Sunday, May 27, 2012

#opini Aturan main di dunia maya

Judul tulisan tersebut mengingatkan saya pada teman yang menuliskan komentarnya mengenai hal persis  yang akan saya beberkan berikut ini. Mengenai aturan main di dunia maya. Isi postingan berikut hampir sama halnya dengan pre-novel saya yang tinggal menghitung hari tuntas dan semoga diterima di sisi sang editor, amin *istighotsah :p*

Saya mengenal dunia maya barangkali sejak SD kelas 6, saat itu saya hanya menggunakan fasilitas MIRC dan memang hanya sebatas itu kemampuan saya ndeso pek. Beranjak SMA, saya mulai mengenal friendster. Bisa dikatakan saat itu saya addict banget sama fs ini. Lalu beranjak pada blogfacebook, twitter, plurk, buku cinta dan masih banyak lagi *lupa kebanyakan akun soalnya :p* awal mengenal aneka rupa sosial media ini saya gak pernah punya pikiran untuk beramah tamah, bersopan santun, dan menjaga sikap. Saya berpikir bahwa dunia maya hanyalah semu, gak nyata dan oke saja jika kita mau marah-marah, mengutuk siapapun, dan whatever you did. Toh, itu kan akun milik saya pribadi.

Lambat laun, seiring usia bertambah, bertepatan dengan saya membaca postingan teman dekat yang mengatakan bahwa dunia maya juga mempunyai aturan karena kita gak main-main sendiri di dunia maya tersebut. Iya, pikiran saya waktu itu setuju sekali. Memang benar, di dunia maya kita gak bermain-main sendiri, ada teman, saudara, relasi, dan guru bahkan. Kurang lebih setahun lalu saya membaca postingan tersebut dan sukses mempengaruhi pikiran saya. Saya sering kali berpikir dulu kalau mau sekedar bercuap-cuap meski pada kenyataannya, sangat amat susah dijalankan. Terbukti, terhitung beberapa bulan, minggu, atau bahkan hari yang lalu saya masih ngomel-ngomel di dunia maya. Padahal, saya juga tau dan mikir, emangnya dunia maya bisa apa? bisa nuntasin masalah kita? bisa nuntasin jengkelnya kita sama teman, saudara, orangtua, relasi, dan segala tetek bengek dunia nyata? enggak! 

Iya, dunia maya gak bakalan bisa nuntasin masalah kita kok kalau masalah kita dishare di sosmed tersebut. Tapi, kan ada teman-teman dunia maya dan nyata yang baca tweet, tret, status, atau apapun itu milik kita dan barangkali bisa bantu kita? Memang ada, dan gak sedikit dari mereka yang akan membantumu. Tapi, apa iya dengan begitu masalah kamu akan terselesaikan dengan baik? Masalah yang kita share itu gak jarang adalah aib kita sendiri kalau ini sih saya cukup sering juga mengumbarnya (okok). Bukankah itu sama aja cari perhatian ya?  serius, saya juga sering caper di dunia maya ntar bisa juga ujung-ujungnya jadi berantem kalau lagi ada masalah bareng teman yang juga punya sosmed. Duh, beneran gak enak berantem di dunia maya itu, guys. Diliatin banyak orang. Kebayang dong seberapa matangnya usia kita kalau kita berantem, sewot-sewotan di dunia nyata, eh ini di dunia maya yang memungkinkan banyak orang meski bukan teman kita buat negokin laman kita (okok).

Iya-iya, jadi mesti kudu gimana dong? kalau saya sih, serius lagi meminimalisir bentuk amarah saya yang biasa dan sering kelempar di muka umum via sosmed. Susah? banget! gimana enggak, wong saya biasa meluapkan isi hati di depan khalayak umum, ini malah ditahan. Demi kemaslahatan umat dan harga diri, dimulai dengan niat insyaallah bisa kok. Saya yakin itu. Untungnya, saya cukup sering nengokin blog sama laman profil idola saya. Di sana, meski dia jarang posting-tweeting tapi sekalinya ngepos selalu bikin saya manggut-manggut. Seperti halnya bagaimana cara kita mensyukuri tiap jengkal nikmat di tiap detik hidup kita. Dalam postingannya juga tersirat isi bahwa sebaiknya kita jangan mudah terpancing amarah, apalagi jika itu melalui postingan seseorang yang berujung unfollow, block, unfriend, dan teman-temannya. Menyenangkan mempunyai idola yang kita kenal dan selalu memberikan hal baik tanpa ada niatan menggurui *tipikal diri saya banget, suka diingatkan tapi gak menggurui :)*

Hal lain yang membuat saya berpikir adalah, memahami jika semisal saya melamar kerja entah di perusahaan manapun dan diharapkan mencantumkan laman profil apapun, saya percaya bahwa laman profil itu berpengaruh terhadap masa depan saya. Tak hanya itu, katakanlah ada seseorang yang tengah menarget saya untuk dijadikan pasangan, tapi berhubung saya menunjukkan gelagat dan tingkah yang kurang baik, bisa jadi kemungkinan terburuk itu akan terjadi. Iya, meski susah, saya akan terus berusaha untuk memperbaiki keseharian saya pada dunia maya-nyata.

Jadi, kalau saya boleh menarik kesimpulan, bijaklah bermain-main di dunia maya. Mereka mendekatkatkan yang jauh, tapi menjauhkan yang dekat. Percayalah bahwa tak ada yang menandingi teman-teman di dunia nyata, apapun itu bentuknya. Untuk itulah silakan kopdar! #eh :)).

Bukan saya menggurui, tapi saya mengingatkan diri saya untuk memperbaiki diri, biar gak mere-mere di lapak umum, kasian yang baca juga. So, saling mengingatkan ya :).
Post a Comment