Saturday, June 23, 2012

#FF tentang logika dan perasaan


“Berapa kali kau jatuh cinta?”
Aku menatapnya sekilas, lalu kembali serius menatap es jeruk yang tengah kuaduk-aduk dengan sedotan berleher angsa.
“Nay?”
“Hm?” aku menggumam pendek, malas menjawab.
“Boleh kutebak? ehm…”
“Dua.” aku menyela, mengacungkan kedua jari tengah dan telunjukku di depannya. Persis di depan wajahnya. Lucu sekali ekspresinya, kaget melihat jariku tiba-tiba mengacung. Aku tertawa kecil.
“Kenapa memangnya?”
Dia mendengus, “Aku nggak percaya.”
“Baguslah. Kalau kau percaya jadi musyrik ntar.” aku terkekeh, dia mendelik sebal.
Sekali lagi, tatapannya menyelidik, “Berapa?”
Persis orang depresi yang tengah diinterogasi, aku menghela napas panjang pendek, ikut sebal. Eh, bukankah yang sebal seharusnya aku ya?
“Mau apa emang?” tanyaku balik setelah menyesap sedikit es jerukku yang tinggal separuh. Lihat saja, tak sampai sepuluh menit aku pasti memesan es jeruk gelas ketiga. Kelewatan memang rasa cintaku pada es jeruk ini.
Dia menyunggingkan senyum, “Siapa saja mereka?”
Lah? pertanyaan sebelumnya aja aku belum jawab, ini udah ngasih pertanyaan selanjutnya aja, Rama dudul!
Aku menyebutkan nama, dia mengangguk-angguk kagok. Ada rasa penasaran teramat sangat di wajahnya. Lucu aku melihatnya. Selalu menarik melihat mimik penasaran sahabat laki-lakiku ini.
“Kenapa? Nggak percaya lagi?” aku memotong sedikit kubuat ketus nadanya, padahal dalam hati tertawa geli.
Rama, sahabat laki-laki yang kupelihara dari kecil, menggaruk-garuk tak gatal kepalanya. Wajar, dia bingung. Dua orang yang kusebutkan tadi tak ada satupun nama mantan pacarku yang kuputuskan setahun lalu.
“Itu…”
“Iya, Radit nggak ada.”
Masih menggaruk-garukkan tangan, Rama memasang tampang bloon, tampak bingung, “Maksudnya?”
Aku tersenyum lebar, mengangguk-anggukkan kepala pasti. Tanganku kuangkat sebelah, memanggil pramuniaga toko, apalagi kalau tidak untuk es jeruk?
“Kau tahu rasa yang pura-pura, Ram?” aku melempar tanya pada Rama yang tampak terkejut dengan pertanyaanku.
Dia berpikir —tampak berpikir. Lalu menggeleng. Sudah kuduga.
“Aku pura-pura sayang sama Radit. Nggak cuman sayang, tapi semuanya.” aku tertawa kecil. Satu, melihat Rama yang melongo mendengar pernyataanku. Dua, melihat pramuniaga yang datang membawa dua gelas es jeruk untukku.
“How come?” Rama mendesis tak percaya. Semakin tak percaya saat melihatku mengedikkan bahu, terkekeh seraya mengibaskan tangan.
“Pelarian barangkali. Kejam banget ya aku?” aku masih terkekeh, tak melihat raut wajah Rama yang berubah pucat, entahlah apa maknanya.
“Ram, cinta itu nggak bisa dipaksa. Dan, itu kejadian. Aku nggak bisa cinta sama Radit meski udah delapan bulan jalan. Lagipula, saat itu Radit datang karena aku kesepian tanpa teman. Kau yang pindah tempat kuliah, kakakku yang juga begitu. Terus aku sama siapa? Radit itu pelarianku. Dia yang selalu ada kapanpun. Dan, itu menguntungkanku.”
“Kata orang, cinta datang karena terbiasa ya? Kata orang yang mana tuh? Kok aku enggak?” aku menagih jawab pada Rama yang hanya diam.
“Ya jelas aku enggak, Ram. Kan separuh hatiku ada di Beni. Tujuh tahun tanpa balas dan aku masih menunggunya.” sebersit kenangan itu menyemburat lepas, berlarian di benakku, ingin kutangkap satu persatu, namun tak kuasa.
“Kadang, cinta tak butuh logika, Ram. Di saat Radit cinta setengah mati dan berjanji mencintai sampai mati padaku, aku malah mengabaikan, memilih yang tak kunjung berbalas. Tapi kau mau apa? Berulang kali kau bilang lupakan Beni, tapi aku nggak bisa, kau masih mau memaksa?” lagi-lagi aku melempar tanya pada Rama yang hanya mendengarkan penjelasanku. Lalu menggeleng. Selalu begitu.
“Aku, sepenuh hatiku, sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mencintai Beni sepanjang hidup, Ram. Sama seperti yang dilakukan Radit, bukan? Kami sama kok sebenarnya. Sama-sama bodoh.”
Helaan napas panjang Rama memecah sunyi di antara kalimatku. “Cinta bukan seperti itu, Nay.” akhirnya ia berkomentar setelah aku memutuskan untuk berhenti berceloteh. Terlebih lagi, sepertinya lidahnya gatal jika tidak menanggapi ocehanku barusan.
“Adanya logika pada cinta itu yang membantumu untuk kembali menjejaki tanah setelah kau terlampau jauh bermain-main dengan perasaan. Kau tahu jika keduanya saling bersisian?” Rama melempar tanya, matanya menatapku tajam, ekspresinya serius. Sungguh baru sekarang kulihat wajahnya seserius ini.
Seperti enggan meluncur dari kerongkongan, segera kusesap es jerukku, menenangkan gelagat karena kalimatku disangkal ditambah lagi dengan tatapan matanya yang sukses membuatku salting.
“Nay, percayalah, apa yang kau lakukan itu tidak lebih dari sekedar bodoh. Kau terlalu mengedepankan perasaan, hingga membuat logikamu lumpuh. Dan, itu bukan cinta yang sebenarnya. Tapi nafsu.”
Glek! es batu mungil-mungil berhasil terjun bebas melewati kerongkongan, barusan apa katanya? aku bodoh? logikaku lumpuh? kurang asem sekali Rama.
Rama melempar senyum tulus yang kurasa hanya kreasinya untuk mengerem kalimat-kalimat yang akan diucapkan berikutnya. Aku melongo, menatapnya tak kalah serius.
 “Bagaimanapun, dalam suatu hubungan, perasaan dan logika itu diperlukan, Nayla. Itu sudah diatur Tuhan. Logika sebagai pembeda dengan makhluk lain agar kita bisa berpikir jernih dan maju, sedangkan perasaan sebagai bentuk bahwa kita diciptakan dengan hati. Tuhan memberikan kasih sayang setiap Ia hendak menciptakan suatu makhluk, terlebih itu manusia. Menyelipkannya pada hati masing-masing lalu kita menyebutnya hati nurani atau perasaan.”
Benar kan, kalimatnya panjang. Rama yang kukenal memang seperti ini. Jika ia serius mendengarkan ocehanku tanpa komentar bukan berarti ia tidak mau berkomentar, tapi ia tengah mencermati kalimat perkalimatku, lalu membalasnya dengan kalimat yang lebih panjang.
Rama meraih gelasku, menyesap pelan. “Haus, Nay.” ucapnya kemudian seraya tersenyum.
Aku tertawa kecil. Siapa yang tak tahu, ngomong panjang lebar tak membuat haus? Tapi, jika Rama yang tengah haus di tengah ceramahnya, itu artinya aku harus siap telinga dan bergelas-gelas jus jeruk untuk kemudian melanjutkan mendengar celotehannya. Biasa ini sih, sampai kebal rasanya.
“Contoh nyata nih, Nay. Kau yang tujuh tahun menunggu Beni tanpa balas dan bahkan dia sekarang menjadi calon bapak, apa itu berguna? Enggak kan?”
Kerucut di mulutku nyata sekali, aku sebal dibuat contoh nyata begini.
“Mau contoh lagi? Kau yang biasa berjam-jam menghabiskan waktu di depan computer hanya untuk bermain di sosmed, apa itu berguna?”
Cepat kujawab pertanyaan yang jelas sekali menyindir keseharianku yang lebih dari delapan jam di depan computer hanya untuk bermain-main di sosmed. “Berguna!! Aku…”
Rama mengacungkan tangannya, tanda kalimatnya tak mau disela. “Sebentar sih, jangan nyela dulu.”
Errr… Gatal hatiku pengen menggaruk wajahnya yang kini memasang tampang innocent.
“Maksudku, boleh aja kamu berjam-jam main di depan computer buat cari temen dan ikut banyak komunitas, tapi ada yang lebih penting dari itu. Kau suka menulis, kan? Kenapa nggak menulis saja?”
“Aku nulis kok, ngeblog!” aku protes, bersungut-sungut.
Dia melotot. “Dibilang sebentar sih, masih nyela aja.”
“Abisnya kau…”
“Sebentar.”
Asem! aku mengerucut-lemaskan mulut, sewot sekali.
Rama tampak berpikir-pikir sebelum melanjutkan kalimatnya yang kupotong beberapa kali. Kutebak, dia lupa sampai dimana celotehannya. Diam-diam aku terkikik, nyukurin.
Decakan gemasnya terdengar, artinya dia benar-benar lupa dimana kalimatnya terputus. Aku tertawa akhirnya, nggak jadi sewot.
“Kebanyakan disela sih.” sungutnya bête.
Aku masih tertawa, meraih gelas lalu menandaskan isinya. “Udah, ceramah mulu sih, telinga panas begini.” sahutku seraya mengibaskan tangan.
“Ya, pokoknya, kamu mikirlah pakai logika. Jangan kebanyakan main perasaan, nggak baik.” Rama nggak mau kalah rupanya, dia mengambil inti kalimatnya langsung.
“Bawel ya.” aku menjulurkan lidah, mengejek.
Kau tahu, apa yang dia lakukan setiap kalah debat kecil seperti ini? Dia mengusap-ngusap kepalaku hingga rambutku berantakan. Sama seperti sekarang, aku hanya tertawa-tawa dari seberang meja, menikmati gelitikan tangannya di rambutku.
“Andre gimana, Nay?” tanyanya kemudian setelah menghentikan gelitikannya.
“Oh itu. Iya, dia juga masih ada di separuh hatiku, berdampingan dengan Beni, tapi rasanya tak sebesar pada Beni.” aku menjawab santai dibarengi nyengir. Sementara Rama, hanya menggelengkan kepalanya.
“Lalu, bagaimana dengan laki-laki yang sering mengajakmu jalan?” susah payah Rama bertanya, kulihat. Matanya sedikit meredup.
“Oh itu. Hanya selingan, Ram. Biasa.” aku tertawa kecil, —lagi. Membuatnya semakin tergeleng-geleng.
Ah, cinta, selogis-logisnya katamu, kadang kau masih butuh hati dan perasaan untuk berpikir lebih. Tak usah menyangkal lebih jauh kau logis dalam hal yang rumit kata orang, —cinta. Karena pada dasarnya, logika dan perasaan itu bersisian. Hanya saja kau sering kali mengingkarinya. Menunjukkan kelebihanmu, mengesampingkan perasaan. Begitu sebaliknya. Padahal, makhluk tak berakalpun mengenal arti pentingnya perasaan. Lalu, mengapa kau yang berakal mengingkarinya?
Post a Comment