Skip to main content

City tour: Monumen Kapal Selam (Monkasel)

Berawal dari pertanyaan impulsif (selalu!) hari ini mau ke mana? Aku lantas sms Tere untuk city tour lagi ke beberapa daerah yang langsung disetujui olehnya. Berbekal peta dari HoS, kami pun sepakat memulai perjalanan city tour ke Monumen Kapal Selam (Monkasel) atau Submarine Monument.
Terletak di jantung kota Surabaya, tepatnya di sisi Kali Mas dan mal Surabaya Plasa, Monkasel berdiri. Sedikit cerita tentang kapal selam jenis Pasopati 401. Kapal selam ini adalah kapal selam buatan Rusia tahun 1952 yang kemudian dibeli oleh Indonesia sepuluh tahun kemudian untuk pembebasan Irian Barat (1962). Berturut-turut, kapal selam ini digunakan pada konflik Timur-Timur pada 1975, operasi perairan Indonesia pada 1989, dan berakhir penonaktifan penggunaan pada 1990.
Kapal selam ini dulunya digunakan untuk memperkuat Armatim TNI AL Indonesia yang banyak dipusatkan di Surabaya. Di bagian dalam kapal selam terdapat lima ruangan yang terdiri dari:
Ruang satu berisi torpedo dan selongsongnya (ruang persenjataan),
Ruang dua terdiri dari kamar perwira Kapten Pel. Sigitjoto Soedirdjo dan beberapa tempat tidur ABK,
Ruang tiga berisi ruang kemudi dengan periskop,
Ruang empat terdiri dari dapur, meja makan, dan beberapa tempat tidur ABK,
Ruang lima berisi mesin diesel yang digunakan selama kapal selam berada di permukaan dan baterai selama berada di bawah permukaan.
Melengkapi Monkasel, di sisi belakang monumen terdapat ruang pemutaran video Rama yang berisi sejarah kapal selam. Video ini diputar setiap satu jam sekali, mulai pukul 9-21 dengan durasi perpemutaran 20 menit. Tak hanya itu, di sekitar monumen juga terdapat arena bermain anak dan bangku-bangku di tepi bantaran Kali Mas.
Untuk masuk ke Monkasel, Anda diperlukan membayar tiket sebesar Rp 5.000 sudah termasuk video Rama. Berikut ini, dokumentasi pribadi yang didapat dari kamera ponsel.






Comments

Dani said…
Ajak2 donk. Wah2 “Ъk>:/“ ksh kabar.
Dani said…
Ajak2 donk. Wah2 “Ъk>:/“ ksh kabar.
Atiqoh Hasan said…
iya maaf, lain kali kukabari deh. masih lama nyungsepnya kan? :)))

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…