Skip to main content

#FF menanti lampu hijau

                                              

Malam ini adalah malam kedua ribu seratus sembilan puluh dua aku mengejarnya --lelaki berhandband putih dengan headset melekat erat di telinga-- yang tak kunjung teraih. Meski secara logika kadang aku merasa yakin akan tingkahku, tapi pada kenyataannya, meraihnya justru ibarat mengoyak lautan dengan jemari. Mustahil. Justru semakin dalam lukaku tertoreh, menganga tanpa ampun, mengucur deras, tanpa obat. 

Kau pernah tahu, kata orang, kejarlah cintamu hingga suatu waktu dia akan menggelepar tak berdaya lalu meraihmu? Itu kata orang. Bukan kataku. 

Kalau aku boleh berkata; iya, memang antara logika dan perasaan adalah seimbang. Tapi, coba kau lihat sejauh mana usahamu untuk mendapatkannya? Perasaan itu akan menyesuaikan logika jika pada akhirnya kenyataan memang tidak memungkinkan kalian untuk bersama. Sudah mentok kau mengejarnya? Sudah lelah kau ingin mendapatkannya? 

Ah, teori. Memang. Klise itu.

Aku tersenyum mendengarkan bisik-bisik celotehan di bilik-bilik hatiku. Di bawah jam gadang ini aku berdiri. Meramu kenangan yang menguap sekenaknya. Seperti itukah cinta? Berusaha sekuat tenaga lalu menyerah jika memang pada kenyataannya tidak mungkin?

"Hei, ngelamun apa, sih?" suara itu mengagetkanku. Lelaki berkulit coklat yang baru datang menghampiriku langsung berdiri di sisi kiri, mengambil gelas minum yang kugenggam, lalu meminumnya seteguk. Arya.

Ini adalah tempat favoritku. Di bawah jam gadang, pukul delapan malam. Biasanya aku kemari jika aku sedang dilanda sepi, rindu menyergap. Dan, Arya selalu bersamaku. Meski sesekali terlambat menemani, tapi itu bukan masalah besar. Karena justru akulah yang biasa terlambat.

Di bawah jam gadang ini aku biasa bercerita banyak dengannya. Bercengkrama tentang hidup, mimpi,  kesukaan sampai cinta. Posisi kami juga beragam, dari yang semula berdiri, berpangku pada pagar pembatas hingga duduk persis di bawah pagar jika memang sudah dirasa lelah.

Aku melempar senyum, sedikit saja, karena memang hatiku sedang muram, menghitung malam setiap malam.

Arya menjulurkan tangan, meraih kepalaku, mengusap-ngusapnya gemas. Percaya atau enggak, aku nyaman dengan tingkahnya. Namun, hanya sebatas nyaman. Nggak lebih.

"Kenapa, sih?" Arya kembali melempar tanya. Senyumnya dikembangkan separuh. Separuhnya lagi disimpan dalam bentuk penasaran. 

Rupanya ia tak puas dengan gelengan kepalaku yang menjawab seolah aku-baik-saja. Kepalaku diputar menghadapnya, kedua tangannya menempel pada pipiku.

"Kamu kenapa?"

Sungguh, aku tidak pernah tidak menangis jika sudah dalam keadaan seperti ini. Dipaksa bercerita dengan wajah yang di hadapkan padanya.

Sebutir embun menetes perlahan dari ujung mata coklatku, menyusul senggukan pelan. Aku menangis di depannya. Sedangkan Arya? tersenyum menenangkan. Selalu begitu. Melempar senyum menenangkan yang benar-benar selalu membuat separuh hatiku merasa tentram. Ah, bukankah sahabat memang harusnya seperti itu?

Aku menelan ludah perlahan, "Rendi." 

Lipatan dahi itu, aku paham sekali. Ekspresi yang selalu sama setiap aku menyebutkan nama Rendi di hadapannya.

"Istrinya hamil." lanjutku perlahan. Kepalaku menunduk, malu menatap Rendi yang melongo mendengar kalimatku.
***
"Istrinya hamil." 

Aku sukses melongo mendengar kalimat super pendek yang dilontarkan Zahra beberapa jam yang lalu tepat di bawah jam gadang, tempat favorit kami, pukul sembilan tepat tadi. Lah, bukankah itu kabar bagus? Setidaknya sebagai bukti bahwa Rendi nggak impotensi. Ah, bukan, maksudku, bukankah itu wajar bagi orang yang sudah menikah?

Bayangan Zahra kembali menyergap. Malam kesekian aku menahan luka, sendiri. Berperan sebagai tameng di atas kesedihannya. Tanpa ia tahu. Sama sekali ia tak pernah tahu. Atau ia tak mau tahu? Sedangkan ia? sibuk dengan masa lalu yang bahkan tak pernah menganggapnya ada. Lucu.

Iya, aku tahu, ia pernah mengatakan bahwa ia akan mengejar seseorang yang ia cintai sampai titik maksimal didih air. Tapi sampai kapan? Ia bahkan tak pernah menyadari bahwa aku, di sini, selalu ada untuknya. Menghiburnya. Menghibur dirinya yang terluka karena cinta. Meski dalam waktu yang sama, aku juga terluka. Karenanya.

Ah, Zahra... Kadang pikiran logis yang kau bangga-banggakan itu sama sekali tak logis. Lihatlah, Rendi sebentar lagi akan menjadi ayah, sedangkan kamu, masih meratapinya. Meratapi nasibmu. Tanpa peduli denganku. Konyol.

Aku kangen Rendi, Yak! 

Sms itu sudah ribuan kali kau kirimkan padaku, Zahra, kenapa malam ini lagi? Tak tahukah bahwa aku menunggu bongkahan esmu mencair? 
***

Comments

Atiqoh Hasan said…
mirip sama yang mana? yang dulu ituuu?? :))))

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…