Friday, May 31, 2013

#BloggerBicara Komunitas

Source: socialmediaexaminer.com

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Butuh teman, butuh bantuan.

Bicara teman, bicara komunitas. Ini adalah event pertama saya mengikuti kopdar dengan orang-orang yang belum pernah sekalipun saya kenal dan temui, termasuk nama. Berbeda dengan Kopdar Plurk yang sebelumnya kami banyak bertemu di dunia maya dan berkomunikasi melalui sms, telepon, LINE dan WhatsApp. Mengikuti ajang kopi darat tersebut, saya membawa komunitas PlurkSBY bersama dengan 6 teman lainnya. Acara kopdar dilaksanakan di JX Internasional yang lokasinya tepat di depan kantor dan bertepatan dengan event Festival TIK 2013. Meski dekat dengan kantor, saya memutuskan untuk pulang sejenak sembari menyiapkan buku-buku donor yang akan dikumpulkan oleh PlurkSBY.

Well, bicara komunitas, menurut kalian, apa sih arti komunitas?

Dulu, di zaman sekolah, saya hanya mengira-ngira bahwa komunitas adalah sekumpulan orang yang memiliki hobi bersenang-senang. Tapi seiring waktu, arti komunitas bagi saya semakin berkembang--meski sedikit :p. Bagi saya, komunitas bukan hanya sekumpulan orang-orang yang suka bersenang-senang. Tapi juga merupakan sekelompok teman yang memiliki satu visi dan misi. Biasanya, komunitas berangkat dari satu kesamaan yang sama, hobi. Sebut saja komunitas PlurkSBY yang berangkat dari satu kesukaan yang sama, ngeplurk! Hahaha.

Bertemakan #BloggerBicara Komunitas, acara temu blogger tersebut diadakan oleh Komunitas Blogger Blogdetik. Jujur saja, saya nggak punya akun Blogdetik. Secara mengurus satu blog sendiri saja sering malas, gimana kalau dua, tiga, atau empat blog? :p.

Acara dimulai pukul 18.30 dengan pendaftaran paling lambat sehari sebelumnya. Acara dibatasi hanya untuk 100 pendaftar pertama. Di acara tersebut, kami tidak saling mengenal satu sama lain namun dipaksa untuk membuat komunitas kecil berisi 10 orang--yang akhirnya menggelembung. Membentuk komunitas secara dadakan membuat pikiran saya kembali ke zaman MOS SMP-SMA-Kuliah. Hanya bedanya, di sekolah dulu, pembentukan anggota kelompok sudah ditentukan panitia. Kali ini, kami yang semula duduk berjajar harus membentuk komunitas secepat mungkin.

Source: Blogdetik


Membentuk komunitas yang tidak berangkat dari satu visi, misi, dan hobi yang sama ternyata tidak menimbulkan kesulitan tersendiri. Sebab, setelah berkumpul, kami diminta untuk membuat nama kelompok dan yel-yel. Tidak sulit, karena kemungkinan besar masing-masing dari kami sudah terbiasa berkumpul, bekomunitas. Komunitas bentukan kami saat itu bernama Sus(h)i Malang, singkatan dari Surabaya, Sidoarjo, malang, Lamongan, dan Aceh, yang merupakan asal dari teman-teman sekomunitas.

Source: Blogdetik
Komunitas Sus(h)i Malang

Acara dipandu oleh MC kocak yang sinting sekali, Karel Anderson. Semakin malam semakin lama, acara semakin ramai. Gimana nggak? Kalau setelah makan malam menu Lontong Sate, menu diskusi seru pun dimulai. Diskusi seru bertemakan Komunitas ini membuat saya paham dan tahu apa itu komunitas dan bagaimana cara membentuk serta mempertahankannya. Dalam diskusi tersebut, peserta diskusi pun juga mengungkapkan isi hatinya tentang susahnya berkomunitas. Mulai dari minimnya anggota yang datang, waktu yang tidak sama, hingga masalah lainnya--yang membuat anggota komunitas menjadi malas untuk ikut.



Source: Blogdetik
Serunya bicara komunitas

Dalam sesi diskusi tersebut, saya simpulkan sendiri, bahwa untuk membentuk komunitas, satu visi, misi, dan hobi atau kesamaan kesukaan bukan menjadi satu hal penting untuk membangun suatu komunitas. Namun, konsistensi, kontribusi, serta kerjasama yang cukup, nyatanya yang diperlukan dalam satu komunitas. Komunitas bukanlah organisasi terstruktur. Tapi komunitas adalah sekelompok massa yang membutuhkan konsistensi kontributor untuk mempertahankannya. Ya, bisa dibilang kalau komunitas tidak membutuhkan ketua. Tapi komunitas justru membutuhkan kontributor. Mbulet?

Jadi begini, jika membentuk komunitas berangkat dari satu visi, misi, dan hobi yang sama dengan struktur ketua, wakil, sekretaris, dan bendahara serta pengurus harian, lalu bedanya komunitas dengan organisasi apa? Padahal, jika ditilik lebih dalam, komunitas cenderung bersifat sukarela dan apa adanya. Komunitas dengan struktur organisasi, mau tidak mau memunculkan pandangan kurang sedap dan terkesan pemaksaan. Sebab, dengan adanya struktur, seseorang akan lebih memiliki beban.

Kendala umum berkomunitas biasanya menyatukan waktu untuk bertemu. Tapi, hal tersebut bisa diantisipasi dengan meluangkan waktu untuk menyamakan, dan menunda hal lain untuk berkumpul. Dalam diskusi tersebut, mengurangi ego dan menyempatkan untuk hadir sejenak bisa menjadi solusi pada masalah yang umum terjadi ini.

Secara umum, bagi saya, berkomunitas adalah perlu. Menambah wawasan, memperbanyak teman, dan memperpanjang umur adalah alasan bagi saya untuk ikut berkomunitas. Sesibuk apapun ritme kerja, Insyaallah dengan berkomunitas membuat hidup menjadi lebih berwarna. Selamat membentuk komunitas!

Source: Blogdetik

Post a Comment