Skip to main content

Kurator Liwung

"Tahu apa kau tentang profesiku, hah?" pria berkulit cokelat, hidung mancung dengan gurat wajah tegas itu menggebrak nakas, marah. Pandangannya galak merasuk manik hitam perempuan di depannya yang pura-pura kaget dengan alis terangkat.

Perempuan bernama Ribka itu tersenyum sinis. "Kubilang begitu karena aku tahu persis seperti apa duniamu," dengan terampil, perempuan itu memutar pemantik, memainkan ujung api yang menyembur.

"Tahu dari mana? Dunia kita berbeda. Kau hanya tahu duniamu. Picik!" pria itu tertawa culas, memamerkan sebagian tenggorokannya yang terbuka.

Sementara si perempuan menggeser duduk, berbisik pelan di telinga pria yang dipanggil sayang--yang mungkin juga menghasilkan getaran erotis dalam rambut telinganya. "Kita saling berhubungan, Sayang. Dunia kita dekat. Pun di ranjang." sekali sentuh, pria di dekatnya menutup mata. "Kau harus tahu, seni hanya berupa sampah kalau kau hanya berani modal pameran gratis macam di galeri seni itu. Dan kau pun harus ingat, sekeren apapun karyamu terpampang di galeri modal rokok itu, nggak akan pernah tenar tanpa aku, media," tangan perempuan itu menyentuh lengan pria yang baru dikenalnya tiga jam lalu. Matanya mengerling nakal tapi juga culas.

"Kau tanpa media nggak akan ada artinya. Aku tanpa kau, nggak dapat berita. Kita sama sayang, cari makan. Hanya bedanya, aku dapat dari karyamu yang katanya fenomenal itu," Ribka mengedikkan bahu, meremehkan. "Tapi kau? Dari eksistensi? Iya kalau setelah tenar banyak yang membeli karyamu, kalau tidak? Selamat makan eksistensi."

"Anjrit. Dasar lonte murahan, bajingan. Seni buatku segala-galanya. Termasuk kau yang cukup bangga dibayar less than one night stand," suara pria itu terengah-engah saking marahnya dilecehkan. Wajah tampannya kelam, mendung bercampur baur. Hanya saja tak begitu kentara. Rupanya perupa itu juga mampu merupakan wajah diri menjadi sosok lain. Persis dengan seni obyek yang setiap hari didengung-dengungkannya.

Kontan, Ribka meraih lengan pria itu, merajuk manja. "Jangan marah dulu, Sayang. Aku hanya tak suka melihatmu begitu tergila-gila dengan seni. Memusatkan seluruh perhatian pada berhala benda itu. Menjadikan tulang punggung abstrak yang nyatanya tidak bisa diandalkan. Melupakan sekitar. Juga makna sungguh dari mencari materi," Ribka menelan ludah, membasahi kerongkongan. "Kau tahu, kenapa perempuan terkesan dan banyak dianggap matre oleh pria?"

Pria itu mematung, memandang perempuan di depannya yang tengah tersenyum. Kesan sinisnya hilang sekejap.

"Karena yang menyebutnya adalah pria miskin, kere, tanpa modal," senyum perempuan berwajah oval itu pun tersungging lagi. "Dan kau masuk di dalamnya," lanjutnya seraya mengecup pipi sang seniman sekaligus kurator itu.

"Materi itu perlu. Semuanya butuh materi. Tinggalkan seni kalau tanpa pendapatan berarti. Atau, bisa saja kau tingkatkan bagaimana caramu membuat karya seni agar banyak orang tertarik. Jika tidak, selamat tinggal masa depan." rambut Ribka tergerai ditiup angin. Udara sejuk. Persis dengan kondisi yang membuatnya langsung merapatkan selimut. Dingin.

"Aku hanya menyarankan. Karena hidup bukan melulu kepuasan nafsu seperti ini--yang kau bilang juga seni. Seni apa? Seni eksploitasi tubuh?" mata perempuan itu tajam menatap pria di dekatnya. "Bahkan bermalam denganku pun kau bilang seni."

"Dengar, Sayang, materi itu di atas segalanya. Termasuk kepuasan hati yang juga bisa dibeli. Apalagi kepuasaan nafsu," kalimat Ribka menghunus tepat di ulu hati. Membuat pria di dekatnya hanya diam. Sementara matanya mengikuti gerakan tangan si perempuan. Membenarkan selimut. Haruskah diikuti?

Ah, peduli setan dengan seni. Lupakan sementara. Sang kurator merangsek, mendekati perempuan yang disebutnya lonte.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…