Friday, June 21, 2013

Social Media for Social Movement

source: pesanlogo.net

Di era digital seperti sekarang, siapa yang tidak mengenal sosial media? Hampir dipastikan tidak sedikit yang mengaku kenal, atau minimal tahu. Jika, dulunya sosial media ini sebagai ajang curhat—yang sampai sekarang masih sama— ternyata, percaya atau tidak, sosial media juga memiliki manfaat yang oke punya. Nggak percaya?

Sebagai pengguna sosial media aktif, tentu kita masih ingat kerusuhan Mesir yang cukup menyita perhatian dunia, awal tahun 2011 lalu. Kerusuhan dipicu oleh sejumlah ketimpangan sosial yang terjadi selama kepemimpinan presiden Hosni Mubarok. Selama 3 dekade, Hosni Mubarok memimpin Mesir dengan membiarkan pengangguran, kemiskinan merajalela, dan korupsi di kalangan pemerintahan. Rakyat bosan dengan kondisi tersebut dan akhirnya menghimpun massa melalui situs jejaring sosial, Facebook. Dan ka-boom! Demonstrasi besar-besaran terjadi dengan cepat. Facebook diblokir. Suasana semakin mencekam, ribuan WNI tegang. Karena Facebook. Rakyat Mesir bergejolak, menyelamatkan negara, rindu keamanan.

Tidak jauh berbeda dengan Facebook, Twitter juga memiliki peranan yang cukup kuat dalam menghimpun massa. Berawal dari satu kesukaan yang sama antarakun, terbentuk satu akun sosial bersama, menjadi komunitas. Komunitas inilah yang kemudian menghimpun massa lebih banyak untuk membuat satu agenda. Sebut saja satu komunitas pecinta lingkungan yang menghimpun massa untuk menanam mangrove, menanam bibit tanaman, dan bersih sungai. Dari Twitter, sosial media.

See? Sosial media ternyata memiliki pengaruh kuat untuk memengaruhi siapa saja yang terlibat di dalamnya. Asal satu visi dan misi. Sosial media memiliki peranan penting untuk membuat user menjadi lebih cerdas, bukan hanya sebagai user reguler, tapi juga berpengetahuan, serta mampu membuat perubahan.

Berawal dari mengikuti sebuah talkshow bertajuk Social Media for Social Movement, saya pikir, kekuatan sosial media begitu besar. Banyak agenda besar yang mampu memutarbalikkan pikiran dari biasa saja menjadi lebih kreatif dan tertata. Tapi, jangan salah, berlaku juga kebalikan. But sure, user sosial media kebanyakan juga mudah terpengaruh (dalam konteks positif dan negatif) untuk melakukan perubahan. Berawal dari satu langkah perubahan, kenyataannya, pada akhirnya, cukup banyak massa yang terhimpun dan bersama-sama do something.

Karena perubahan itu bersifat statis, tidak bisa tetap, maka jangan salah jika sosial media juga memiliki peranan penting dalam mengubah lingkungan menjadi lebih buruk. Nggak percaya? Beberapa kasus trafficking menyebutkan bahwa antara korban dan pelaku adalah orang yang baru berkenalan dari sosial media. Berawal dari sosial media, menjadi mucikari. Berawal dari sosial media, menjadi germo, dst.


Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Pun dunia maya, termasuk sosial media. Social media for social movement, kenapa tidak? Karena pada prinsipnya, perubahan menjadi baik atau buruk, bergantung pada agent of change—yang kini bukan hanya mahasiswa saja, tentunya.

Post a Comment