Saturday, June 1, 2013

Nostalgia: Rambut Nenek

Eits, membaca judul, jangan sampai kalian memikirkan hal yang nggak-nggak. Karena Rambut Nenek yang saya maksud bukanlah sembarang rambut.

Orang Jawa Barat banyak menyebutnya Rambut Nenek sesuai dengan bentuk morfologinya. Tapi orang Jawa Timur justru menyebut makanan ringan berbahan utama gula ini dengan sebutan Arbanat atau Arum Manis. Arbanat adalah jajanan tempoe doeloe yang dijajankan oleh seorang pedagang keliling dengan alat musik gesek menemani. Khas sekali. Bahkan bisa ditebak, jika ada penjaja makanan membunyikan alat musik geseknya, maka itu berarti penjual Arbanat.

Arbanat adalah makanan dari Lamongan--ini versi penjaja Arbanat. Yang kini keberadaannya bisa dibilang mulai tenggelam. Modernisasi membuat satu persatu penjaja Arbanat beralih menjadi penjaja makanan yang lebih masa kini. Padahal, kalau ditilik lebih dalam, Arbanat adalah jajanan sejuta umat yang nikmat tiada tara tiada banding. *halah*

Di kota besar seperti Surabaya, eksistensi penjaja Arbanat bisa dibilang sedikit. Beruntung, daerah tinggal saya masih cukup sering dilewati oleh penjaja-penjaja makanan ringan tempo dulu.

Pagi itu, masih seperti pagi sebelumnya. Penjaja Arbanat menggesek alat musiknya--yang saya lupa menanyakan namanya :/-- dan berjalan santai di depan rumah. Saya sengaja memanggilnya untuk bernostalgia.

Masih sama persis dan tidak ada yang berubah sedikit pun dari masa lalu saya. Penjaja Arbanat masih menggunakan tempat layaknya kaleng kerupuk dengan dua tutup. Satu tutup berisi Arbanat, sisanya untuk uang. Biasanya, penjaja Arbanat menjual dagangannya seharga 1000 rupiah untuk Arbanat dengan potongan koran sebagai tempatnya. Sambil menunggu pesanan (saat itu saya membeli 3000 rupiah dengan wadah plastik) saya sempat berinteraksi dengan penjaja.

Bahan baku Arbanat adalah gula dan air. Dimana porsi gula lebih banyak dibanding air. 2 kg gula dicairkan dengan 1 liter air hingga mengeras seperti bahan baku Gulali yang bisa dibentuk beraneka ragam. Setelah mengeras, bahan Gulali tersebut ditarik-tarik hingga menyerupai rambut-rambut halus dan kering. Itulah kenapa beberapa orang menyebutnya Rambut Nenek. Selain bentuk, warnanya yang putih pudar mirip uban.

Proses pembuatan Arbanat terbilang cukup lama. Untuk mencairkan gula, membutuhkan 2 jam proses pengadukan. Proses ini tidak boleh diabaikan. Sebab, jika lengah sedikit, gula akan kembali mengkristal. Kemudian proses penarikan dan pengeringan membutuhkan waktu 30 menit.

Setiap harinya, penjaja Arbanat ini menyiapkan 2 kg bahan untuk dijajankan. Dan memulai segala prosesnya pada petang hari.

Arbanat, Arum Manis, atau Rambut Nenek, apapun namanya, makanan ringan tersebut sudah seharusnya dilestarikan. Tentu kita tidak ingin jajanan era 80-an ini lenyap begitu saja, bukan? Rasanya yang legit mengingatkan kita, bahwa jajanan tempo dulu pada kenyataannya tidak semanis masa kini.







Post a Comment