Sunday, October 7, 2012

City tour: Masjid Sunan Ampel




Setelah dari Monkasel, Masjid Cheng Hoo, dan Kenteng Boen Bio, kami bergegas menuju klenteng lain yang masih satu kawasan dengan Boen Bio. Tepatnya di jalan Dupak yakni Klenteng Hok Tek Hian. Tak cukup sulit menemukan klenteng ini, hanya sedikit berputar dari arah Kapasan, maka kawasan bangunan kolonial Belanda akan dengan mudah ditemukan.
Klenteng Hok Tek Hian terdapat di sisi kiri jalan (dari arah Kapasan). Kenteng ini jauh lebih besar dibandingkan dengan Boen Bio dan tentunya lebih ramai. Dari jalanan bau dupa sudah tercium. Artinya, ada kegiatan ibadah yang tengah berlangsung. Tentu saja hal ini membuat kami sungkan untuk sekadar melihat-lihat, apalagi mendokumenasikan. Maka, dengan spontan jaya, saya pun mengarahkan motor melaju ke arah Masjid tertua di Surabaya, Masjid Sunan Ampel.
Awalnya, saya sedikit ragu untuk masuk mengingat keyakinan Tere tidak sama dengan saya. Tapi, ternyata Tere tidak keberatan untuk mampir karena kebetulan Masjid Sunan Ampel masuk dalam track herritage di peta. Jadi, mampirlah kami berdua.
Terletak di jalan Ampel, Masjid Sunan Ampel ini berada. Bagi pengunjung yang belum pernah berkunjung, pasti mengira bahwa kawasan ini mirip dengan bangunan wilayah khas Timur Tengah. Masjid ini dibangun oleh Raden Rahmatullah (Sunan Ampel) pada tahun 1421 Hijriah. Saat berkunjung, pengunjung akan disuguhi jejeran pedagang yang menjual beragam aksesoris--yang kata Tere murah meriah.
Di kawasan masjid ini juga terdapat makam Sunan Ampel yang merupakan salah satu Wali Songo penyebar agama Islam di tanah Jawa. Makam Sunan Ampel sendiri terletak di sebelah barat masjid.
Di sana, kami hanya sedikit mengupas dengan sedikit penjelasan yang saya berikan mengenai siapa itu Sunan Ampel dan Mbah Soleh yang memiliki sembilan makam pada Tere. Dokumentasi pun seadanya. Seperti berikut ini dokumentasi yang sempat terekam kamera kacrut ponsel saya.
Ps. Kesimpulan yang saya dapat setelah berkali-kali ke Masjid dan Makam Sunan Ampel, ternyata pengunjung di sana rata-rata mengenakan jilbab. Kesimpulan ini baru saya dapatkan setelah melihat sekitar bahwa tak ada satu pun yang berkunjung tanpa jilbab *katrok eh :p*




Post a Comment