Friday, December 21, 2012

Di Balik Hujan

"Aku suka hujan!" suara ceria bocah perempuan berumur delapan tahun itu memecah sore berselimut gelap. Sementara aku, menatapnya sambil lalu namun tetap memasang pandangan mata mengawasi.

Hujan. Siapapun menyukainya. Rinainya, aromanya, suaranya, semuanya menenangkan. Pun aku, menyukainya. Tapi itu dulu.

"Kakak suka hujan?" Lita--bocah itu-- bertanya. Membuyarkan pikiranku yang terfokus pada setumpuk berkas pekerjaan yang kubawa pulang.

Aku mengangguk, tersenyum samar--berbohong.

Senyum bocah itu mengembang. "Aku selalu suka hujan, Kak. Kata ayah, hujan bisa menyampaikan salam rindu pada orang yang kita sayang," Lita berceloteh riang, mengajakku berbincang.

"Aku yakin, ibu di surga tahu kalau aku kangen padanya. Salam rinduku Lita titipkan lewat pelangi, Kak," Lita terus berceloteh, menatapku dengan binar-binar.

"Kalau kakak, mau titip salam buat siapa yang mau disampaikan lewat hujan dan pelangi?"

Aku mengerjap-kerjap, meletakkan pen di meja, memandang serius pada bocah berambut ikal di depanku. Kedua tanganku kuacungkan bersamaan dengan mulut yang kubuka-tutup.

Kakak juga titip salam buat ibumu. Semoga tenang di sana.

Lepas mengucapkan 2 kalimat pendek, aku langsung berdiri. Meninggalkan bocah perempuan yang kini mengangguk-angguk senang. Belum saatnya dia tahu isyarat yang kupakai. Isyarat akibat tabrakan keras mobil yang dikendarai ibunya, yang menyebabkan putusnya pita suaraku. Saat itu, hujan turun dengan derasnya. Ibu bocah itu menyetir meleng tanpa tahu posisiku.

Post a Comment