Friday, January 25, 2013

Cinta Sendiri

"Hei, aku bawa makanan untukmu. Kau sudah makan, hm?" suaraku mengagetkan seorang lelaki yang tengah duduk sendiri menatap hamparan permadani biru berhias kapas.

Langit cerah, secerah hatiku yang bisa menemukannya duduk sendiri siang ini. Tidak akan ada yang mengganggu romantisme kami.

Lelaki itu menoleh, menyunggingkan senyum, lalu mengangguk. "Hai, Ra," sapanya ramah. Seketika membuat irama jantungku naik turun berantakan.

"Hai juga, Dit," aku membalas grogi. Mungkin, kalau Adit bisa mendengar suara di bawah 20 Hz pasti memalukan. Mendengar suara degup jantung yang norak.

"Ng, langit cerah," aku berbasa-basi, kemudian duduk di sisinya. Kuletakkan bekal makan yang kubawa dari rumah di antara kami, sebagai sekat. Sementara tanganku sibuk saling menggosok, menghilangkan grogi.

"Ya, langit cerah. Apa kabar, Dira? Baik?" Adit tersenyum melempar tanya, mengaduk perasaanku.

Kalau bisa aku menghitung berapa frekuensi hentakan jantungku, mungkin aku kewalahan. Senyuman manisnya berulang kali membuatku hampir sesak.

"Ya. Aku? Baik. Kau, bagaimana?" senyum lebar kutunjukkan. Senyum lima senti yang lebih menunjukkan tawa senang. Sebentar lagi kami akan makan siang bersama, tentu saja indah. Tinggal menghitung menit. Makan siang dengan pemandangan cerah, angin semilir, dan obrolan ringan.

Adit menghela napas panjang, kedua matanya dipejamkan perlahan, senyumnya tidak lupa disunggingkan. "Aku... Sangat baik. Barusan, Fai meneleponku. Dia... Menerima aku sebagai kekasihnya. Dan, sekarang dia menuju kemari. Kami mau makan siang bersama," suara Adit meluncur cepat. Secepat air liur yang berulang kali kutelan bulat-bulat.

"Kau mau makan siang bersama kami, kan? Untuk perayaan," Adit melanjutkan. Tangannya menepuk pelan bahuku, menyadarkan aku agar segera bangkit membereskan kepingan hati yang pecah seketika.

Pelan, aku mengangguk. "Ya, tentu saja."

Post a Comment