Thursday, February 28, 2013

Satu

Aku tengah mencari blok kios sayur di pasar tradisional bersama seorang teman laki-laki yang bertugas sebagai kameramenku. Lumayan ribet mencari kios yang aku sendiri lupa tempatnya di mana.

"Sori, aku agak lupa. Seingatku di blok ini," aku menjentikkan telunjuk, mengetuk-ngetuk dagu sembari terus berjalan mendahului Reski, kameramenku.

Hari ini rencananya kami mau meliput usaha sayur milik Bu Rosyidah yang katanya sudah buka sejak tahun 70-an. Bahkan sempat mengalami kebakaran dua kali saat Pasar Wonokromo ludes dilalap si jago merah di tahun 1992 dan 2002. Hebatnya, beliau tidak patah arang, tetap berdagang sayur meski kala itu keuangan sedang carut marut.

"Ingat?" Reski menegurku. Membuat langkahku perlahan terhenti dan melihat sekeliling. Tidak ada satupun wajah pedagang yang kukenal.

Aku menggeleng. "Mestinya kiosnya di sini. Tapi aku lupa," ujarku lemah. Kebiasaan disorientasi tempat dan arahku selalu kambuh. Hampir setiap hari bahkan. Empat-lima detik aku berpikir sambil masih memandang berkeliling. Ah, iya, kenapa aku tidak menelepon beliau? Tanyaku girang dalam hati. Dan aku baru ingat. Bodohnya...

Secepat kilat aku mencari kontak Bu Rosyidah, meneleponnya, minta diarahkan jalan. Sebenarnya lucu juga kalau aku lupa arah jalan di pasar yang sudah punya blok khusus sayuran ini. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga lupa, nggak ingat.

"Assalamualaikum, Bu Rosyidah," aku langsung menyapa begitu nada telepon diangkat.

"Waalaikumsalam. Ya, Mbak?" suara lelaki terdengar menjawab salamku. Lah, kok laki? Mungkin suaminya, begitu pikirku.

Aku tersenyum meringis membayangkan kalimat yang akan meluncur dari mulutku sendiri. Kalimat yang pasti terdengar aneh. "Ng... Anu, Pak, saya Alika, reporter HanTV yang kemarin janjian sama Bu Rosyidah. Saya lupa jalan ke kios Ibu, bisa ditunjukkan jalannya? Saya sekarang ada di depan toko sembako lima jaya," aku mencecar. Sebodo amatlah dikira bawel, niatnya, kan, menyingkat waktu. Masih banyak kerjaan.

Dari seberang, aku mendengar suara lelaki itu mengarahkan jalan. Sementara aku mengangguk-angguk senang. "Terima kasih, Pak," sahutku gembira.

Klik. Telepon ditutup. Aku dan Reski kembali berjalan mencari kios sesuai arahan. Sambil sesekali melihat dagangan yang ada di kios sepanjang kami berjalan, pandanganku kemudian bertumpu pada satu sosok yang kurindukan teramat sangat. Dia, ngapain di pasar? Aku mengerjap-kerjap mata cepat, menyadarkan diri. Begitu pun lelaki itu, melihatku dengan tatapan terkejut.

Sementara kami saling menatap kejut, Reski menyenggol bahuku, membuyarkan lamunan. "Jadi, kita mau syuting di mana?"

Aku tergagap. Dia kembali. "Di toko itu," jawabku menunjuk toko dengan 'dia' di dalamnya.

Post a Comment