Skip to main content

#opini UN?

UN atau biasa disebut Ujian Nasional. Sekilas tak ada yang istimewa dari kalimat tersebut. Tapi, coba tengoklah seberapa istimewa 'substansi' dari UN itu sendiri. Memang, UN yang dulunya disebut EBTANAS, UNAS, UAN, dan kini UN ini seringkali dinilai merisaukan mental para murid sekolah tingkat akhir di masing-masing jenjang pendidikan. Tapi, apakah itu layak disebut sebagai tolok ukur keberhasilan suatu bangsa dalam hal pendidikan?
Tidak. Tentu saja itu bukanlah tolok ukur murni suatu bangsa dalam dunia pendidikan. Jika diperkenankan berpendapat, saya tidak setuju dengan pemberlakuan UN yang terkesan berlebihan dan memberikan kesan momok bagi siswa itu sendiri.

1. Pembelajaran selama enam tahun pada tingkat SD dan masing-masing tiga tahun pada tingkat SMP-SMA tidaklah perlu dibuat mendramatisir dengan nilai ujian yang hanya dilakukan selama tiga sampai empat hari saja melihat waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan selama tiga tahun tersebut tidaklah mudah. Menurut saya, di dalam UN, selain faktor kepintaran, faktor lucky sangatlah menentukan dan berpengaruh. Lihat saja, mereka yang bisa dikatakan pandai ternyata mendapatkan nilai UN rendah begitu sebaliknya. Tidak cukup adil jika melihat perjalanan mereka yang tidak mudah dalam proses pembelajaran kemudian ditentukan hanya dalam waktu tiga-empat hari. Meskipun, UN yang dilaksanakan tahun ini (2011/2012) terdapat nilai katrolan yang cukup besar, yakni 40:60. Dimana prosentase 40 didapatkan dari nilai rapor selama tiga tahun berturut-turut, sedangkan prosentase 60 didapat dari nilai UN. Pertanyaannya, lalu apakah benar nilai prosentase 40 tersebut murni? Tentunya, jika terdapat peran serta sekolah dalam meluluskan siswanya dengan pengkatrolan nilai ini, bukan tidak mungkin hal-hal licik lain akan terjadi. Misalnya saja, sekolah X yang merasa muridnya kurang pandai mengubah nilai rapor dengan memberikan rapor baru hanya demi meluluskan siswa dan menaikkan popularitas sekolah itu sendiri. Kualitas alumninya? Jangan ditanyakan.

2. Hanya di Indonesia, pengawalan materi soal UN dijaga ketat bahkan sampai melibatkan personel dari pihak kepolisian hanya karena takut terjadi kebocoran soal dan jawaban. Apakah memang perlu sebegitu berlebihannya? Sebenarnya, rasa takut adalah rasa yang timbul pada sesuatu yang belum tentu terjadi. Lalu, jika sudah diantisipasi seperti itu, secara otomatis akan menimbulkan "ketakutan" tersendiri pada pihak berwajib yang akibatnya mereka para joki akan lebih leluasa untuk memanfaatkan momen "penuh berkah" ini.

Dari dua hal besar tersebut, saya menyimpulkan, sebenarnya kelulusan pada jenjang sekolah itu janganlah terlalu berlebih-lebihan. Jika ingin murni dan menjaga kualitas siswa, tengoklah Perguruan Tinggi (PT). Mereka mengadakan UTS-UAS dengan dijaga pengajarnya sendiri. Tak hanya berhenti sampai di sana, PT menggunakan sistem kelulusan yang dikenal dengan Tugas Akhir (TA) atau skripsi yang sangat jelas bahwa mahasiswanya akan mengerjakan dan melakukan itu sendiri, walaupun, masih banyak oknum-oknum yang membantu dalam penulisan TA itu sendiri. Tapi, ujian mental yang sebenarnya adalah terletak pada bagaimana mahasiswa mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka gagas dan tulis. Dan, itu cukup jitu dalam "mempermainkan" mental mahasiswa. Jika saja sekolah "berani" membuat aturan serupa dengan PT, saya rasa tingkat kecurangan akan bisa diminimalisir, meski tidak menutup kemungkinan kecurangan itu masih akan tetap ada.

Saya mencontohkan PT bukan berarti saya membela PT, karena saya tahu sendiri bahwa tidak semua PT murni memberlakukan sistem UTS-UAS yang dijaga ketat oleh pengajar mata kuliah yang bersangkutan sehingga mahasiswa sulit untuk menjiplak jawaban temannya. Atau sistem TA/ skripsi yang jujur saja, tak hanya PTS-PTN "kacangan" yang mahasiswanya dapat "membeli" judul TA/ skripsi melalui perusahaan-perusahaan penjual jasa penulisan skripsi, tesis, dan karya ilmiah. Beberapa mahasiswa PTN "terkenal" juga kerap kali menggunakan jasa tersebut, meski angka yang ditunjukkan tidaklah sefantastis sebelumnya.

Melihat dunia pendidikan rasanya banyak sekali hal-hal yang dapat dikecoh dan dibelokkan oleh masyarakat kita secara tidak langsung. Pertanyaan yang bisa dijawab oleh masing-masing diri kita, apakah hal tersebut menunjukkan tingkat kreatifitas bangsa kita?

Comments

masjek said…
hal demikian sudah saya pertanyakan lebih dari 8 tahun silam ketika masih duduk di bangku SMK (STM), saya ini anak eletronika STM tapi kenapa syarat kelulusan berdasarkan 5 mata pelajaran yang beberapa di antaranya tidak ada sangkut pautnya dengan jurusan yang saya ambil? Seharusnya untuk SMK yang diberlakukan adalah uji kompetensi, memang ada uji kompetensi tapi itu hanya pelengkap saja, bukan syarat utama, ah aneh.
Atiqoh Hasan said…
bukankah negara kita memang demikian? :indonesia:

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…