Sunday, January 20, 2013

Sederhana

Gerimis menderas, langkah-langkah kecil di ujung jalan membuatku ikut mengiringi kemana keadaan mengantarnya. Sebuah benda warna-warni di tangan dikembangkan menyusul langkahnya yang kian cepat menuju sebuah rumah tak jauh dari ujung jalan.

"Ini untuk makan malam kita, Mak. Mak sehat?"

Aku berhenti tak jauh dari rumah itu. Mengamati diam-diam percakapan yang terjadi antara bocah laki-laki dan wanita tua yang mulai uzur.

"Alhamdulillah," suara wanita tua itu terdengar parau. Sementara tangannya sibuk meluruskan uang yang baru diserahkan--yang menggumpal dan basah--anak laki-lakinya.

"Ini, tolong kau belikan beras jagung dan tempe, biar mak masak. Kita makan enak hari ini. Kau lapar, Nak?" sambil menyerahkan beberapa lembar uang basah, emak menyelipkan senyum pada bocah di hadapannya.

"Tenang, Nak, kita nggak akan seperti ini terus menerus," sambungnya yang lebih terdengar menyemangati diri sendiri. Tangannya yang kurang lengkap membelai rambut bocah laki-laki yang kini mengangguk takzim.

Sementara aku dengan payung yang kupegang erat, satu tangan menggenggam bungkusan, terus mengamati apa yang kira-kira dilakukan keduanya. Bahkan, meski kakiku mulai kesemutan, aku bergeming, menunggu kelanjutan kisah mereka.

"Mak, beras jagung dan tempe sudah datang. Mak sehat?" suara bocah itu kembali terdengar, menanyakan keadaan emaknya lagi. Membuatku mengernyit.

Si emak, wanita yang masih tetap duduk di teras dengan kaki timpang tersenyum seraya mengangguk. "Sehat, Nak. Sekarang kau antar emak ke dapur. Mak mau masak untukmu dan Mak Ida," sambil berpegang pada pundak anaknya, wanita itu berdiri dan mulai berjalan tertatih masuk rumah. Aku melihatnya dari tempatku berdiri, berniat mengikuti langkah keduanya.

"Mak, kenapa emak selalu memberi makan Mak Ida?" di ruang yang mungkin disebut dapur, aku mendengar si bocah bertanya pada emaknya. Aku bergeser ke dinding luar dekat ruangan itu.

Suara dandang dan sendok kayu diketuk-ketuk memenuhi ruangan yang kurasa hanya seluas 2x2 meter. Tak berapa lama kemudian, suara ketukan pada dandang berhenti, berganti dengan suara batuk si wanita. Telingaku lamat-lamat mendengar suara pelan, saking pelannya sampai membuat aku menempelkan telinga ke dinding, lekat.

"Kau ingin tahu alasannya, Nak?" tanya emak pelan yang mungkin dijawab dengan anggukan oleh bocah lelakinya.

"Kemarilah, Nak. Mendekat pada emak. Akan emak jelaskan alasannya," lalu aku mendengar suara bangku kayu diseret. Mungkin si bocah memang tengah mendekati emaknya. Sementara aku, tetap memasang telinga pada dinding, makin awas.

Dengan deheman pelan, emak lalu mulai menjelaskan. "Bahagia itu sederhana, Nak. Kita hidup miskin. Emak cacat, sedang sakit parah, dan kamu membantu emak dengan bekerja sebagai ojek payung juga loper koran. Tapi kita nggak kekurangan. Lihat Mak Ida, dia bisa apa? Hidup sebatang kara tanpa saudara. Berjalan pun dia nggak mampu, apalagi bekerja? Bandingkan dengan kondisi kita? Meski makan nggak selalu enak dan rutin, tapi kita hidup berdua, saling menguatkan. Dan emak ajarkan padamu, Nak..." kalimat emak terhenti, dahak di kerongkongan dia bersihkan.

"Bahwa sejatinya kebahagiaan bukan ada pada materi. Tapi pada hati. Satu organ manusia terpenting yang harus kau jaga adalah hati. Kalau kau ingin menjadi baik, maka baikkan hatimu. Pun sebaliknya. Otak, akan menjadi bagian yang ternomorduakan kalau kau mampu menjaga hati. Atau nuranimu," suara emak kembali terhenti. Membuatku berulang kali gelisah, gemas.

"Emak wariskan nasihat pendek padamu, Nak. Hati, tempat bersemayamnya nurani, juga perasaan. Manusia tanpa hati, bukanlah manusia," suara emak tenggelam seiring hujan yang menderas. Telingaku kugosok-gosokkan pada dinding, ingin mendengar lebih lanjut.

"Mak... Sehat?" suara bocah itu merintih.

Hidup, kadang tak selalu istimewa. Ada kalanya melihat lengkung bulan pada raut wajah seseorang memberikan arti kebahagiaan tersendiri. Yang kadang, logika tidak mampu menjangkau arti di baliknya.

Post a Comment