Friday, July 26, 2013

FF: Tanpa Kata

Namanya Noer Sam. Aku memanggilnya Sam. Diakui atau tidak, pertama kali aku mengenalnya, aku sudah tertarik dengan tampilan fisiknya. Kurus, tinggi, rambut ikal sedikit panjang, sorot mata tajam dipadukan dengan alis tebal, membuat wanita yang menatapnya pasti langsung terbuai. Belum lagi hidung mancung dan lesung pipi yang hanya tampak di pipi kanan. Cinta fisik yang membuai. Sisi fisik lain Sam yang menarik adalah tangan dan jemarinya.

Dulu, kukira ada yang aneh dengan tangan lelaki berumur dua puluh delapan tahun itu. Lentik dan gemulai. Tapi aku akhirnya tahu siapa dia sebenarnya, setelah melihat langsung apa yang menjadi pekerjaan sehari-harinya. Dia seorang pelukis dengan aliran surealis. Ya, dia pelukis. Sehari-harinya melukis. Sama halnya dengan pelukis lain, Sam selalu cuek dan diam saat melukis. Hahaha, ya tentunya begitu. Memangnya selama ini ada pelukis yang banyak omong saat melukis? Jarang.

Jujur saja, saat bertandang ke rumahnya yang dibentuk sekaligus menjadi galeri seni, aku langsung terpikat dengan lukisan-lukisan sureal. Awalnya aku tidak paham dengan kategori lukisan yang membutuhkan penjelasan rinci itu. Tapi terlalu sering melihat karya lukisnya, aku jadi jatuh hati. Cinta mati malah. Satu-dua kali aku sempatkan untuk datang ke galerinya untuk mengecek lukisan terbaru tiap minggunya. Padahal, di balik itu semua, aku lebih rindu melihat wajah tampan yang pendiam itu.

Sam memang tampan, juga pendiam. Tapi dia seorang yang humoris, mudah bergaul, dan murah senyum. Yah, siapa sangka jika sifat-sifatnya itu telah membuatku terpedaya, mabuk kepayang. Ah, Sam memang sialan. Selain tampan, dia juga baik hati. Belum lagi sikap manisnya jika aku tengah mengikuti gerakan tangannya, belajar melukis.

Kau tahu, sejak pertemuan tiga tahun lalu, aku langsung jatuh cinta. Aku selalu mati-matian menahan diri agar tidak terlihat mati gaya dan salah tingkah di depannya. Pelan-pelan, Sam mengajariku melukis. Pelan-pelan juga hubungan kami semakin dekat. Tapi aku tahu persis, bahwa mengharapkan Sam menjadi lebih dari seorang teman adalah berlebihan. Ya, bagaimanapun, toh dia seorang mentor.

Perjalananku dengan Sam sudah tidak terhitung lagi. Semakin hari semakin aku merindunya, mencintanya. Aku tahu, itu terlalu berlebihan. Tapi memang begitu adanya. Kadang, menyadari segala ketidakmungkinan itu begitu perih, mengiris hati. Sekuat hati aku juga harus menabahkan diri, menghadapi segala kemungkinan buruk yang mau tidak mau, cepat atau lambat pasti akan terjadi juga. Cinta itu menyedihkan.

"Sam, hari ini kamu mau mengajariku apa?" aku membawa kanvas putih dengan palet di satu tangan. Sementara tanganku yang lain sibuk memencet ponsel, membalas sms dari rekan kerja yang menanyakan keberadaanku. Sepulang kantor tadi, aku sengaja tidak berpamitan pada siapapun. Sungguh aku tidak sabar bertemu dengan Sam. Rindu--meski terkesan berlebihan.

Kakiku melangkah perlahan, melewati ruang belakang. Kulihat Sam tengah serius melukis. Namun, menyadari keberadaanku, dia mengangkat pandangan, melempar senyum. Duh, Sam.

"Hai, Sam," aku balas tersenyum menyapa. Dalam hati tak keruan. Ya, kau tentu tahulah bagaimana rasanya jatuh cinta diam-diam. Aneh, misterius, dan sering geregetan. Sambil mengambil duduk di dekatnya, aku menata papan penyangga. Sesekali kucermati lukisan yang digambarnya. Aku mengeryit, memikirkan makna lukisannya. Seorang wanita menatap ke atas dengan menggunakan topi. Yang menarik, topi si wanita penuh dengan gedung dan teknologi masa depan. Bukan itu saja, pantai dan gunung juga dilukiskan. Pandanganku beralih pada satu mobil gaya klasik nan elegan, limusin, yang terbuka pintunya. Seorang yang mungkin saja adalah sosok lelaki keluar dari pintu limusin. Seorang diri. Kenapa seorang diri?

Jika aku artikan secara kasar, mungkin saja maksudnya adalah seorang wanita yang punya masa depan cerah, visioner, dan terperinci pada kehidupannya. Tapi mobil limusin dengan sosok lelaki seorang diri, apa maksudnya?

Aku berdeham, melempar pandangan pada Sam yang tengah mencampurkan warna pada palet. "Sam," sahutku perlahan, menunggu reaksinya. Dia menoleh. "Laki-laki ini, siapa?" tanyaku kemudian. Bukan hal yang aneh jika aku bertanya demikian, kan?

"Eh, maksudku, kenapa dia sendirian?" buru-buru aku meralat ucapan. Sam, masih dengan mimik wajah seriusnya tersenyum. Palet dan kuas diletakkan, beralih menatapku. Dia, masih sama dengan Sam yang sebelumnya. Sam berhari-hari yang lalu. Hanya diam dan tersenyum. Aku menunggu dengan patuh, membalas senyum.

Pelan-pelan ia bercerita. Aku bisa membaca dan memahami bahasanya. Dia mengisahkan siapa dan apa saja yang ada di lukisannya. Seksama aku mendengarkannya. Aku paham, kemampuanku memahaminya memang jauh berbeda dibandingkan dengan wanita-wanita yang sempat dekat dengannya sebelumku. Mungkin, itulah kenapa kami menjadi dekat.

Dalam cerita yang ia jelaskan, aku menarik kesimpulan. Bahwa lelaki itu adalah Sam yang tengah menunggu seorang wanita. Hatiku seketika berdegup. Siapa wanita itu? Siapa dia? Sedikit geer aku menanggapi Sam. Seulas senyum kuberikan.

Aku meraih tangan Sam yang lentik, meremasnya pelan. Kutatap matanya tegas, "Nanti, Sam. Pada masanya, kamu akan tahu siapa wanita yang layak menjadi pendampingmu," aku bertutur. Tidak bisa kubohongi, ada denyutan memanas yang mengalir di sekujur tubuhku. Rasanya belum rela aku melepas Sam, jika memang ada wanita lain yang layak untuknya. Apa kabar aku? Apa kabar hatiku?

Sam tercenung, menatapku dalam diam. Lekat sekali kami berpandangan hingga aku bisa melihat bayanganku di manik hitamnya. Tangan Sam terulur, menyapu anak rambut yang mampir ke pipiku. Hampir mati rasanya aku berada di titik nol seperti ini. Hormonku naik turun tak keruan. Sialan, Sam. Dengan seksama jemarinya bermain di sekitar wajahku. Hingga kepayang aku tak lagi bisa berpikir. Sebuah isyarat hormon yang memaksaku menutup mata. Menikmati sensasi yang diberikan Sam.

"Sam..." aku membasahi bibirku sendiri, gugup tak biasa. Kupandang lelaki tampan di depanku dengan sejuta tanya. Dia tersenyum. Kembali dia mendekat, mengecup keningku dalam diam. Cinta kadang memang tidak butuh kata, hanya sikap. Dan sikap Sam mungkin adalah jawaban dari kekhawatiranku selama ini. Sam memang tidak bisa berkata-kata, tapi dia bisa bersikap. Dia bisa menceritakan perasaannya, lewat lukisan, padaku.

Sam--satu dari sekian banyak tuna wicara yang juga butuh cinta.
Post a Comment