Skip to main content

Posts

Showing posts from 2013

Menikmati Hawa Dingin di Puncak Sikunir

Pertengahan November lalu, saya mengunjungi dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Sebenarnya, ini adalah rencana spontan yang saya ambil begitu cuti kerja didapat karena sebelumnya, saya memutuskan untuk menghabiskan masa cuti empat hari hanya di Jogjakarta. Namun saya pikir, sayang sekali jika empat hari cuti hanya di satu kota saja.
Memilih masa cuti yang berbeda dengan teman, solo backpacking adalah risiko yang harus saya tanggung. Ya, perjalanan kali ini saya kembali sendiri. Berbekal mencari banyak informasi via internet dan bertanya pada teman yang sudah ke sana, saya berhasil meyakinkan diri. Menjadi solo backpacker, hal yang harus dilakukan adalah tidak berlebihan dalam penampilan. Ramah, menyimpan banyak info, dan aktif bertanya pada warga sekitar juga menjadi jurus ampuh berwisata. Informasi yang saya dapat, kawasan pegunungan yang terkenal dengan buah carica (pepaya gunung) dan kentang tersebut, aman bagi solo backpacker amatir seperti saya.
Perjalanan dimulai dari Jogja menu…

Menyusuri Jejak Kejayaan Kerajaan Majapahit

Oktober lalu saya memilih untuk berlibur ke kota tetangga, Mojokerto. Alasannya mudah saja, selain karena bujet menipis, minimnya waktu, dan saya belum pernah ke sana :p. Selain itu, saya butuh menepati janji pada diri sendiri. Makanya langsung hajar. Bahagianya, teman jalan saya kali ini cukup banyak. Dua orang rekan wartawan dan seorang teman TK. Hahaha, iya TK!! Saya juga nggak nyangka bisa ketemu lagi. Semua karena Facebook :)). Bulusnya, karena saya tahu teman TK ini tinggal di Mojokerto, saya pun meminta untuk dikawal, lumayan. Nggak mau rugi, asli! :)).
Jarak Surabaya-Mojokerto sangat dekat bagi kami anak jalanan. Gimana nggak? Cukup ditempuh satu jam dengan motor, kami bisa sampai. Hanya saja karena motor saya dan Mamik sempat rewel, maka molorlah kami. Dari pada ada kejadian yang iya-iya, mending dicegah. Kami pun memilih untuk berhenti atau melajukan motor perlahan. Pelan asal sampai dengan selamat.
Kami berangkat pukul 9 pagi, molor 2 jam dari rencana semula. Meski demikia…

Serba-Serbi 2013

Sebelas hari lagi 2013 berlalu, banyak hal yang saya dapat dan berhasil lalui di tahun ini. Berangkat dari resolusi yang saya buat, ada dua hal yang tidak bisa tercapai di tahun ini; menikah dan nyetir mobil. Tapi itu bukan masalah besar, karena waktunya memang belum tepat :p.
Resolusi 2013 yang saya catat pertama dan besar-besar di akhir tahun 2012 adalah travelling. Saya bertekad, setidaknya satu bulan sekali ada masa jalan-jalan. Entah one day trip, city tour di kota sendiri, atau tugas ke luar kota yang melenakan. Yang penting jalan-jalan dan membuat saya lupa dengan pekerjaan :p.
Januari
Minggu pertama bulan Januari, saya ditugaskan ke Lumajang, tepatnya ke Gunung Lemongan dekat dengan 13 ranu yang mengelilingi. Sebelum naik, saya sempat mampir ke Ranu Klakah, udara yang sejuk membuat saya lupa tujuan awal; yakni bekerja :p. Sedikit cerita, Ranu Klakah dan 12 ranu lain di sekitar Gunung Lemongan dulunya sempat kerontang akibat ulah tangan tak bertanggung jawab. Kebakaran dan pen…

Rame-Rame Kondom

Masih hangat perbincangan soal Pekan Kondom Nasional yang dicanangkan beberapa pihak (produsen dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional-KPAN) (sebelumnya saya tulis Kemenkes. Saya mohon maaf.) memeringati Hari Aids, 1 Desember. Banyak opini, kecaman, dan masukan digulirkan di media dan media sosial. Pasalnya, hal tersebut dinilai absurd, tidak solutif namun justru banyak menimbulkan masalah baru. Sebagai awam, dilihat dari sisi mana pun, saya tidak setuju dengan aksi bagi-bagi kondom gratis. Terlebih dengan pembagiannya yang terkesan sembarangan.Saya sempat membaca media dengan isi pernyataan Wagub DKI Jakarta, Ahok. Di media tersebut disebutkan, Ahok menyatakan setuju melalui pernyataan yang membuat saya mesem. Kurang lebih begini (saya lupa persisnya), "Kalau nggak mau kena HIV/ AIDS, pakai kondom solusinya." Betul sekali pernyataannya. Tapi apa sudah betul sasarannya? Kondom gratis juga dibagikan ke pelajar dan mahasiswa, loh. Lain lagi kalau pembagiannya tepat sasaran. Di…

Batas

Dieng pagi itu dingin. Rania melirik layar ponsel, 14 derajat celcius. Pantas saja tubuhnya menggigil. Punggung tangannya berkali-kali menutup mulut menahan kantuk saat jarum jam menunjuk angka nyaris empat. Artinya, ia tidak bisa merapatkan selimut untuk menghangatkan tubuh. Kemarin, dirinya sudah menaruh janji pada tukang ojek, pukul empat dijemput untuk berangkat menuju Gunung Sikunir. Waktu yang tepat untuk mendaki dan melihat sunrise, begitu kata ibu pemilik penginapan. Rania, wanita berusia 26 tahun memiliki hobi jalan-jalan. Bekerja sebagai editor majalah fashion mingguan, membuat rutinitasnya menggunung. Beruntung, pekerjaannya masih tergolong fleksibel, masih bisa dikerjakan dari kejauhan--kalau tidak tahu malu. Liburan cuti kali ini, ia sengaja solo trip. Bukan tidak ada kawan atau lawan. Hanya, kejadian seminggu lalu meyakinkan dirinya bahwa ia harus pergi sendiri. Rama, lelaki yang dipacari dua tahun terakhir berulah. Tidak jauh-jauh, lelaki berparas bersih itu kembali mem…

Di Balik Serunya Menjadi Single Tracker

Saya sedang suntuk di bis sejak pukul 9 pagi tadi meninggalkan Dieng. Sampai sekarang, pukul 19, saya masih di bis menuju Surabaya setelah oper bis lima kali. Iya, untuk ke Surabaya harus rela berganti bis sebanyak itu dari puncak Dieng. Bisnya: Dieng-Perempatan Njuritan, Wonosobo; Perempatan Njuritan, Wonosobo-Terminal Wonosobo; Wonosobo-Magelang; Magelang-Jogja; Jogja-Surabaya. Sebenarnya, dari Magelang ada bis langsung menuju Surabaya, hanya saja ada di jam tertentu. Yakni pukul 10 dan 15 saja. Berhubung saya sampai Magelang pukul 12.15 jadi mau tidak mau saya harus ke Jogja. Dari Jogja-Surabaya kebetulan tiket kereta habis, jadi bis benar-benar pilihan menyehatkan. Halah.
Perjalanan kali ini, saya kembali menjadi seorang single tracker. Semi single tracker, tepatnya. Mengambil jatah cuti tiga hari plus hari libur, saya berangkat dari Surabaya Senin malam pukul 22. Setelah perjalanan ngebut benjutnya Sumber Slamet, saya sampai Jogja pukul 5 Selasa pagi dilanjutkan menuju MM UGM, t…

Can I Walk With You?

Sial, setelah berhasil menenangkan diri sendiri, malam ini goyah juga pertahanan saya. Nggak, nggak, bukan galau, tapi sekadar ingat saja. Ceritanya, malam ini sedang nganggur berat, buka Plurk langsung tertarik sama tretnya Mbak Rus, gegara apal betul sama apa yang ditulis. Sialnya lagi, beberapa hari sebelumnya, Mbak Rus menulis tret dengan lagu yang isinya sama persis dengan kondisi saya beberapa waktu lalu. Yaa intinya, lagu-lagu pengharapan, sih. Salah satunya lagu milik India.Arie yang mulai saya kenal saat kelas 2 SMP--sepuluh tahun lalu--yang berjudul Can I Walk With You. Coba cek liriknya, siapa tahu merasakan hal yang sama--sama-sama merasa mengharap tapi nggak mungkin lagi :p.I woke up this morning you
were the first thing on my mind
I don't know were it came from
all I know is I need you in my
life, yeahYou make me feel like I can be a
better woman
If you just say you wanna take
this friendship to another place[Chorus:]
Can I walk with you through
your life
Can I lay with you as…

Satu Tahun Menjadi Bagian dari Pekerjaan yang Diidamkan

Hari ini, tepat satu tahun saya menjadi bagian dunia yang dulunya hanya menjadi cita-cita saja, media. Tepat tanggal ini, satu tahun lalu, saya memulai pekerjaan yang sama sekali berbeda dengan background pendidikan saya. Dunia media, tidak pernah saya pelajari di ruang perkuliahan. Tidak pernah saya baca di diktat kuliah. Apalagi di laboratorium. Sama sekali tidak pernah. Hanya saja, perkuliahan mewarisi kebiasaan menulis yang menjadi tugas pokok dari seorang jurnalis. Beruntung, kebiasaan menulis (dengan tangan :p) sedikit didukung oleh hobi menghayal atau olah kata. Jadinya, beradaptasi dengan gaya penulisan televisi lumayan sedikit cepat.Berbeda dengan belajar kamera tangan dan video. Saya buta. Tidak mengenal sama sekali apa itu angle dan macam-macamnya. Saya hanya mengenal jenis pengambilan gambar untuk berita adalah cut to cut atau hanya seputar long-medium-close up-ekstrem close up dengan durasi minimal tujuh detik perscene. Ternyata salah. Ya, memang cut to cut, namun permain…

Aku, Kamu, dan Sunrise Gunung Bromo

"Serius?" aku membelalakkan mata, tidak percaya. Gimana nggak? selama ini aku hanya bisa membayangkan menikmati panorama matahari terbit di gunung Bromo. Tapi sekarang, Nemo justru mengajakku turut dalam perjalanannya.

Aku tahu, ini bukan kali pertamanya ke Bromo. Tapi mengajakku untuk ikut serta, berdua saja, kurasa memang baru kali ini.

Aku tersenyum lebar masih tidak percaya. Sementara Nemo hanya mengangguk-angguk yakin, menantangku untuk benar-benar ikut. "Tapi kamu tahu, izin ayah dan ibu nggak mudah didapat," buru-buru aku kecewa. Mulutku mengerucut.

Nemo. Sebenarnya namanya bukan Nemo, tapi Bara. Nemo adalah panggilan yang kuberikan saat kami menonton Finding Nemo berdua di rumahku saat usia kami baru berusia 13 tahun. Begitu imut dan lucunya Nemo, membuatku langsung terinspirasi untuk memanggil Bara dengan sebutan itu. Alasan lainnya, hanya karena saat itu fisik Nemo dan Bara adalah sama, kecil--lebih kecil dari pada aku. Tapi itu dulu, jangan tanya seka…

Festival Majapahit Internasional 2013

Peserta dari sembilan negara.
Sebenarnya saya hanya mendapat tugas meliput preskon Festival Majapahit Internasional 2013 di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, bukan saat acara berlangsung. Karena saat acara mulai, sudah ada tim kantor yang meliput khusus. Tapi, karena kangen melihat pertunjukan sendratari, akhirnya saya ikut berangkat bersama rombongan jurnalis dan beberapa panitia ke Taman Chandrawilwatikta, Pandaan, Pasuruan, sepulang jam kerja.

Festival Majapahit Internasional 2013 sendiri merupakan festival internasional serupa kedua yang diselenggarakan oleh Disbudpar Jatim setelah vakum 32 tahun dan diikuti oleh sembilan negara Asia. Seperti Laos, Thailand, Malaysia, India, Singapura, Kamboja, Filipina, Myanmar, dan Indonesia. Acaranya berlangsung tiga hari berturut-turut, 11-13 September 2013 lalu. Dibuka dan disaksikan langsung oleh perwakilan duta besar di Jatim, pembukaan acara ini berlangsung sangat meriah. Ada sekitar sepuluh ribu pengunjung memadati Chan…