Skip to main content

City tour: Masjid Sunan Ampel




Setelah dari Monkasel, Masjid Cheng Hoo, dan Kenteng Boen Bio, kami bergegas menuju klenteng lain yang masih satu kawasan dengan Boen Bio. Tepatnya di jalan Dupak yakni Klenteng Hok Tek Hian. Tak cukup sulit menemukan klenteng ini, hanya sedikit berputar dari arah Kapasan, maka kawasan bangunan kolonial Belanda akan dengan mudah ditemukan.
Klenteng Hok Tek Hian terdapat di sisi kiri jalan (dari arah Kapasan). Kenteng ini jauh lebih besar dibandingkan dengan Boen Bio dan tentunya lebih ramai. Dari jalanan bau dupa sudah tercium. Artinya, ada kegiatan ibadah yang tengah berlangsung. Tentu saja hal ini membuat kami sungkan untuk sekadar melihat-lihat, apalagi mendokumenasikan. Maka, dengan spontan jaya, saya pun mengarahkan motor melaju ke arah Masjid tertua di Surabaya, Masjid Sunan Ampel.
Awalnya, saya sedikit ragu untuk masuk mengingat keyakinan Tere tidak sama dengan saya. Tapi, ternyata Tere tidak keberatan untuk mampir karena kebetulan Masjid Sunan Ampel masuk dalam track herritage di peta. Jadi, mampirlah kami berdua.
Terletak di jalan Ampel, Masjid Sunan Ampel ini berada. Bagi pengunjung yang belum pernah berkunjung, pasti mengira bahwa kawasan ini mirip dengan bangunan wilayah khas Timur Tengah. Masjid ini dibangun oleh Raden Rahmatullah (Sunan Ampel) pada tahun 1421 Hijriah. Saat berkunjung, pengunjung akan disuguhi jejeran pedagang yang menjual beragam aksesoris--yang kata Tere murah meriah.
Di kawasan masjid ini juga terdapat makam Sunan Ampel yang merupakan salah satu Wali Songo penyebar agama Islam di tanah Jawa. Makam Sunan Ampel sendiri terletak di sebelah barat masjid.
Di sana, kami hanya sedikit mengupas dengan sedikit penjelasan yang saya berikan mengenai siapa itu Sunan Ampel dan Mbah Soleh yang memiliki sembilan makam pada Tere. Dokumentasi pun seadanya. Seperti berikut ini dokumentasi yang sempat terekam kamera kacrut ponsel saya.
Ps. Kesimpulan yang saya dapat setelah berkali-kali ke Masjid dan Makam Sunan Ampel, ternyata pengunjung di sana rata-rata mengenakan jilbab. Kesimpulan ini baru saya dapatkan setelah melihat sekitar bahwa tak ada satu pun yang berkunjung tanpa jilbab *katrok eh :p*




Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…