Friday, January 18, 2013

Sakral

Tap... Tap... Tap...

Suara telapak kaki berayun menggema di seluruh penjuru ruangan. Ada apa? Apa yang perlu diselesaikan?

Aku melongok ke sumber suara dari tempatku berdiri, memastikan semuanya baik saja. Tampak seorang gadis kecil menyodorkan lembaran kertas dengan coretan kasar yang bisa dengan mudah kukenali milik siapa.

"Ada apa?" aku merendahkan posisi, berjongkok tepat di depan gadis kecil yang kini menyodorkan kertas padaku. Sambil meraih kertas yang disodorkan, aku menatap gadis itu heran seraya menunggu napasnya kembali teratur.

"Kau mau menikah, Kak?" tanyanya kemudian, setelah napasnya beraturan.

Aku mengernyit, lalu menggeleng. "Aku masih menunggu dia datang. Lelaki itu. Kau tahu dia di mana?" aku balik bertanya. Kabar dari mana persetan itu?

"Namamu ada di undangan bersampul emas. Kupikir kau benar-benar akan meninggalkanku," ucapnya seraya menghapus peluh di dahinya.

Seperti mendapat bongkahan es batu di kerongkongan, aku menelan ludah bulat-bulat, mencengkeram kedua pundak gadis berparas ayu yang ada di depanku. "Apa kau bilang? Namaku ada di undangan? Siapa lelaki itu?" tanyaku tercekat.

"Ambi. Lelaki dari desa seberang--yang kutahu, kau membencinya setengah mati. Kupikir kau mulai mencintainya hingga sampai rela dinikahi," taring bocah itu tampak, membuatku berbalik ingin menyerangnya.

Kuat-kuat aku menggelengkan kepala. "Selama aku masih bisa sendiri, masih menunggu lelaki pilihanku, selama itu pula aku nggak akan membutuhkan siapapun memberiku jodoh," aku mengerang gemas. Ulah siapa, coba?

Aku mencengkeram kertas yang diberikan bocah itu tanpa membacanya terlebih dahulu apa isinya.

"Tapi kau memutuskan untuk tidak membacanya," bocah itu menunjuk kertas yang kulemparkan ke tempat sampah.

Aku tersenyum meradang. "Buat apa?"

"Itu surat terakhir dari lelakimu. Pesan terakhir. Aku lupa mengabari, dia kecelakaan dalam perjalanan menuju kemari. Di surat itu ada wasiat agar kau menikah dengan Ambi."

Glek.

Post a Comment