Friday, June 7, 2013

Sembilan

Hujan selalu punya cerita. Entah bahagia, rindu, tersakiti, trauma, sendu. Apapun. Aku yakin, setiap orang memiliki kisah bersama hujan. Tapi, aku juga yakin, bahwa tidak semua orang menyukai hujan. Yah, layaknya banyak hal, hujan juga sama persis dengan lainnya. Pros dan contras. But, I'm sure, I'm doing great when rain comes. Berteduh.

Berteduh. Bagi banyak orang juga memiliki arti yang beragam. Berteduh dari hujan, segala bencana, atau masalah sepele harian. Tapi, kurasa, bukan lagi waktunya untuk mengeluh soal hujan jika kau tahu filosofinya.

Ya, hujan. Selain punya cerita, juga punya filosofi--tentunya bagi tiap orang berbeda arti. Tapi menurutku, hujan itu ciptaan Tuhan, fenomena alam, yang mengajarkanku untuk tahu arti kejujuran. Bukan kepura-puraan. Dari rinainya, tetesan yang menghujam bumi, proses dan hasilnya bagi banyak hal, semuanya dilakukan dengan jujur. Tuhan mengontrolnya dengan baik.

Jika dirasa bumi terlalu panas, yang menyebabkan banyak orang mengeluh, maka hujan turun. Tuhan mengaturnya. Jika hujan terlalu deras, kurasa memang ia sedang rindu dengan bumi. Dengan tanaman-tanaman yang terlalu kering. Padi, bawang, dan aneka rupa sayuran. Psst, hujan juga punya rindu. Ia juga punya amarah. Masih ingat pepohonan roboh akibat hujan, puting beliung, dan merenggut korban? Bukan fenomena asing yang sebenarnya mengharuskan kita untuk waspada dan berkaca, sikap apa yang kurang untuk lingkungan? Karena sebenarnya, alam dan kita adalah siklus dan simbiosis mutualisme.

Tapi yang jelas, selain jujur, hujan juga mengajarkanku arti dari kewaspadaan. Waspada pada banyak hal. Terlebih pada hal-hal kecil di luar ekspektasi dan rencana.
***

"Walaaah, Ibu beneran nggak tahu kalau kamu ini Alika temannya Jalu dulu, Nak. Dari awal, Ibu sebenarnya ingat wajahmu, tapi lupa. Takut salah orang," sembil terkikik sendiri, Bu Rosyidah meletakkan secangkir teh hangat di meja. Aku tersenyum mengangguk maklum. Umur beliau sudah mencapai angka 60-an, wajar jika sedikit alpa. Jangankan beliau, aku saja--yang masih muda begini-- sering lupa.

Tanganku mengibas pelan, membeberkan tanda no problemo. "Nggak apa, Bu. Saya aja juga lupa-lupa ingat. Berapa tahun kita tidak bertemu ya?" Aku melempar tanya yang juga kutujukan pada Jalu. Sambil menoleh pada kami, Jalu yang tengah duduk di bangku dekat piano tersenyum. Bola matanya berputar-putar.

"Almost... hm, 17 tahun, Al?" kedua alisnya diangkat, bertanya padaku.

Baru hampir menjawab pertanyaan Jalu, suara Bu Rosyidah membuatku mengurungkan niat. "Lah sudah selama itu ya? Pantesan aja ibu lupa. Nak Alika juga udah dewasa begini. Dulu pindah tiba-tiba, sih. Nggak sempat main ke sini," telunjuknya menjawil gemas hidungku. Aku tertawa kecil melihatnya. Ah, aku rindu seperti ini. Dulu aku pernah berada pada kondisi begini. Saat aku mulai menyadari ada yang berbeda pada sosok Jalu yang kukenal. Bukan hanya pandai bermain bola, tapi juga pandai melukis. Di sela-sela waktu bermain, dia juga sering membuat bocah seusiaku kala itu, terpesona. Dia sosok pemimpin yang punya banyak teman. Aku sungguh rindu.

"Eh, Al...," tiba-tiba Bu Rosyidah menepuk pundakku, membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh, tersenyum. "Ya, Bu?"

"Sudah pernah ketemu Anjar, kakak Jalu?"

Dua alisku bertautan, menoleh bergantian pada Jalu dan ibunya. Sementara pikiranku berputar, berpikir keras siapa Anjar, seperti apa sosoknya.

Dulu sekali, mungkin kami pernah bermain bersama bertiga dengan Jalu. Tapi jarang. Jadi wajar jika aku lupa. Kalau pun bermain bersama, Jalu pasti mendominasi. Begitu pun aku, pasti lengket dengan Jalu.

"Anjar...?" aku menggantungkan kalimatku, bingung bercampur penasaran. Kepala sengaja kumiringkan ke arah Jalu, meminta bantuan.

Jalu tertawa. "Sebentar," dia beranjak meninggalkan kami. Mungkin pergi ke belakang rumah.

Sementara aku masih bingung, Bu Rosyidah sudah berganti topik pembicaraan. Mulai dari ngomongin harga komoditas naik, elpiji, BBM, sampai harga pakaian dan kebutuhan lainnya. Semuanya kujawab dengan antusias. Seantusias sesama pedagang yang menemukan obrolan yang klop.

Tidak berapa lama meninggalkan kami, Jalu datang dengan seorang laki-laki yang benar asing buatku. Katanya, itu Anjar. Dengan posisi bersisian, Jalu mengajakku untuk berkenalan dengan kakaknya. Kami bersalaman, berkenalan, dan terlibat obrolan yang cukup panjang. Singkatnya, Anjar adalah seorang manajer operasional di salah satu kafetaria terkenal di Surabaya. Berbeda dengan Jalu yang merupakan pekerja bank dengan karir yang cukup menanjak.

Sekilas, aku menyebutnya de javu. Seperti tersedot time tunnel, aku merasa nyaman dengan keluarga ini. Cukup lama aku berada di tengah dua anak laki-laki Bu Rosyidah hingga Jalu mengingatkanku untuk segera pulang. Hari telah larut dan dia bersedia mengantarku pulang, meski sebenarnya aku bisa sendiri.
***

Malam ini indah. Aku bertemu keluarga hangat dengan dua anak laki-laki yang sama menyenangkan. Tapi satu yang berarti bagiku, aku bisa berbicara banyak dengan Jalu. Jalu, sosok masa laluku yang kembali hadir setelah berpisah 17 tahun. Aku menyimpan secuil rasa manis di ujung hatiku yang malam ini berubah menjadi segumpal harapan. Jalu, sosok masa lalu yang seolah membangunkanku dari tidur panjang. Namanya... Jalu.

Post a Comment