Skip to main content

#BloggerBicara Komunitas

Source: socialmediaexaminer.com

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Butuh teman, butuh bantuan.

Bicara teman, bicara komunitas. Ini adalah event pertama saya mengikuti kopdar dengan orang-orang yang belum pernah sekalipun saya kenal dan temui, termasuk nama. Berbeda dengan Kopdar Plurk yang sebelumnya kami banyak bertemu di dunia maya dan berkomunikasi melalui sms, telepon, LINE dan WhatsApp. Mengikuti ajang kopi darat tersebut, saya membawa komunitas PlurkSBY bersama dengan 6 teman lainnya. Acara kopdar dilaksanakan di JX Internasional yang lokasinya tepat di depan kantor dan bertepatan dengan event Festival TIK 2013. Meski dekat dengan kantor, saya memutuskan untuk pulang sejenak sembari menyiapkan buku-buku donor yang akan dikumpulkan oleh PlurkSBY.

Well, bicara komunitas, menurut kalian, apa sih arti komunitas?

Dulu, di zaman sekolah, saya hanya mengira-ngira bahwa komunitas adalah sekumpulan orang yang memiliki hobi bersenang-senang. Tapi seiring waktu, arti komunitas bagi saya semakin berkembang--meski sedikit :p. Bagi saya, komunitas bukan hanya sekumpulan orang-orang yang suka bersenang-senang. Tapi juga merupakan sekelompok teman yang memiliki satu visi dan misi. Biasanya, komunitas berangkat dari satu kesamaan yang sama, hobi. Sebut saja komunitas PlurkSBY yang berangkat dari satu kesukaan yang sama, ngeplurk! Hahaha.

Bertemakan #BloggerBicara Komunitas, acara temu blogger tersebut diadakan oleh Komunitas Blogger Blogdetik. Jujur saja, saya nggak punya akun Blogdetik. Secara mengurus satu blog sendiri saja sering malas, gimana kalau dua, tiga, atau empat blog? :p.

Acara dimulai pukul 18.30 dengan pendaftaran paling lambat sehari sebelumnya. Acara dibatasi hanya untuk 100 pendaftar pertama. Di acara tersebut, kami tidak saling mengenal satu sama lain namun dipaksa untuk membuat komunitas kecil berisi 10 orang--yang akhirnya menggelembung. Membentuk komunitas secara dadakan membuat pikiran saya kembali ke zaman MOS SMP-SMA-Kuliah. Hanya bedanya, di sekolah dulu, pembentukan anggota kelompok sudah ditentukan panitia. Kali ini, kami yang semula duduk berjajar harus membentuk komunitas secepat mungkin.

Source: Blogdetik


Membentuk komunitas yang tidak berangkat dari satu visi, misi, dan hobi yang sama ternyata tidak menimbulkan kesulitan tersendiri. Sebab, setelah berkumpul, kami diminta untuk membuat nama kelompok dan yel-yel. Tidak sulit, karena kemungkinan besar masing-masing dari kami sudah terbiasa berkumpul, bekomunitas. Komunitas bentukan kami saat itu bernama Sus(h)i Malang, singkatan dari Surabaya, Sidoarjo, malang, Lamongan, dan Aceh, yang merupakan asal dari teman-teman sekomunitas.

Source: Blogdetik
Komunitas Sus(h)i Malang

Acara dipandu oleh MC kocak yang sinting sekali, Karel Anderson. Semakin malam semakin lama, acara semakin ramai. Gimana nggak? Kalau setelah makan malam menu Lontong Sate, menu diskusi seru pun dimulai. Diskusi seru bertemakan Komunitas ini membuat saya paham dan tahu apa itu komunitas dan bagaimana cara membentuk serta mempertahankannya. Dalam diskusi tersebut, peserta diskusi pun juga mengungkapkan isi hatinya tentang susahnya berkomunitas. Mulai dari minimnya anggota yang datang, waktu yang tidak sama, hingga masalah lainnya--yang membuat anggota komunitas menjadi malas untuk ikut.



Source: Blogdetik
Serunya bicara komunitas

Dalam sesi diskusi tersebut, saya simpulkan sendiri, bahwa untuk membentuk komunitas, satu visi, misi, dan hobi atau kesamaan kesukaan bukan menjadi satu hal penting untuk membangun suatu komunitas. Namun, konsistensi, kontribusi, serta kerjasama yang cukup, nyatanya yang diperlukan dalam satu komunitas. Komunitas bukanlah organisasi terstruktur. Tapi komunitas adalah sekelompok massa yang membutuhkan konsistensi kontributor untuk mempertahankannya. Ya, bisa dibilang kalau komunitas tidak membutuhkan ketua. Tapi komunitas justru membutuhkan kontributor. Mbulet?

Jadi begini, jika membentuk komunitas berangkat dari satu visi, misi, dan hobi yang sama dengan struktur ketua, wakil, sekretaris, dan bendahara serta pengurus harian, lalu bedanya komunitas dengan organisasi apa? Padahal, jika ditilik lebih dalam, komunitas cenderung bersifat sukarela dan apa adanya. Komunitas dengan struktur organisasi, mau tidak mau memunculkan pandangan kurang sedap dan terkesan pemaksaan. Sebab, dengan adanya struktur, seseorang akan lebih memiliki beban.

Kendala umum berkomunitas biasanya menyatukan waktu untuk bertemu. Tapi, hal tersebut bisa diantisipasi dengan meluangkan waktu untuk menyamakan, dan menunda hal lain untuk berkumpul. Dalam diskusi tersebut, mengurangi ego dan menyempatkan untuk hadir sejenak bisa menjadi solusi pada masalah yang umum terjadi ini.

Secara umum, bagi saya, berkomunitas adalah perlu. Menambah wawasan, memperbanyak teman, dan memperpanjang umur adalah alasan bagi saya untuk ikut berkomunitas. Sesibuk apapun ritme kerja, Insyaallah dengan berkomunitas membuat hidup menjadi lebih berwarna. Selamat membentuk komunitas!

Source: Blogdetik

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…