Monday, June 11, 2012

#FF menanti lampu hijau

                                              

Malam ini adalah malam kedua ribu seratus sembilan puluh dua aku mengejarnya --lelaki berhandband putih dengan headset melekat erat di telinga-- yang tak kunjung teraih. Meski secara logika kadang aku merasa yakin akan tingkahku, tapi pada kenyataannya, meraihnya justru ibarat mengoyak lautan dengan jemari. Mustahil. Justru semakin dalam lukaku tertoreh, menganga tanpa ampun, mengucur deras, tanpa obat. 

Kau pernah tahu, kata orang, kejarlah cintamu hingga suatu waktu dia akan menggelepar tak berdaya lalu meraihmu? Itu kata orang. Bukan kataku. 

Kalau aku boleh berkata; iya, memang antara logika dan perasaan adalah seimbang. Tapi, coba kau lihat sejauh mana usahamu untuk mendapatkannya? Perasaan itu akan menyesuaikan logika jika pada akhirnya kenyataan memang tidak memungkinkan kalian untuk bersama. Sudah mentok kau mengejarnya? Sudah lelah kau ingin mendapatkannya? 

Ah, teori. Memang. Klise itu.

Aku tersenyum mendengarkan bisik-bisik celotehan di bilik-bilik hatiku. Di bawah jam gadang ini aku berdiri. Meramu kenangan yang menguap sekenaknya. Seperti itukah cinta? Berusaha sekuat tenaga lalu menyerah jika memang pada kenyataannya tidak mungkin?

"Hei, ngelamun apa, sih?" suara itu mengagetkanku. Lelaki berkulit coklat yang baru datang menghampiriku langsung berdiri di sisi kiri, mengambil gelas minum yang kugenggam, lalu meminumnya seteguk. Arya.

Ini adalah tempat favoritku. Di bawah jam gadang, pukul delapan malam. Biasanya aku kemari jika aku sedang dilanda sepi, rindu menyergap. Dan, Arya selalu bersamaku. Meski sesekali terlambat menemani, tapi itu bukan masalah besar. Karena justru akulah yang biasa terlambat.

Di bawah jam gadang ini aku biasa bercerita banyak dengannya. Bercengkrama tentang hidup, mimpi,  kesukaan sampai cinta. Posisi kami juga beragam, dari yang semula berdiri, berpangku pada pagar pembatas hingga duduk persis di bawah pagar jika memang sudah dirasa lelah.

Aku melempar senyum, sedikit saja, karena memang hatiku sedang muram, menghitung malam setiap malam.

Arya menjulurkan tangan, meraih kepalaku, mengusap-ngusapnya gemas. Percaya atau enggak, aku nyaman dengan tingkahnya. Namun, hanya sebatas nyaman. Nggak lebih.

"Kenapa, sih?" Arya kembali melempar tanya. Senyumnya dikembangkan separuh. Separuhnya lagi disimpan dalam bentuk penasaran. 

Rupanya ia tak puas dengan gelengan kepalaku yang menjawab seolah aku-baik-saja. Kepalaku diputar menghadapnya, kedua tangannya menempel pada pipiku.

"Kamu kenapa?"

Sungguh, aku tidak pernah tidak menangis jika sudah dalam keadaan seperti ini. Dipaksa bercerita dengan wajah yang di hadapkan padanya.

Sebutir embun menetes perlahan dari ujung mata coklatku, menyusul senggukan pelan. Aku menangis di depannya. Sedangkan Arya? tersenyum menenangkan. Selalu begitu. Melempar senyum menenangkan yang benar-benar selalu membuat separuh hatiku merasa tentram. Ah, bukankah sahabat memang harusnya seperti itu?

Aku menelan ludah perlahan, "Rendi." 

Lipatan dahi itu, aku paham sekali. Ekspresi yang selalu sama setiap aku menyebutkan nama Rendi di hadapannya.

"Istrinya hamil." lanjutku perlahan. Kepalaku menunduk, malu menatap Rendi yang melongo mendengar kalimatku.
***
"Istrinya hamil." 

Aku sukses melongo mendengar kalimat super pendek yang dilontarkan Zahra beberapa jam yang lalu tepat di bawah jam gadang, tempat favorit kami, pukul sembilan tepat tadi. Lah, bukankah itu kabar bagus? Setidaknya sebagai bukti bahwa Rendi nggak impotensi. Ah, bukan, maksudku, bukankah itu wajar bagi orang yang sudah menikah?

Bayangan Zahra kembali menyergap. Malam kesekian aku menahan luka, sendiri. Berperan sebagai tameng di atas kesedihannya. Tanpa ia tahu. Sama sekali ia tak pernah tahu. Atau ia tak mau tahu? Sedangkan ia? sibuk dengan masa lalu yang bahkan tak pernah menganggapnya ada. Lucu.

Iya, aku tahu, ia pernah mengatakan bahwa ia akan mengejar seseorang yang ia cintai sampai titik maksimal didih air. Tapi sampai kapan? Ia bahkan tak pernah menyadari bahwa aku, di sini, selalu ada untuknya. Menghiburnya. Menghibur dirinya yang terluka karena cinta. Meski dalam waktu yang sama, aku juga terluka. Karenanya.

Ah, Zahra... Kadang pikiran logis yang kau bangga-banggakan itu sama sekali tak logis. Lihatlah, Rendi sebentar lagi akan menjadi ayah, sedangkan kamu, masih meratapinya. Meratapi nasibmu. Tanpa peduli denganku. Konyol.

Aku kangen Rendi, Yak! 

Sms itu sudah ribuan kali kau kirimkan padaku, Zahra, kenapa malam ini lagi? Tak tahukah bahwa aku menunggu bongkahan esmu mencair? 
***
Post a Comment