Skip to main content

#FF di akhir penantian

Aku baru saja membereskan berkas pekerjaan yang selalu membuatku separuh gila jika mendekati deadline ketika aku melihat jarum jam di mejaku menunjuk angka tiga tepat. Artinya, aku sukses lembur lebih dari sepuluh jam jika dihitung dari sepulangku kerja sore kemarin. Aku mendesah pelan, kepala pusing ditambah rasa kantuk yang kian menjadi. Gerakku semakin cepat begitu hitungan pada uapanku mencapai angka sepuluh. Ah, damn, sepet banget!

Di depan gerbang, lima menit please :)

Sebuah pesan pendek mampir di ponselku, ada namanya tertera di sana. Pukul tiga pagi dan ia ada di depan gerbang kosan? What the heck! apa maunya? pikirku seraya memasang jilbab dan mengintip sebentar melalui celah jendela. Benar saja, ia tak main-main rupanya. Aku kembali mendesah, bersandar sebentar pada balik pintu, menenangkan perasaan yang berkecamuk. Setelah cukup, aku membuka pintu perlahan, berjalan menemuinya.

"Ada apa?" tanyaku ketika sampai di pagar seraya merapatkan jaket dengan tanganku, menghalau udara menelusup masuk melewati celah poriku.

Ia tersenyum. Jika aku tak munafik, ada ketulusan disana. Di senyum yang selalu memberikan ketenangan pada hariku.

"Belum tidur? atau mau tidur?" ia bertanya kalem dengan senyum masih merekah.

Aku mengangguk, "Baru mau."

"Syukurlah, masih keburu." helaan napasnya terdengar lega. Semenit kemudian tangannya menyodorkan sebuah bingkisan berbalut tas kain. Sembari tersenyum, ia berujar, "terimalah, sujudlah pada-Nya yang telah memberimu hidup, bersyukurlah atas apa yang telah kau capai hingga seperempat malam ini, bertakbirlah atas segala kuasa-Nya. Jangan lupa istighfar, semoga Allah senantiasa menghapuskan segala khilaf."

Aku ternganga, berdiri terpaku memandangnya. Seolah tak percaya dengan apa yang baru kudengar, "Apa?" tanyaku parau.

"Setelah tahajud, tidur sebentar saja, baru subuhan. Pukul tujuh tepat nanti kujemput."

Masih tak mengerti dengan sikapnya, aku hanya bisa mengangguk dan menerima bungkusan yang ia beri. Sesaat aku tersadar, akhirnya kutanyakan alasan di balik langkahnya, "Ada apa ini?"

Ia tersenyum santun seraya mengangguk, "Aku telah menemukan jawaban atas sujudku di malam-malam panjang. Nanti, pukul tujuh, kujemput kamu lalu kuantar menghadap orang tuamu." sahutnya lugas.

Seolah tersengat lebah, langkahku goyah, aku tak kuasa menahan haru. Kalimat itu akhirnya meluncur dari seorang yang telah lama kukagumi. Sejak belasan tahun lalu. Guruku.

Comments

liez said…
mau dikhitbah nanti pukul 7 gitu maksudnya tik? :D
*melting*
Atiqoh Hasan said…
kenape --beb-- mon?
rizkianto said…
meleleh terbakar api --cinta-- (lol)
banx said…
inspiratif banget ceritanya,andai aja bisa kaya gitu..!
Aianamie said…
*melting*

*telat*
Atiqoh Hasan said…
kalau mau, ya bisa kok :p
Atiqoh Hasan said…
melting apa pengen? :p
iLLa said…
wikkk.. dilamar guru sendiri? Awww..
Atiqoh Hasan said…
mau apa pengen? :p

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…