Tuesday, May 8, 2012

#FF di akhir penantian

Aku baru saja membereskan berkas pekerjaan yang selalu membuatku separuh gila jika mendekati deadline ketika aku melihat jarum jam di mejaku menunjuk angka tiga tepat. Artinya, aku sukses lembur lebih dari sepuluh jam jika dihitung dari sepulangku kerja sore kemarin. Aku mendesah pelan, kepala pusing ditambah rasa kantuk yang kian menjadi. Gerakku semakin cepat begitu hitungan pada uapanku mencapai angka sepuluh. Ah, damn, sepet banget!

Di depan gerbang, lima menit please :)

Sebuah pesan pendek mampir di ponselku, ada namanya tertera di sana. Pukul tiga pagi dan ia ada di depan gerbang kosan? What the heck! apa maunya? pikirku seraya memasang jilbab dan mengintip sebentar melalui celah jendela. Benar saja, ia tak main-main rupanya. Aku kembali mendesah, bersandar sebentar pada balik pintu, menenangkan perasaan yang berkecamuk. Setelah cukup, aku membuka pintu perlahan, berjalan menemuinya.

"Ada apa?" tanyaku ketika sampai di pagar seraya merapatkan jaket dengan tanganku, menghalau udara menelusup masuk melewati celah poriku.

Ia tersenyum. Jika aku tak munafik, ada ketulusan disana. Di senyum yang selalu memberikan ketenangan pada hariku.

"Belum tidur? atau mau tidur?" ia bertanya kalem dengan senyum masih merekah.

Aku mengangguk, "Baru mau."

"Syukurlah, masih keburu." helaan napasnya terdengar lega. Semenit kemudian tangannya menyodorkan sebuah bingkisan berbalut tas kain. Sembari tersenyum, ia berujar, "terimalah, sujudlah pada-Nya yang telah memberimu hidup, bersyukurlah atas apa yang telah kau capai hingga seperempat malam ini, bertakbirlah atas segala kuasa-Nya. Jangan lupa istighfar, semoga Allah senantiasa menghapuskan segala khilaf."

Aku ternganga, berdiri terpaku memandangnya. Seolah tak percaya dengan apa yang baru kudengar, "Apa?" tanyaku parau.

"Setelah tahajud, tidur sebentar saja, baru subuhan. Pukul tujuh tepat nanti kujemput."

Masih tak mengerti dengan sikapnya, aku hanya bisa mengangguk dan menerima bungkusan yang ia beri. Sesaat aku tersadar, akhirnya kutanyakan alasan di balik langkahnya, "Ada apa ini?"

Ia tersenyum santun seraya mengangguk, "Aku telah menemukan jawaban atas sujudku di malam-malam panjang. Nanti, pukul tujuh, kujemput kamu lalu kuantar menghadap orang tuamu." sahutnya lugas.

Seolah tersengat lebah, langkahku goyah, aku tak kuasa menahan haru. Kalimat itu akhirnya meluncur dari seorang yang telah lama kukagumi. Sejak belasan tahun lalu. Guruku.
Post a Comment