Skip to main content

Pupus

Rani menatap sendu pada jarum jam di dinding kamarnya. Ini adalah malam kesekian ia duduk termangu dengan langit malam sebagai teman. Sendu, sepi, dan galau. Sementara hatinya galau, pikirannya berkecamuk mengingat kejadian pagi tadi di sekolah.

Sebuah surat yang ia tulis dan kirim ke salah satu teman laki-lakinya. Bagaimana tanggapannya? Selama ini ia merasa bahwa Katon, teman laki-lakinya itu, memiliki rasa yang sama padanya. Berbagi hari dengan cerita-cerita konyol mereka. Bisa jadi Katon merasakan kedekatan mereka tak hanya sekadar sahabat. Bisa jadi.

"Semoga ia membacanya. Tapi bagaimana tanggapannya?" Rani menggenggam kedua tangannya erat. Cemas sekaligus bingung. Mungkin saja Katon membacanya, tapi menerima pernyataan cintanya? Rani menggelengkan kepala kuat, mengenyahkan segala pikiran buruk yang bercokol. Hingga satu nada dering terdengar dari ponselnya.

Rani melompat kegirangan ketika tahu nama yang tertera di sana. Katon calling. Secepat kilat ia mengangkat telepon dengan suara sedikit tertahan.

"Hai," suara Rani menyapa, dibuat setenang mungkin.
Sementara suara di seberang, Katon, menjerit. "Raniii, tadi aku dapat surat yang berisi pernyataan cinta. Dan kamu tahu dari siapa?" Katon menggantungkan kalimatnya. Menunggu Rani menjawab.
"Dari?"
"Nadya! Kami jadian sepuluh menit lalu. Nggak nyangka ternyata dia punya rasa yang sama denganku," suara Katon terdengar antusias. Sementara Rani berulang kali menelan ludah kasar, menenangkan hatinya. Musnah sekaligus pupus harapannya. Selama ini anggapannya salah. Berbeda dengan kenyataan bahwa Katon nyatanya memiliki rasa yang lebih besar pada Nadya dibanding padanya.

Rani tersenyum tipis sekaligus nyeri saat memutuskan mengucap kalimat yang semakin melukai hatinya. "Selamat ya," ucapnya pilu.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…