Skip to main content

Long distance

Aku pernah mengenal dua hubungan yang seketika membuatku benci pada satu hal bernama jarak.

Saat pertama kali aku mengenalnya, Robin aku biasa memanggil, tak ada unsur kesengajaan. Kami bertemu sekilas setelah kopi darat yang direncanakan lalu kami saling cocok dan menjalin cinta. Tapi kau tahu, sejak pertemuan itu kami memutuskan untuk menjalani LDR, sesuatu hal yang mulai banyak didengungkan belakangan.

Cukup empat bulan aku menjalin hubungan dengan Robin ketika aku memiliki rasa cemburu berlebih padanya. Ia lebih banyak berinteraksi dengan temannya kulihat di situs jejaring sosialnya. Lalu aku? Hanya sebatas kekasih yang nggak bisa banyak berbuat. Jarak memisahkan kami, juga kasih sayang. Berlebihan? Kurasa tidak. Kami saling mencinta. Hanya saja tidak demikian pada jarak.

Selang menjalin hubungan dengan Robin, aku mengenal Jarwo, lelaki peranakan Jawa tulen yang kukenal dari les fotografi. Wajah Jawanya tidak kentara saat ia mulai mencangklong kamera lalu membidikkan lensa pada objek yang dianggapnya menarik.

Sepuluh bulan kami saling mencinta ketika aku memergokinya tengah berduaan dengan wanita lain. Kau tahu karena apa? Jarak! Ya, aku dan Jarwo memang terpisah jarak. Hanya saja intensitas pertemuan kami cukup sering, seminggu sekali. Tapi itu masih kurang bagiku. Nyatanya, luput dari pengawasanku --ya, aku pasangan yang posesif-- ia menjalin hubungan dengan gadis lain yang belakangan kukenal bernama Astari, rekanan di media.

Itu tentang jarak yang hingga kini tak.pernah lagi kupercaya mampu memberiku kepuasan dan ketenangan akan satu hubungan terselip percintaan. Bahkan bisa dikatakan aku membencinya. Bayangkan saja, ketika kamu mulai mencintai lalu terpisahlan jarak yang membuat semuanya menjadi berantakan. Kau tahu, hal terkejam yang kukenal selain perselingkuhan Jarwo adalah apa? Jarak! Peduli setan, yang kutahu jarak selalu berlaku curang padaku.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…