Friday, June 8, 2012

#FF perbedaan atau persamaan?

Udara sore itu dingin sekali --untuk ukuran kami yang tengah berada di dataran tinggi, kawasan Bumiaji kota Batu-- duduk bersantai di balkon lantai dua, menatap hamparan kebun bunga perusahaan-perusahaan perkebunan dan bunga potong yang tampak dari balkon. Di sebuah meja-kursi kayu yang ada di balkon, kami --aku dan suamiku-- duduk saling bersisian menikmati sore yang sebentar lagi berganti senja lalu petang. Obrolan ringan dibumbui tawa mendominasi pembicaraan kami yang baru berumur empat bulan usia pernikahan. Dua cangkir teh panas yang kubuat untukku dan dia tersisa separuh, rasanya pun tak lagi panas, cenderung dingin akibat udara yang menyergap dan durasi yang lama dari awal kami duduk. 

Dalam diam, aku menatapnya lamat-lamat. Terselip rasa senang bukan main mendapatkan suami yang kuidamkan. Bersyukur mendapatkannya tanpa terlalu banyak kegalauan yang seperti kawanku lakukan. Aneh? barangkali iya. 

Katakanlah, usia dua puluh dua adalah usia rawan gadis untuk ditanyai "Kapan menikah?" dan "Kerja dimana?" tapi tidak bagiku. Aku selalu berhasil menangkis pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan canggih. Selepas lulus dari Ilmu Komunikasi di sebuah universitas di Surabaya aku langsung mendapatkan pekerjaan. Apalagi kalau bukan menjadi reporter? Singkat cerita, di tengah kesibukanku dengan bermacam deadline, aku dikenalkan oleh ibuku pada seorang laki-laki. Awal jumpa, ada rasa sedikit menggelitik di hatiku. Bukan hal aneh jika kebiasaanku adalah mencermati laki-laki dengan senyum yang menawan, apalagi berlesung pipi. Dan, itu ada padanya. Aih...

Sekedar tahu, jauh sebelum mengenalnya, aku memang selalu menikmati pemandangan para lelaki dengan senyum yang memikat meski tak pernah sekalipun aku berstatus pacaran, menikmatinya saja sudah cukup bagiku. Tapi, sekarang? aku mempunyai laki-laki berlesung pipi dengan senyum memikat. Eits, tapi bukan berarti itu adalah hal utama yang kucari dalam mencari jodoh, itu hanya pelengkap yang menyempurnakan.

Melihat sosoknya, aku seolah bercermin, dimana kesamaan kami? tak satupun aku sempat menjawabnya, membandingkan dengan segala hal yang ada pada diriku.

Masih dalam diam dengan mengulum senyum, dia menatapku, membalas senyum. Lalu meraih jemariku.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang?" tanyanya seraya mengecup pelan dan dalam jemariku.

Uhuk! Aku sedikit terbatuk mendengar pertanyaannya. Rupanya dia tahu jika aku sedang melamun. Melamunkan dirinya.

Cepat-cepat aku mengerjapkan mata, menyadarkan diri. "Eeeh, nggak ada." Aku gugup luar biasa. Salting dipergoki melamun.

Dia melempar senyum, menampakkan lesung pipinya.

Oh, Tuhan, manalah aku tahan dengan lesung pipi itu. 

"Kata orang, menikah itu karena ada kesamaan dengan pasangan tersebut. Kesamaan kita dimana ya?" Aku bertanya setelah cukup menguasai keadaan. Tanganku masih digenggamnya. Lembut kurasa.

Helaan napas pendek dengan senyum mengembang menghiasi wajahnya. Selalu melempar senyum, itulah kelebihannya. Aku yang bertampang jutek dan galak selalu nggak tahan dengan senyuman itu, menenangkan.

"Nada, apa kau tidak menyadari aneka rupa kesamaan pada diri kita?" Dia melepas genggamannya, menatapku tulus, melempar senyum.

Aku menggeleng, bingung.

"Bukankah kita banyak mempunyai kesamaan?"

Lipatan dahiku tampak nyata, lalu kembali menggeleng.

"Sepenting apa sih arti persamaan dan perbedaan menurutmu, Nada?" Dia bertanya pelan, lagi-lagi tersenyum. Tuhan...

"Hanya seperempat saja sih. Tapi penasaran." Jawabku kemudian.

Dia kembali meraih jemariku, lalu saling menautkan, dan menggenggam. "Nada, bukankah kita ini sama. Lihat saja, kau suka menulis, sedangkan aku suka membaca. Bukankah itu satu kesamaan? Sama-sama mencintai tulisan, meski berbeda aktivitas." 

Aku mengerjap, dua senti menyunggingkan senyum. Benar juga.

"Lalu, aku suka memotret, sedangkan kamu suka dipotret. Bukankah itu sama saja kita mencintai dunia fotografi?"

Tiga senti aku tersenyum. Ini juga benar.

"Contoh konkrit lainnya, aku suka bermain musik, sedangkan kamu suka menyanyi. Bukankah itu sama? Sama-sama mencintai musik." 

Empat senti. Aku mengangguk-anggukan kepalaku pelan. Ah, ini juga.

"Mau contoh yang lain?" Dia melempar tanya. Tersenyum lembut memandangku yang dengan cepat kubalas dengan anggukan.

"Aku suka masak. Dan, kamu suka makan. Bukankah itu sama? Sama-sama mencintai kuliner."

Lima senti. Aku tertawa lebar. Memukul lengannya pelan. Ini sih pelecehan.

Kulihat dia berusaha menangkis pukulanku, lalu meraih kepalaku, "Bukankah itu benar? Kalau nggak gitu, siapa dong yang makan masakanku?"

Kami tertawa bersama di penghujung sore. Suamiku ini, bisa banget kok.

Well, kalian tahu, persamaan atau perbedaan itu bukan hal yang perlu dipeributkan dalam rumah tangga kok. Aku rasa itu indah jika kita menikmatinya. Bukankah perbedaan ada untuk saling melengkapi? Lalu jadilah persamaan. Dan, persamaan akan semakin meningkat menjadi saling memahami dan mengerti. Lalu berubah menjadi komitmen kuat, saling percaya, dan mendukung satu sama lain. 

Seandainya, ribuan bahkan jutaan pasangan suami istri di luar sana paham akan arti perbedaan, kurasa angka perceraian tidak akan naik tiap tahunnya. Bukankah sebelum memutuskan untuk menikah ada kesepakatan untuk saling berkomitmen penuh? Lalu mengapa ditelantarkan begitu merasa tak cocok dan berbeda.

Post a Comment