal makanan Arimbi ada di meja makan. Ibu mandi dulu." Ibu berteriak dari bagian belakang rumah seraya menarik handuk yang tersampir di jemuran ketika aku sekilas melihatnya. Multitasking. Seperti biasa, setiap pagi selalu heboh.

Aku bergegas mengambil bekal makan Arimbi, adikku, dan memasukkannya ke dalam tas jinjing tempat bekal makanan. Secepat kilat aku meraih helm dan jaket untuk segera mengantarkannya sebelum dia banyak berulah lagi. Oke, aku memang paham dengan keadaannya, tapi entah mengapa kadang aku tak rela memiliki adik seperti dirinya. Aku menyebutnya, malu mengakui. Sadis memang.
**
Aku meletakkan helm di tempatnya dan membuka resleting jaket seraya berjalan menuju meja makan. Kuhampiri secangkir kopi untuk kakakku tadi sambil mencomot satu pisang goreng yang tak lagi hangat. Mataku mencari-cari sesuatu yang aku tak tahu itu apa, sementara tanganku memegang cangkir kopi. Dingin.

Dengan mulut masih mengunyah pisang goreng, aku berlari menuju kamar kakakku dan mendapati dirinya tak ada di kamarnya. Astaga, ada rasa mendidih di kepalaku. Langkahku gusar mencari-cari sosoknya. Kemana dirinya? Setengah berlari menuruni anak-anak tangga dengan sedikit rasa cemas dan terburu-buru aku mengaitkan peniti di jilbab coklatku. Meneliti bagian-bagian rumah, hatiku semakin runyam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Tidak! Gusti... Setetes air mataku tumpah. Langkahku semakin cepat berjalan menyusuri jalanan di luar rumah. Nihil.

Seperti kesetanan, aku berlari tak tentu arah mencari sosok kakakku satu-satunya. Dengan mulut komat-kamit, berdoa agar tidak terulang kembali kejadian yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Dzikir, sholawat, seolah tak pernah lepas dari mulutku. Kakiku gemetar kecapekan tak peduli dengan kerikil-kerikil tajam yang sempat mampir di telapak kakiku. Aku baru menyadari bahwa aku lupa memasang sandal sepeninggalku dari rumah. Tak apa, demi kakakku, batinku berteriak.

Pias. Aku berhenti di perempatan jalan mendapati sosok yang sangat kukenal sehari-harinya. Kakakku di antara banyak orang. Tangan dan kakinya terikat pada jalinan bambu. Kejadian itu terulang kembali, ia dipasung. Aku menjerit tak rela. Bulir mataku semakin deras, memohon pada sekeliling untuk melepaskannya. Aku menangis di depan pasungan kakakku. Kematian ayah membuat jiwa dan mentalnya terganggu. Tak ada yang tidak merasakan trauma semenjak kematian ayah yang tubuhnya ditemukan terpotong-potong. Ibu menjadi pendiam di hadapan banyak orang, kakak menderita schizophrenia. Begitu pun aku. Pita suaraku pecah, akibat terlalu kencangnya jeritanku tatkala melihat kenyataan yang terpapar jelas di hadapan kami. Aku bisu permanen. Sementara adikku, ia autis sejak lahir. Aku tak pernah tahu, apakah ada kaitannya antara mental ibu yang down ketika ayah meninggal dengan bayi yang ada di kandungannya. Keluargaku...

Comments

Anonymous said…
wieeeeh...akhirnya haru...:'(
Atiqoh Hasan said…
gak sampe nangis kan? :p
zadika said…
Mhmmm... seperti ada elemen yang hilang dalam cerita ini.
Konsepnya bagus, tapi kurang tertata antara konflik yang ingin dibangun.
Satu lagi, biasakan menggunakan huruf miring untuk kalimat asing.

^^b

as_3d
Atiqoh Hasan said…
makasih masukannya mbak @TanteHijau :D
haha, iya, itu kelupaan ngitalic :))
ceritanya ajiib,,,terus berkarya!

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…