Monday, October 1, 2012

One last cry

Aku pernah menyimpan rasa begitu dalam pada seorang perempuan yang pertama kali kukenal. Kenal, lalu memutuskan untuk jatuh cinta. Biasanya, banyak orang bijak memutuskan untuk jatuh cinta setelah bisa paham bahwa konsekuensinya adalah dua; jatuh atau terbang semakin tinggi.
Sayangnya, keputusan untuk jatuh cinta itu seperti orang bijak tak.bisa kulakukan. Aku mengenalnya, mencintainya diam-diam, lalu mendoakannya di malam panjang. Begitu setiap harinya doaku berulang hingga empat tahun lamanya.
Jika banyak orang memiliki cinta yang besar untuk menjemputnya, orang terkasih, maka aku hanya memiliki harapan bersama doa yang rutin kupanjatkan agar ia baik selalu. Masalah cintaku besar atai tidak, hanya aku dan Tuhan yang tahu. Kalau kau ingin tahu, maka taksirlah cinta yang terajut setiap malamnya bersama untaian doa. Taksir, seberapa besar cinta yang terkandung di dalamnya. Maka, sebesar itulah aku mencintanya, dalam diam.
Hingga di sebuah malam panjang aku mengenalnya, ketika kuputuskan untuk menjemputnya, kabar mengejutkan itu meruntuhkan segala harapanku. Berbalik, berganti dengan segala daya runtuh.
Sebuah berita menggoncang jiwa juga batin ketika aku menemukan sebuah surat permohonan maaf sekaligus ucapan perpisahan.
"Kamu tidak akan pernah mengerti betapa aku menyimpan rasa yang begitu dalam padamu. Bertahun-tahun kupanjatkan doa untuk segala kebaikanmu. Sayangnya kamu bergeming. Hingga pada tahap aku menyembuhkan lukaku sendiri, luka pada hati yang menganga, sekaligus menyadarkanku akan arti cinta yang kuberikan padamu. Bahwa, cinta kita tidak akan bisa bersatu."
Aku membaca lamat-lamat deretan kalimat yang ia tuliskan. Pada ujungnya, aku menemukan satu kalimat yang menyadarkanku akan arti kesalahan juga kehilangan. Maka, saat itu juga mataku meleleh. Mengalir deras bersamaan dengan penyesalan. Satu kalimat di ujung itu; dari Linda untuk Meta. Mungkin, cinta yang salah ini akan membawaku pada 'One last cry'. Tapi, entah kapan waktunya tiba.

Post a Comment