Skip to main content

Dua

Aku menatap layar ponsel yang cahayanya mulai meredup. Ada rasa bersalah, enggan, kasihan, tapi ingin memberontak bercampur menjadi satu. Aku tahu ini masalah sepele, tapi terlalu sulit untuk diselesaikan. Yang membuat sulit tentu saja kenapa aku? Kenapa harus dia? Kenapa bukan dia yang lain?

Aku mendesah panjang, cukup penat dengan masalah ini. Masalah yang justru jauh lebih memusingkan dibandingkan perkara pekerjaan dan masalah klasik tanggal tua, bokek. Kupandangi cangkir berisi espresso yang tinggal separuh isinya. Bibirku tersungging tipis mengingat celetukan seseorang, teman ngopi yang selalu hadir diam-diam dalam mimpiku. Lalu paginya menjelma menjadi bongkahan rindu.

"Suka espresso, Al? Kopi pekat dengan sedikit biji?" lelaki itu tersenyum memandangku. Aku tahu, sebentar lagi dia akan berfilosofi, menyamakan kopi pilihanku dengan pribadi.

"Kau tahu, apa yang dipilih menunjukkan diri orang itu sendiri? Cerminan diri," dia menyesap cangkir kopinya, meletakkan kembali dengan pandangan tidak beralih dariku. Dia menatapku. Tatapan yang kurindukan.

Aku terdiam, menunggu kalimatnya.

"Espresso itu pahitnya kuat. Tapi diramu dari sedikit biji kopi. Persis kau yang hanya sedikit bicara, menyimpan masalah sendiri, tapi mengecap banyak rasa sekaligus. Akibatnya? Ya itu, masalah-masalahmu berkumpul jadi satu. Jadi stres sendiri," dia menyimpulkan. Yang mau tidak mau membuatku mengulum senyum tipis. Betapa aku merindukannya.

Ah, lagi-lagi kejadian itu membuatku tersenyum. Aku tahu, mengharapnya bagai punuk merindukan bulan. Tapi selama aku masih punya mimpi, bukankah harapan itu juga masih tersisa?

Aku menyesap kopiku, memainkan tepian cangkir sembari melamun, membayangkan kejadian malam-malam lalu dengannya. Apa mungkin dia datang kemari? Di tujuh hari menjelang hariku? Memangnya peduli apa dia padaku? Senyumku tersungging membayangkan. Tentu saja itu tidak mungkin.

Sebuah tepukan di bahu membuyarkan seluruh lamunanku. Belum genap kagetnya, si penepuk sudah duduk di bangku kosong di depanku, tersenyum lebar.

"Hei hei, masih suka espresso?"

Aku tertegun. Dia datang kembali.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…