Friday, July 12, 2013

Short Trip: Pantai Bajul Mati

Perjalanan mengajarkanmu arti dari sebuah proses.

Pintu gerbang Bajul Mati.

Beberapa hari lalu Malang Selatan gempa. Kejadian ini tentu mengingatkan saya pada dua minggu terakhir, di mana posisi saya saat itu berada di lokasi gempa tersebut, Bajul Mati. Wilayah Bajul Mati sendiri merupakan wilayah pesisir yang memang merupakan daerah rawan gempa dan tsunami. Letaknya sama dengan Pantai Tamban dan Pantai Goa Cina, berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Tapi, diakui atau tidak, perjalanan dua minggu lalu adalah mengesankan. Menikmati keindahan karakteristik tiga pantai yang berbeda, tapi masih dalam satu garis bujur.

Pantai Bajul Mati adalah pantai terakhir sebelum kami memutuskan untuk pulang. Terletak bersisian dengan Pantai Goa Cina, jarak Pantai Bajul Mati tidak begitu jauh. Karena Pantai Bajul Mati terletak tepat di balik bukit yang memisahkan dengan Pantai Goa Cina. Malah, saking dekatnya, bisa ditempuh dalam kurun waktu 5 menit saja. Dekatnya jarak ini membuat estimasi waktu untuk sampai Surabaya lebih cepat. Padahal, makin molooor =)).

Selama di perjalanan menuju Pantai Bajul Mati, pengunjung akan disuguhi sebuah jembatan harapan yang mirip dengan jembatan di kota-kota besar. Jembatan kokoh dengan perairan payau (pertemuan antara perairan laut dan perairan air tawar) dilengkapi barisan tanaman pencegah abrasi dan erosi laut, mangrove, di bawahnya. Ya, ini yang membuat Pantai Bajul Mati berbeda dengan Pantai Tamban dan Pantai Goa Cina. Perairan payau yang tenang dengan jenis ikan-ikanan khas bisa dilihat dari atas jembatan. Mau foto? Bisa banget! :p

Jembatan harapan.

Perairan payau.

Memasuki wilayah Pantai Bajul Mati, saya sempat dibuat kaget begitu si penjaga parkir menyebutkan biaya parkir motor sebesar 15000. Gimana nggak? Itu mahal sekali. Setelah sempat bertanya dengan nada nggak enak, ternyata 15000 adalah biaya 2 tiket @6000, 2000 rupiah sebagai jasa asuransi, dan 1000 rupiah untuk parkir. Oh.

Ah iya, penamaan Bajul Mati sendiri katanya penjaga parkir yang sempat saya galaki :p, terlahir dari seekor buaya yang masuk ke desa dan mau memangsa penduduk, tapi mati karena tertimpa pohon. Saat itu sekitar tahun 40-an kalau nggak salah ingat. Sehingga desa di sana dinamakan Bajul Mati, pun pantainya. Yaah, who knows?

6000 rupiah perorang.

Dari tempat parkir motor berada, bibir pantai sudah tampak. Jelas berbeda dengan dua pantai sebelumnya, Pantai Bajul Mati terlihat lebih tandus disertai dengan gazebo-gazebo kecil di dekat pantai. Ada semacam tali peringatan agar pengunjung tidak main-main dengan ombak. Konon, di Bajul Mati ini sering menelan korban, persis dengan Balekambang. Siang hari dan terlihat tandus, membuat kami lebih memilih untuk duduk di gazebo sambil bergosip tralala dan menghabiskan bekal. Sepertinya di sini puncak lelah setelah sebelumnya sibuk jepret-jepret. Tapi yang jelas, sejauh mata memandang, Pantai Bajul Mati ini tampak lebih cadas dan tidak bersahabat. Entah kenapa?

Tampak tandus dan panas.
Gazebo.
Ombak galak.

Meski ada larangan untuk tidak bermain air di pantai, nyatanya pengunjung masih banyak yang bermain-main dengan air. Tapi jangan salah, umumnya pengunjung memilih bermain air di perairan payau yang relatif tenang tanpa ombak. Perairan payau cenderung lebih tenang karena ombak tertambat di akar-akar mangrove. Itulah kenapa mangrove diperlukan bagi wilayah pesisir pantai.

Bukit di perairan payau.
Perairan payau.
Warung-warung.

Ketiga pantai yang kami kunjungi memang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Tapi, ada satu yang sama, yaitu di sekeliling ketiga pantai tersebut sama-sama dikelilingi oleh perbukitan. Membuat pemandangan tampak lebih sejuk dinikmati.

Selain ketiga pantai tersebut, wilayah Selatan Malang masih menyimpan puluhan pantai yang harus disinggahi. Dan tentunya memiliki sejuta pesona yang beragam. Mari luangkan waktu untuk belajar tentang keanekaragaman hayati di tempat kita berpijak. :D
Post a Comment