Skip to main content

Nostalgia: Rambut Nenek

Eits, membaca judul, jangan sampai kalian memikirkan hal yang nggak-nggak. Karena Rambut Nenek yang saya maksud bukanlah sembarang rambut.

Orang Jawa Barat banyak menyebutnya Rambut Nenek sesuai dengan bentuk morfologinya. Tapi orang Jawa Timur justru menyebut makanan ringan berbahan utama gula ini dengan sebutan Arbanat atau Arum Manis. Arbanat adalah jajanan tempoe doeloe yang dijajankan oleh seorang pedagang keliling dengan alat musik gesek menemani. Khas sekali. Bahkan bisa ditebak, jika ada penjaja makanan membunyikan alat musik geseknya, maka itu berarti penjual Arbanat.

Arbanat adalah makanan dari Lamongan--ini versi penjaja Arbanat. Yang kini keberadaannya bisa dibilang mulai tenggelam. Modernisasi membuat satu persatu penjaja Arbanat beralih menjadi penjaja makanan yang lebih masa kini. Padahal, kalau ditilik lebih dalam, Arbanat adalah jajanan sejuta umat yang nikmat tiada tara tiada banding. *halah*

Di kota besar seperti Surabaya, eksistensi penjaja Arbanat bisa dibilang sedikit. Beruntung, daerah tinggal saya masih cukup sering dilewati oleh penjaja-penjaja makanan ringan tempo dulu.

Pagi itu, masih seperti pagi sebelumnya. Penjaja Arbanat menggesek alat musiknya--yang saya lupa menanyakan namanya :/-- dan berjalan santai di depan rumah. Saya sengaja memanggilnya untuk bernostalgia.

Masih sama persis dan tidak ada yang berubah sedikit pun dari masa lalu saya. Penjaja Arbanat masih menggunakan tempat layaknya kaleng kerupuk dengan dua tutup. Satu tutup berisi Arbanat, sisanya untuk uang. Biasanya, penjaja Arbanat menjual dagangannya seharga 1000 rupiah untuk Arbanat dengan potongan koran sebagai tempatnya. Sambil menunggu pesanan (saat itu saya membeli 3000 rupiah dengan wadah plastik) saya sempat berinteraksi dengan penjaja.

Bahan baku Arbanat adalah gula dan air. Dimana porsi gula lebih banyak dibanding air. 2 kg gula dicairkan dengan 1 liter air hingga mengeras seperti bahan baku Gulali yang bisa dibentuk beraneka ragam. Setelah mengeras, bahan Gulali tersebut ditarik-tarik hingga menyerupai rambut-rambut halus dan kering. Itulah kenapa beberapa orang menyebutnya Rambut Nenek. Selain bentuk, warnanya yang putih pudar mirip uban.

Proses pembuatan Arbanat terbilang cukup lama. Untuk mencairkan gula, membutuhkan 2 jam proses pengadukan. Proses ini tidak boleh diabaikan. Sebab, jika lengah sedikit, gula akan kembali mengkristal. Kemudian proses penarikan dan pengeringan membutuhkan waktu 30 menit.

Setiap harinya, penjaja Arbanat ini menyiapkan 2 kg bahan untuk dijajankan. Dan memulai segala prosesnya pada petang hari.

Arbanat, Arum Manis, atau Rambut Nenek, apapun namanya, makanan ringan tersebut sudah seharusnya dilestarikan. Tentu kita tidak ingin jajanan era 80-an ini lenyap begitu saja, bukan? Rasanya yang legit mengingatkan kita, bahwa jajanan tempo dulu pada kenyataannya tidak semanis masa kini.







Comments

WINARDI satrio said…
ndak ada vidio proes pembuatannya ta ? pingin tau bgt nih
Atiqoh Hasan said…
nggak ada, nih, kak. itu kan beli langsung jadi, hehehe

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…