Sunday, October 7, 2012

City tour: Klenteng Boen Bio

Monkasel, Masjid Cheng Hoo, hari itu kami langsung menuju ke Klenteng Boen Bio. Terletak di jalan Kapasan, Klenteng ini bisa dikatakan keberadaannya hampir tenggelam dengan padatnya jalanan Surabaya. Terlebih dengan letaknya yang berdekatan dengan pasar padat Kapasan. Untuk mencapai klenteng ini diperlukan sekitar 10 menit dari Masjid Cheng Hoo (termasuk macet).
Klenteng Boen Bio merupakan klenteng pertama yang saya kunjungi. Awalnya, kami khawatir tidak diperbolehkan masuk, mengingat ini adalah tempat ibadah. Dan lagi sampai usia hampir seperempat abad, saya belum pernah menginjakkan kaki ke tempat ibadah agama lain selain masjid dan pura. Tapi, setelah meminta izin, kami pun diperbolehkan masuk sekadar mengedarkan pandangan, melihat-lihat.
Klenteng Boen Bio diperkirakan keberadaannya sejak tahun 1910-an. Munculnya klenteng tersebut menyusul semakin meluasnya daerah pecinaan di Surabaya. Di sekitar Kapasan juga terdapat daerah pecinaan yang amat kental seperti di jalan Kembang Jepun (dulunya setiap malam selalu terdapat bazaar makanan khas Cina di daerah ini), jalan Slompretan, dan jalan Coklat. Dulu, sebelum kolonial Belanda sampai di Surabaya, kampung pecinaan ini sudah terlebih dulu ada. Lalu, saat pasukan Belanda datang, mereka menyebut daerah ini dengan sebutan Chinese Kamp (sumber: katalog Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur).
Bangunan klenteng ini jadi satu dengan sekolah TK di sisi belakang. Saat ke sana, tak banyak hal yang kami dapatkan selain mendokumentasi beberapa bagian klenteng. Berikut dokumentasi pribadi di Klenteng Boen Bio.




Post a Comment