Monday, May 6, 2013

Delapan

Langkahku terhenti begitu melihat dia benar ada di tempat yang kutuju. Dia nyata. Dia hadir kembali. Dan dia... Masih persis seperti dulu. Tampan dengan sedikit jambang dan mata berbingkai.

Aku menelan ludah, memaksa bibir menggeser tempat, ke kanan, ke kiri. Tersenyum. Sebelah tangan kuacungkan. Aku benar-benar lupa cara menyapa yang baik dan benar. Jadi tampak begitu bodoh begini. "Hai," satu kata meluncur di balik bibir dengan senyum beratku. Sementara aku lupa caraku berkenalan, aku juga melupakan seseorang yang langkahnya terhenti karenaku, kameramen.

"Jadi syuting nggak?" tanyanya dengan raut wajah bingung, menoleh bergantian antara wajahku dan toko yang kutunjuk.

Aku gelagapan. 'Eh, oh, iya. Jadi jadi," kepalaku mengangguk-angguk cepat,m bersamaan dengan langkah kaki yang kurasa berat. Ck, semoga bukan hari sial. Aku menggurutu dalam hati, berharap banyak semoga baik-baik saja.
***

Dia pernah hadir dalam hari-hariku. Di masa lalu. Kami bersahabat, tertawa, namun terpisah. Entah karena aku menyatakan cinta atau karena memang keadaan yang memisahkan. Yang jelas, ingatanku tentangnya begitu kuat.
***

Aku tertawa menyapa Ibu yang kujadikan narsum. Kami berbincang--lebih tepatnya basa-basi-- beberapa topik yang berujung pada pembahasan persahabatan kami. You there, kami membahas masa lalu. Masa lalu yang cenderung menyakitkan namun sayang dilewatkan.

"Owalah, jadi kamu Alika, temannya? Yang waktu itu sering main ke rumah, kan? Masyaallah, Ibu nggak nyangka ternyata ini Alika yang Ibu kenal. Apa kabar kamu, Nak?" suara Bu Rosyidah terdengar merdu. Aku juga tidak.menyangka kalau ibu adalah ibunya. Aku lupa-lupa ingat. Pantas saja waktu mencari narsum, aku merasa ingat tapi lupa. Wajar.

Aku mengangguk patuh. "Iya, Bu. Ternyata ini Ibu yang saya kenal. Maaf, saya sempat lupa. Hanya ingat wajah, lupa nama dan identitas, termasuk sebagai ibunya," tanganku menunjuk ke arahnya, tertawa sebiasa mungkin. Meleburkan kegugupan.

"Tapi kamu masih ingat aku, kan?" tanyanya spontan, membuat tawaku lenyap seketika.

Post a Comment