Saturday, March 2, 2013

Dua

Aku menatap layar ponsel yang cahayanya mulai meredup. Ada rasa bersalah, enggan, kasihan, tapi ingin memberontak bercampur menjadi satu. Aku tahu ini masalah sepele, tapi terlalu sulit untuk diselesaikan. Yang membuat sulit tentu saja kenapa aku? Kenapa harus dia? Kenapa bukan dia yang lain?

Aku mendesah panjang, cukup penat dengan masalah ini. Masalah yang justru jauh lebih memusingkan dibandingkan perkara pekerjaan dan masalah klasik tanggal tua, bokek. Kupandangi cangkir berisi espresso yang tinggal separuh isinya. Bibirku tersungging tipis mengingat celetukan seseorang, teman ngopi yang selalu hadir diam-diam dalam mimpiku. Lalu paginya menjelma menjadi bongkahan rindu.

"Suka espresso, Al? Kopi pekat dengan sedikit biji?" lelaki itu tersenyum memandangku. Aku tahu, sebentar lagi dia akan berfilosofi, menyamakan kopi pilihanku dengan pribadi.

"Kau tahu, apa yang dipilih menunjukkan diri orang itu sendiri? Cerminan diri," dia menyesap cangkir kopinya, meletakkan kembali dengan pandangan tidak beralih dariku. Dia menatapku. Tatapan yang kurindukan.

Aku terdiam, menunggu kalimatnya.

"Espresso itu pahitnya kuat. Tapi diramu dari sedikit biji kopi. Persis kau yang hanya sedikit bicara, menyimpan masalah sendiri, tapi mengecap banyak rasa sekaligus. Akibatnya? Ya itu, masalah-masalahmu berkumpul jadi satu. Jadi stres sendiri," dia menyimpulkan. Yang mau tidak mau membuatku mengulum senyum tipis. Betapa aku merindukannya.

Ah, lagi-lagi kejadian itu membuatku tersenyum. Aku tahu, mengharapnya bagai punuk merindukan bulan. Tapi selama aku masih punya mimpi, bukankah harapan itu juga masih tersisa?

Aku menyesap kopiku, memainkan tepian cangkir sembari melamun, membayangkan kejadian malam-malam lalu dengannya. Apa mungkin dia datang kemari? Di tujuh hari menjelang hariku? Memangnya peduli apa dia padaku? Senyumku tersungging membayangkan. Tentu saja itu tidak mungkin.

Sebuah tepukan di bahu membuyarkan seluruh lamunanku. Belum genap kagetnya, si penepuk sudah duduk di bangku kosong di depanku, tersenyum lebar.

"Hei hei, masih suka espresso?"

Aku tertegun. Dia datang kembali.

Post a Comment