Skip to main content

Sakral

Tap... Tap... Tap...

Suara telapak kaki berayun menggema di seluruh penjuru ruangan. Ada apa? Apa yang perlu diselesaikan?

Aku melongok ke sumber suara dari tempatku berdiri, memastikan semuanya baik saja. Tampak seorang gadis kecil menyodorkan lembaran kertas dengan coretan kasar yang bisa dengan mudah kukenali milik siapa.

"Ada apa?" aku merendahkan posisi, berjongkok tepat di depan gadis kecil yang kini menyodorkan kertas padaku. Sambil meraih kertas yang disodorkan, aku menatap gadis itu heran seraya menunggu napasnya kembali teratur.

"Kau mau menikah, Kak?" tanyanya kemudian, setelah napasnya beraturan.

Aku mengernyit, lalu menggeleng. "Aku masih menunggu dia datang. Lelaki itu. Kau tahu dia di mana?" aku balik bertanya. Kabar dari mana persetan itu?

"Namamu ada di undangan bersampul emas. Kupikir kau benar-benar akan meninggalkanku," ucapnya seraya menghapus peluh di dahinya.

Seperti mendapat bongkahan es batu di kerongkongan, aku menelan ludah bulat-bulat, mencengkeram kedua pundak gadis berparas ayu yang ada di depanku. "Apa kau bilang? Namaku ada di undangan? Siapa lelaki itu?" tanyaku tercekat.

"Ambi. Lelaki dari desa seberang--yang kutahu, kau membencinya setengah mati. Kupikir kau mulai mencintainya hingga sampai rela dinikahi," taring bocah itu tampak, membuatku berbalik ingin menyerangnya.

Kuat-kuat aku menggelengkan kepala. "Selama aku masih bisa sendiri, masih menunggu lelaki pilihanku, selama itu pula aku nggak akan membutuhkan siapapun memberiku jodoh," aku mengerang gemas. Ulah siapa, coba?

Aku mencengkeram kertas yang diberikan bocah itu tanpa membacanya terlebih dahulu apa isinya.

"Tapi kau memutuskan untuk tidak membacanya," bocah itu menunjuk kertas yang kulemparkan ke tempat sampah.

Aku tersenyum meradang. "Buat apa?"

"Itu surat terakhir dari lelakimu. Pesan terakhir. Aku lupa mengabari, dia kecelakaan dalam perjalanan menuju kemari. Di surat itu ada wasiat agar kau menikah dengan Ambi."

Glek.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…