Skip to main content

Delapan

Langkahku terhenti begitu melihat dia benar ada di tempat yang kutuju. Dia nyata. Dia hadir kembali. Dan dia... Masih persis seperti dulu. Tampan dengan sedikit jambang dan mata berbingkai.

Aku menelan ludah, memaksa bibir menggeser tempat, ke kanan, ke kiri. Tersenyum. Sebelah tangan kuacungkan. Aku benar-benar lupa cara menyapa yang baik dan benar. Jadi tampak begitu bodoh begini. "Hai," satu kata meluncur di balik bibir dengan senyum beratku. Sementara aku lupa caraku berkenalan, aku juga melupakan seseorang yang langkahnya terhenti karenaku, kameramen.

"Jadi syuting nggak?" tanyanya dengan raut wajah bingung, menoleh bergantian antara wajahku dan toko yang kutunjuk.

Aku gelagapan. 'Eh, oh, iya. Jadi jadi," kepalaku mengangguk-angguk cepat,m bersamaan dengan langkah kaki yang kurasa berat. Ck, semoga bukan hari sial. Aku menggurutu dalam hati, berharap banyak semoga baik-baik saja.
***

Dia pernah hadir dalam hari-hariku. Di masa lalu. Kami bersahabat, tertawa, namun terpisah. Entah karena aku menyatakan cinta atau karena memang keadaan yang memisahkan. Yang jelas, ingatanku tentangnya begitu kuat.
***

Aku tertawa menyapa Ibu yang kujadikan narsum. Kami berbincang--lebih tepatnya basa-basi-- beberapa topik yang berujung pada pembahasan persahabatan kami. You there, kami membahas masa lalu. Masa lalu yang cenderung menyakitkan namun sayang dilewatkan.

"Owalah, jadi kamu Alika, temannya? Yang waktu itu sering main ke rumah, kan? Masyaallah, Ibu nggak nyangka ternyata ini Alika yang Ibu kenal. Apa kabar kamu, Nak?" suara Bu Rosyidah terdengar merdu. Aku juga tidak.menyangka kalau ibu adalah ibunya. Aku lupa-lupa ingat. Pantas saja waktu mencari narsum, aku merasa ingat tapi lupa. Wajar.

Aku mengangguk patuh. "Iya, Bu. Ternyata ini Ibu yang saya kenal. Maaf, saya sempat lupa. Hanya ingat wajah, lupa nama dan identitas, termasuk sebagai ibunya," tanganku menunjuk ke arahnya, tertawa sebiasa mungkin. Meleburkan kegugupan.

"Tapi kamu masih ingat aku, kan?" tanyanya spontan, membuat tawaku lenyap seketika.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…