Skip to main content

Sederhana

Gerimis menderas, langkah-langkah kecil di ujung jalan membuatku ikut mengiringi kemana keadaan mengantarnya. Sebuah benda warna-warni di tangan dikembangkan menyusul langkahnya yang kian cepat menuju sebuah rumah tak jauh dari ujung jalan.

"Ini untuk makan malam kita, Mak. Mak sehat?"

Aku berhenti tak jauh dari rumah itu. Mengamati diam-diam percakapan yang terjadi antara bocah laki-laki dan wanita tua yang mulai uzur.

"Alhamdulillah," suara wanita tua itu terdengar parau. Sementara tangannya sibuk meluruskan uang yang baru diserahkan--yang menggumpal dan basah--anak laki-lakinya.

"Ini, tolong kau belikan beras jagung dan tempe, biar mak masak. Kita makan enak hari ini. Kau lapar, Nak?" sambil menyerahkan beberapa lembar uang basah, emak menyelipkan senyum pada bocah di hadapannya.

"Tenang, Nak, kita nggak akan seperti ini terus menerus," sambungnya yang lebih terdengar menyemangati diri sendiri. Tangannya yang kurang lengkap membelai rambut bocah laki-laki yang kini mengangguk takzim.

Sementara aku dengan payung yang kupegang erat, satu tangan menggenggam bungkusan, terus mengamati apa yang kira-kira dilakukan keduanya. Bahkan, meski kakiku mulai kesemutan, aku bergeming, menunggu kelanjutan kisah mereka.

"Mak, beras jagung dan tempe sudah datang. Mak sehat?" suara bocah itu kembali terdengar, menanyakan keadaan emaknya lagi. Membuatku mengernyit.

Si emak, wanita yang masih tetap duduk di teras dengan kaki timpang tersenyum seraya mengangguk. "Sehat, Nak. Sekarang kau antar emak ke dapur. Mak mau masak untukmu dan Mak Ida," sambil berpegang pada pundak anaknya, wanita itu berdiri dan mulai berjalan tertatih masuk rumah. Aku melihatnya dari tempatku berdiri, berniat mengikuti langkah keduanya.

"Mak, kenapa emak selalu memberi makan Mak Ida?" di ruang yang mungkin disebut dapur, aku mendengar si bocah bertanya pada emaknya. Aku bergeser ke dinding luar dekat ruangan itu.

Suara dandang dan sendok kayu diketuk-ketuk memenuhi ruangan yang kurasa hanya seluas 2x2 meter. Tak berapa lama kemudian, suara ketukan pada dandang berhenti, berganti dengan suara batuk si wanita. Telingaku lamat-lamat mendengar suara pelan, saking pelannya sampai membuat aku menempelkan telinga ke dinding, lekat.

"Kau ingin tahu alasannya, Nak?" tanya emak pelan yang mungkin dijawab dengan anggukan oleh bocah lelakinya.

"Kemarilah, Nak. Mendekat pada emak. Akan emak jelaskan alasannya," lalu aku mendengar suara bangku kayu diseret. Mungkin si bocah memang tengah mendekati emaknya. Sementara aku, tetap memasang telinga pada dinding, makin awas.

Dengan deheman pelan, emak lalu mulai menjelaskan. "Bahagia itu sederhana, Nak. Kita hidup miskin. Emak cacat, sedang sakit parah, dan kamu membantu emak dengan bekerja sebagai ojek payung juga loper koran. Tapi kita nggak kekurangan. Lihat Mak Ida, dia bisa apa? Hidup sebatang kara tanpa saudara. Berjalan pun dia nggak mampu, apalagi bekerja? Bandingkan dengan kondisi kita? Meski makan nggak selalu enak dan rutin, tapi kita hidup berdua, saling menguatkan. Dan emak ajarkan padamu, Nak..." kalimat emak terhenti, dahak di kerongkongan dia bersihkan.

"Bahwa sejatinya kebahagiaan bukan ada pada materi. Tapi pada hati. Satu organ manusia terpenting yang harus kau jaga adalah hati. Kalau kau ingin menjadi baik, maka baikkan hatimu. Pun sebaliknya. Otak, akan menjadi bagian yang ternomorduakan kalau kau mampu menjaga hati. Atau nuranimu," suara emak kembali terhenti. Membuatku berulang kali gelisah, gemas.

"Emak wariskan nasihat pendek padamu, Nak. Hati, tempat bersemayamnya nurani, juga perasaan. Manusia tanpa hati, bukanlah manusia," suara emak tenggelam seiring hujan yang menderas. Telingaku kugosok-gosokkan pada dinding, ingin mendengar lebih lanjut.

"Mak... Sehat?" suara bocah itu merintih.

Hidup, kadang tak selalu istimewa. Ada kalanya melihat lengkung bulan pada raut wajah seseorang memberikan arti kebahagiaan tersendiri. Yang kadang, logika tidak mampu menjangkau arti di baliknya.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…