Wednesday, October 3, 2012

Pupus

Rani menatap sendu pada jarum jam di dinding kamarnya. Ini adalah malam kesekian ia duduk termangu dengan langit malam sebagai teman. Sendu, sepi, dan galau. Sementara hatinya galau, pikirannya berkecamuk mengingat kejadian pagi tadi di sekolah.

Sebuah surat yang ia tulis dan kirim ke salah satu teman laki-lakinya. Bagaimana tanggapannya? Selama ini ia merasa bahwa Katon, teman laki-lakinya itu, memiliki rasa yang sama padanya. Berbagi hari dengan cerita-cerita konyol mereka. Bisa jadi Katon merasakan kedekatan mereka tak hanya sekadar sahabat. Bisa jadi.

"Semoga ia membacanya. Tapi bagaimana tanggapannya?" Rani menggenggam kedua tangannya erat. Cemas sekaligus bingung. Mungkin saja Katon membacanya, tapi menerima pernyataan cintanya? Rani menggelengkan kepala kuat, mengenyahkan segala pikiran buruk yang bercokol. Hingga satu nada dering terdengar dari ponselnya.

Rani melompat kegirangan ketika tahu nama yang tertera di sana. Katon calling. Secepat kilat ia mengangkat telepon dengan suara sedikit tertahan.

"Hai," suara Rani menyapa, dibuat setenang mungkin.
Sementara suara di seberang, Katon, menjerit. "Raniii, tadi aku dapat surat yang berisi pernyataan cinta. Dan kamu tahu dari siapa?" Katon menggantungkan kalimatnya. Menunggu Rani menjawab.
"Dari?"
"Nadya! Kami jadian sepuluh menit lalu. Nggak nyangka ternyata dia punya rasa yang sama denganku," suara Katon terdengar antusias. Sementara Rani berulang kali menelan ludah kasar, menenangkan hatinya. Musnah sekaligus pupus harapannya. Selama ini anggapannya salah. Berbeda dengan kenyataan bahwa Katon nyatanya memiliki rasa yang lebih besar pada Nadya dibanding padanya.

Rani tersenyum tipis sekaligus nyeri saat memutuskan mengucap kalimat yang semakin melukai hatinya. "Selamat ya," ucapnya pilu.

Post a Comment