Saturday, October 13, 2012

#2


Farah tengah duduk di meja belajarnya dengan laptop yang menampilkan laman blognya, tempat dia memajang apa saja yang menjadi fokus usahanya. Di blog tersebut, banyak ditunjukkan hasil kreasi kue kering dan cup cake yang pernah dibuat, kreasi kain flannel yang baru beberapa gelintir hasilnya, juga kreasi pernak-pernik yang tidak sepenuhnya merupakan hasil buatannya. Biasanya, dia mengambil beberapa barang dari Pasar Grosir Surabaya, lalu dijual kembali dengan harga yang relative murah tapi tetap menguntungkan. Tapi, jika tengah longgar, tak jarang dia ikut merancang jalinan pernak-pernik untuk dibuat hiasan jilbab.
Tak hanya sibuk merancang template baru untuk blognya, sesekali dia juga membuka laman sosial media, sekadar posting, komen, lalu tertawa-tawa. Bisa ditebak, bahwa sebagai wirausaha meski masih menghasilkan untung minim, Farah sangat menikmati hidupnya. Bukan berarti karena dia masih mendapatkan jatah bulanan atau santunan dari orang tuanya, tapi sepanjang hari yang membuatnya senang dan bahagia adalah adanya dukungan dari orang-orang terdekat –meski kadang ibunya ikut menciutkan nyali– atas apa yang dia kerjakan sampai saat ini. Terlebih untuk Book a Book.
Oh, iya, selain sibuk dengan usaha kecil-kecilannya, Farah juga membuka bimbingan belajar bagi anak TK dan SD di perpustakaannya saat malam tiba. Biasanya, dia mengajar seminggu tiga kali, yakni setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Bukan tanpa alasan mengapa dia melakukan hal itu. Sederhana saja, dia hanya ingin meluangkan waktu dengan melakukan hal yang berguna semasa hidupnya. Persis dengan apa yang dilakukan Eko, inspirator yang membuat hatinya tergerak untuk membuka perpustakaan tak bebayar.
KedekatanFarah pada anak-anak ini memang sangat menguntungkan. Terlebih bagi Sabrina yang menjadi selalu merasa mempunyai banyak teman di manapun dia berada. Loyalitas Farah terhadap dunia anak-anak terbentuk sejak menunggu kehadiran Sabrina, lalu diaplikasikan saat dia sekolah, dan kembali didalami saat mempunyai perpustakaan sendiri. dia mencintai anak-anak, buku, juga apa saja yang berbentuk keindahan. Termasuk… laki-laki.
Farah menghentikan gerakan menggeser telunjuk di atas track pad saat mendengar ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk datang dari ibunya yang mengatakan bahwa belau membutuhkan kiriman pulsa yang biasa dibeli pada anaknya sendiri. Hitung-hitung pelaris, begitu kata ibunya selalu.
Tak sampai sepuluh detik Farah membaca sms dari ibunya, dia membalasnya dengan memasukkan deretan angka bercampur huruf di menu sms, melayani pesanan ibunya. Lalu menyusul sms pribadi yang akan membuat ibunya tersenyum gemas ingin mencubit pipi sulungnya.
Pulsa sudah dikirim, kanjeng putri.
Sambil tertawa kecil Farah meletakkan ponselnya kembali di sisi laptop. Dia selalu senang jika bisa menggoda ibunya hingga membuat ibunya bergegas memberikan pelototan tajam bonus cubitan gemas di pipinya.
Baru saja Farah meletakkan ponselnya dan beralih serius pada layar laptop, ponselnya kembali bordering, kali ini sebuah telepon masuk dari nomor tak dikenal. Tanpa pikir panjang, Farah pun langsung mengangkatnya, berharap dari pelanggan online shop yang akan memesan produknya.
Suara di seberang terdengar renyah saat Farah menekan tombol hijau, lalu menyapa dengan sapaan formal tapi santai seperti halo selamat malam. Saking renyahnya, Farah bahkan langsung mengulum senyum saat mendengarnya.
“Kita belum sempat bertukar nomor telepon, Farah,” suara itu milik Randy, laki-laki yang mengajak Farah makan siang sesaat setelah berkunjung ke perpustakaan yang dikelola.
Di sisi lini kabel yang tidak Randy tahu bagaimana raut wajah si penerima telepon, Farah menyunggingkan senyum dengan sebelah tangan menggaruk-garuk tengkuknya, tersenyum grogi bercampur malu-malu.
“Tapi, aku menyimpan kartu namamu,” Randy berdeham, suaranya agak aneh karena menyambi dengan melempar senyum.
Farah mengangguk kecil yang pasti gerakannya tidak bisa dilihat oleh lawan bicaranya. “Baguslah kalau begitu. Sekali datang dapat banyak informasi. Mulai dari nama lengkap, alamat rumah, juga nomor telepon,” ujarnya simpul. “Hanya saja ada satu yang belum kamu ketahui,” sambil menahan tawa, dia menggantungkan kalimatnya.
“Apa?”
Sebelah tangan Farah menutup mulut, menahan tawa sebisa mungkin sebelum menjawab. Lalu, ketika tawanya mulai mereda, dia buru-buru memberikan jawaban. “Alamat menuju hatiku.”
Sekali jawab, lelaki itu ikut tertawa mengimbangi tawa Farah yang lepas kendali.
“Semoga Sabrina nggak kayak kamu,” Randy menyelipkan kalimat yang seketika membuat Farah mengerem tawa berganti menjadi sahutan wooo panjang, tidak terima dengan pernyataan Randy.
***
Post a Comment