Skip to main content

Trip: Kebun Teh PTPN XII, Wonosari, Lawang

Masih dalam rangkaian minggat, tujuan hari berikutnya adalah kebun teh Wonosari, Lawang, Malang. Sebenarnya, aku sudah beberapa kali ke tempat ini. Gimana, nggak? Dulu OJT sebulan :)). Tapi, beda masa, beda keadaan ya. Kalau dulu OJT tanpa tahu macam-macam hal yang berhubungan dengan harga dan segala yang berhubungan dengan materi, maka kali ini beda. Statusnya turis soalnya :p. Sebenarnya--lagi-- aku ke sini karena dapat undangan nikah anak dari salah satu karyawan PTPN XII dan berhubung momennya tepat --dengan kondisi minggat-- jadi berangkatlah aku bareng teman seperjuangan masa OJT.

Well, untuk mencapai kebun teh Wonosari, Lawang, Malang, Anda tidak perlu bingung. Dari Surabaya, Anda bisa memilih jenis angkutan umum seperti bis atau kereta api. Untuk bis biasa, siapkan Rp 10.000; patas, Rp 20.000; dan kereta api, Rp 4.000. Perbandingannya jauh banget, ya? Tapi, kalau mau fleksibel, mending pakai bis. Satu, karena waktunya bisa kapan saja. Dua, karena kalau weekend stasiun dan kereta tujuan Malang ramainya nggak sopan. Masa, antre jam 5 pagi tiket untuk malam udah habis, nggak sopan, kan? Makanya, mending naik bis. Bagus lagi naik kendaraan pribadi :D.

Nah, setelah sudah naik bis atau kereta, turun di stasiun Lawang untuk oper angkot. Hanya ada satu angkot untuk menuju kebun teh. Warnanya biru dengan tulisan SLKW (Sumber Porong-Lawang-Ketindan-Wonosari). Angkot ini masih baru. Kalau nggak salah baru beroperasi sejak tahun 2007an. Untuk ke Wonosari dari st. Lawang dibutuhkan biaya sebesar Rp 4.000. Yang harus diingat, angkot ini hanya sampai pukul 16.00, lebih dari itu, mending menginap saja. Gimana, nggak? Kebun teh sudah gelap dan rata-rata pengunjung juga pulang jam sore (kecuali yang datang dengan kendaraan pribadi). Kalau nasib sedang mujur, jam 16.30 kadang masih ada angkot terakhir (tapi ini jarang banget). Dulu, pas OJT, aku pernah sampai jam 17.15 nggak dapat angkot. Kebetulan waktu itu dari bawah (Lawang) mau ke atas (kebun teh) dengan kondisi alam yang nggak bersahabat. Hujan deras, penuh petir. Dengar dari seliweran 1-2 orang, angkot terakhir jam 15.00 karena cuaca nggak oke. Beruntung, aku kenal salah satu sopir angkot (ini benar-benar keberuntungan; karena selama wira/i ngurus perijinan OJT biasa ketemu si sopir itu :D) Nah, saat aku nunggu dengan harapan ada satu aja angkot lewat, si sopir tadi lewat dengan penumpang penuh menuju atas. Thanks God! Dia bilang, "Mbak Suroboyo, numpak kene, Mbak," kira-kira gitu kalimatnya. Jadi, bisa disimpulkan kalau ke kebun teh tengok cuaca dan jam tangan yaaa, sewaktu-waktu bisa bikin cemas *lebaaay :))*

Tiket masuk kebun teh perorang Rp 8.000 saja. Di dalam, Anda akan disuguhi pabrik pengolahan teh, kafe, kantin, arena bermain, kolam renang, dan tentu saja penginapan. Harga dari masing-masing fasilitas juga beragam. Seperti permainan ATV motor yang dipatok sebesat Rp 40.000/ putaran (padahal tahun 2010 awal dulu harganya cuma Rp 10.000 loh :p). Beda motor, ATV car dihargai lebih murah, yakni sebesar Rp 10.000/ 5 menit (ini sih sekedipan mata aja, ya :p). Ada juga kereta kelinci yang akan membawa Anda berkeliling perkebunan teh. Siapkan Rp 3.000, Anda bisa ajak keluarga untuk berpusing-pusing keliling perkebunan tanpa harus capek berjalan. Tak hanya itu, di sana juga ada arena bermain gratis --buat yang nggak mau susah-susah keluar duit :))-- permainannya juga cukup beragam. Seperti ayunan, jumpalitan, dan sebagainya.

Puas berkeliling dan bermain, Anda juga bisa duduk santai disekitar kafe atau kantin. Ada banyak makanan ditawarkan, seperti sate kelinci dan bakso Malang. Omong-omong bakso, dulu pas OJT hampir setiap hari aku makan bakso di sore hari. Ada penjual keliling yang lewat di depan rumah karyawan PTPN, namanya Cak Dwi. Nah, pas muter-muter sendirian, berhenti di depan kolam renang, aku ketemu beliau. Haha, asli semacam reuni :)). Tadinya, habis ngebakso, mau ke rumah teman SMA yang posisi rumahnya ada di depan kolam renang, tapi si dia lagi keluar, nggak jadi ketemu deh. Oh, iya, untuk masuk kolam renang, Anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 8.000 setiap hari Senin-Sabtu. Sedangkan hari Minggu Rp 12.000.

Jeprat sana, jepret sini, aku menemukan penjual madu yang tengah memeras hasil. Dijual per600 ml Rp 40.000, madu yang dihasilkan tawon Gung ini benar murni. Cara ceknya mudah saja. Jika madu dikerubuti semut, artinya madu tsb nggak asli.

Puas berkeliling, Anda bisa berbelanja hasil perkebunan teh dan kopi PTPN XII di koperasi. Ada tester untuk melihat jenis teh yang dijual. Seperti teh mutu I, II, dan lokal. Kalau dulu, kami menyebutnya teh BP, PF, dan lainnya (lupa dong! :p) harga yang dijual lumayan murah kok. Untuk teh mutu I per100 gram dijual Rp 7.000 sedangkan teh lokal Rp 6.500. Kalau suka teh celup, harganya berkisar Rp 3.250-3.500. Ada juga kopi yang merupakan hasil dari PTPN XII kebun Jember. Kopinya enak asli! Perenteng Rp 8.500 saja.

Sudah berkeliling, berenang, makan siang, dan berbelanja, jika Anda masih penasaran dengan bagaimana proses pengolahan teh, siapkan Rp 50.000 untuk melihatnya. Tapi, setiap hari Minggu pabrik tutup, ya. Jadi kalau benar ingin tahu bagaimana proses pengolahan teh dari daun hingga jadi sebaiknya pilih hari dulu biar nggak kecewa :D.

Selesai semua, Anda masih ingin menikmati suasana perkebunan? Anda bisa menginap di villa yang telah disediakan. Villa bernama tumbuh-tumbuhan ini dibanderol mulai Rp 600.000 hingga sekian juta.

Berwisata sambil belajar, kenapa nggak? Yuk, mampir ke PTPN XII Wonosari, Lawang, Malang untuk melepas penat. Berikut dokumentasiku.















Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…