Wednesday, October 3, 2012

Long distance

Aku pernah mengenal dua hubungan yang seketika membuatku benci pada satu hal bernama jarak.

Saat pertama kali aku mengenalnya, Robin aku biasa memanggil, tak ada unsur kesengajaan. Kami bertemu sekilas setelah kopi darat yang direncanakan lalu kami saling cocok dan menjalin cinta. Tapi kau tahu, sejak pertemuan itu kami memutuskan untuk menjalani LDR, sesuatu hal yang mulai banyak didengungkan belakangan.

Cukup empat bulan aku menjalin hubungan dengan Robin ketika aku memiliki rasa cemburu berlebih padanya. Ia lebih banyak berinteraksi dengan temannya kulihat di situs jejaring sosialnya. Lalu aku? Hanya sebatas kekasih yang nggak bisa banyak berbuat. Jarak memisahkan kami, juga kasih sayang. Berlebihan? Kurasa tidak. Kami saling mencinta. Hanya saja tidak demikian pada jarak.

Selang menjalin hubungan dengan Robin, aku mengenal Jarwo, lelaki peranakan Jawa tulen yang kukenal dari les fotografi. Wajah Jawanya tidak kentara saat ia mulai mencangklong kamera lalu membidikkan lensa pada objek yang dianggapnya menarik.

Sepuluh bulan kami saling mencinta ketika aku memergokinya tengah berduaan dengan wanita lain. Kau tahu karena apa? Jarak! Ya, aku dan Jarwo memang terpisah jarak. Hanya saja intensitas pertemuan kami cukup sering, seminggu sekali. Tapi itu masih kurang bagiku. Nyatanya, luput dari pengawasanku --ya, aku pasangan yang posesif-- ia menjalin hubungan dengan gadis lain yang belakangan kukenal bernama Astari, rekanan di media.

Itu tentang jarak yang hingga kini tak.pernah lagi kupercaya mampu memberiku kepuasan dan ketenangan akan satu hubungan terselip percintaan. Bahkan bisa dikatakan aku membencinya. Bayangkan saja, ketika kamu mulai mencintai lalu terpisahlan jarak yang membuat semuanya menjadi berantakan. Kau tahu, hal terkejam yang kukenal selain perselingkuhan Jarwo adalah apa? Jarak! Peduli setan, yang kutahu jarak selalu berlaku curang padaku.

Post a Comment