Skip to main content

Satu

Aku tengah mencari blok kios sayur di pasar tradisional bersama seorang teman laki-laki yang bertugas sebagai kameramenku. Lumayan ribet mencari kios yang aku sendiri lupa tempatnya di mana.

"Sori, aku agak lupa. Seingatku di blok ini," aku menjentikkan telunjuk, mengetuk-ngetuk dagu sembari terus berjalan mendahului Reski, kameramenku.

Hari ini rencananya kami mau meliput usaha sayur milik Bu Rosyidah yang katanya sudah buka sejak tahun 70-an. Bahkan sempat mengalami kebakaran dua kali saat Pasar Wonokromo ludes dilalap si jago merah di tahun 1992 dan 2002. Hebatnya, beliau tidak patah arang, tetap berdagang sayur meski kala itu keuangan sedang carut marut.

"Ingat?" Reski menegurku. Membuat langkahku perlahan terhenti dan melihat sekeliling. Tidak ada satupun wajah pedagang yang kukenal.

Aku menggeleng. "Mestinya kiosnya di sini. Tapi aku lupa," ujarku lemah. Kebiasaan disorientasi tempat dan arahku selalu kambuh. Hampir setiap hari bahkan. Empat-lima detik aku berpikir sambil masih memandang berkeliling. Ah, iya, kenapa aku tidak menelepon beliau? Tanyaku girang dalam hati. Dan aku baru ingat. Bodohnya...

Secepat kilat aku mencari kontak Bu Rosyidah, meneleponnya, minta diarahkan jalan. Sebenarnya lucu juga kalau aku lupa arah jalan di pasar yang sudah punya blok khusus sayuran ini. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga lupa, nggak ingat.

"Assalamualaikum, Bu Rosyidah," aku langsung menyapa begitu nada telepon diangkat.

"Waalaikumsalam. Ya, Mbak?" suara lelaki terdengar menjawab salamku. Lah, kok laki? Mungkin suaminya, begitu pikirku.

Aku tersenyum meringis membayangkan kalimat yang akan meluncur dari mulutku sendiri. Kalimat yang pasti terdengar aneh. "Ng... Anu, Pak, saya Alika, reporter HanTV yang kemarin janjian sama Bu Rosyidah. Saya lupa jalan ke kios Ibu, bisa ditunjukkan jalannya? Saya sekarang ada di depan toko sembako lima jaya," aku mencecar. Sebodo amatlah dikira bawel, niatnya, kan, menyingkat waktu. Masih banyak kerjaan.

Dari seberang, aku mendengar suara lelaki itu mengarahkan jalan. Sementara aku mengangguk-angguk senang. "Terima kasih, Pak," sahutku gembira.

Klik. Telepon ditutup. Aku dan Reski kembali berjalan mencari kios sesuai arahan. Sambil sesekali melihat dagangan yang ada di kios sepanjang kami berjalan, pandanganku kemudian bertumpu pada satu sosok yang kurindukan teramat sangat. Dia, ngapain di pasar? Aku mengerjap-kerjap mata cepat, menyadarkan diri. Begitu pun lelaki itu, melihatku dengan tatapan terkejut.

Sementara kami saling menatap kejut, Reski menyenggol bahuku, membuyarkan lamunan. "Jadi, kita mau syuting di mana?"

Aku tergagap. Dia kembali. "Di toko itu," jawabku menunjuk toko dengan 'dia' di dalamnya.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…