Skip to main content

City tour: Klenteng Boen Bio

Monkasel, Masjid Cheng Hoo, hari itu kami langsung menuju ke Klenteng Boen Bio. Terletak di jalan Kapasan, Klenteng ini bisa dikatakan keberadaannya hampir tenggelam dengan padatnya jalanan Surabaya. Terlebih dengan letaknya yang berdekatan dengan pasar padat Kapasan. Untuk mencapai klenteng ini diperlukan sekitar 10 menit dari Masjid Cheng Hoo (termasuk macet).
Klenteng Boen Bio merupakan klenteng pertama yang saya kunjungi. Awalnya, kami khawatir tidak diperbolehkan masuk, mengingat ini adalah tempat ibadah. Dan lagi sampai usia hampir seperempat abad, saya belum pernah menginjakkan kaki ke tempat ibadah agama lain selain masjid dan pura. Tapi, setelah meminta izin, kami pun diperbolehkan masuk sekadar mengedarkan pandangan, melihat-lihat.
Klenteng Boen Bio diperkirakan keberadaannya sejak tahun 1910-an. Munculnya klenteng tersebut menyusul semakin meluasnya daerah pecinaan di Surabaya. Di sekitar Kapasan juga terdapat daerah pecinaan yang amat kental seperti di jalan Kembang Jepun (dulunya setiap malam selalu terdapat bazaar makanan khas Cina di daerah ini), jalan Slompretan, dan jalan Coklat. Dulu, sebelum kolonial Belanda sampai di Surabaya, kampung pecinaan ini sudah terlebih dulu ada. Lalu, saat pasukan Belanda datang, mereka menyebut daerah ini dengan sebutan Chinese Kamp (sumber: katalog Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur).
Bangunan klenteng ini jadi satu dengan sekolah TK di sisi belakang. Saat ke sana, tak banyak hal yang kami dapatkan selain mendokumentasi beberapa bagian klenteng. Berikut dokumentasi pribadi di Klenteng Boen Bio.




Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…