Friday, July 12, 2013

Short Trip: Pantai Goa Cina

Berjalanlah sejauh kamu mampu, tapi jangan lupa untuk kembali.



Selamat datang di Pantai wisata Goa Cina.

Pantai Goa Cina. Saya tidak pernah tahu tempat ini sebelumnya, hanya sering mendengar. Maklum, saya anak rumahan yang hanya bepergian dengan keluarga—dulunya. Menjelajah wilayah pesisir pantai Selatan Malang membuat saya antusias. Masuk dalam kategori short trip, karena saya berjalan dalam kurun waktu kurang dari satu hari. Yes, I know, everything happen for a reason, include this pretty short trip. What kinda reason?

Perjalanan menuju Pantai Goa Cina dari Pantai Tamban tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar kurang dari 15 menit kalau ngebut di jalanan yang super lengang dan mulus. Tapi jangan salah, dari jalan utama menuju Pantai Goa Cina dijamin menghancurkan pantat. Ini serius, jalanan makadam penuh batu bercampur lumpur. Bisa dibayangkan bagaimana bentuknya, kan? Kalau nggak menjaga keseimbangan, kepleset. Kalau pelan-pelan, beban jadi terasa lebih berat. Kalau terlalu kencang dan cepat, bisa jatuh. Hahaha, lebay ya? :p.

Well, perjalanan dari jalan utama menuju Pantai Goa Cina ada sekitar 15 menit dengan kecepatan sedang menyesuaikan kondisi pantat *ini kenapa bahasannya pantat melulu, deh? =))* di tepi jalan, ada beberapa rumah penduduk yang menjual buah semangka yang aduhai sekali, kayaknya. Secara saat kami hampir sampai, jam sudah menunjukkan pukul 10.30, panas. Kami sempat tergoda, tapi langsung cerdas berpikir, kalau beli, mau dibelah pakai apa? Kalau minta dibelah sekalian, apa sanggup menghabiskan semangka berdua saja? Karena otak cerdas kami mengatakan lebih baik jangan yasudlah, kami lanjutkan perjalanan :p.   

Tidak banyak berbeda dengan Pantai Tamban, di Pantai Goa Cina, tiket masuk dipatok perorang sebesar 5000 rupiah. Nominal ini sama dengan parkir motor yang juga dihargai 5000 rupiah *langsung mikir, kayaknya di Surabaya hanya di Hotel B yang menerapkan harga parkir motor tinggi :p*.

Loket pintu masuk.

Ada yang menggelitik saat kami tiba di Pantai Goa Cina. Jika sebelumnya, saya merasa kurang puas dengan Pantai Tamban, maka kali ini saya khawatir mendapatkan hal serupa, ke-ce-wa. Yaaah, mirip-mirip dengan di-php-inlah *beda woooi! :p*. Tapi perasaan itu musnah seketika saat saya melihat deburan ombak putih bersih dengan air laut yang biru pekat. Perpaduan eksotika warna bukit yang hijau dipadukan dengan jernihnya air laut, putihnya pasir pantai, cerahnya langit, dan arak-arakan awan, membuat saya berdecak kagum. Ini mahakarya. Ini indah. Dan saya menyukainya.

Indah.
Teduh dan sejuk.
 Dilarang mandi, kecek boleh. :p
Kontras.

Kontras. Yang membuat Pantai Goa Cina berbeda dengan PantaiTamban adalah rerimbunan pohon palm-palman yang ada di sekitar bibir pantai membuat teriknya siang terasa lebih menyejukkan. Belum lagi dengan beberapa tenda yang berdiri tidak jauh dari tempat kami berada, bikin pingin melungker, ngantuk :p. Jepret sana-jepret sini, rasanya saya benar-benar jatuh hati dengan pantai ini. Sayang, ombaknya cukup galak, nggakk lucu kalau saya terseret arus rasanya *bilang aja kalau cemen, Tiiiq =))*

Pencari rumput untuk ternak.

Kenapa Goa Cina? Pertanyaan ini mendasar sekali. Sama halnya dengan kejadian yang selalu punya alasan, pun nama. Kata Har, di sekitar pantai, ada goa yang membuat pantai ini mendapat julukan Pantai Goa Cina. Karena penasaran, kami pun berjalan menyusuri tepi pantai sebelah kanan (bayangkan posisi kalau kita menghadap pantai) menuju goa yang dimaksud. Terus terang saja, menyebut nama goa, saya sudah memiliki ketakutan tersendiri. Bukan apa-apa, takut ada apa-apa. Halah, hahaha. Letak Goa Cina sendiri tidak jauh dari bibir pantai. Dihiasi dengan payung kuning dengan aksen khas negeri Tirai Bambu, goa ini terlihat memiliki jalur pendek—kayaknya :p. Di depan goa berada, ada satu kisah atau alasan tentang penamaan Goa Cina sendiri. Alkisah, disebutkan seorang pertapa asal Cina menghilang dan meninggalkan secarik kertas dengan tulisan Hing Hook atau Goa Cina. Nah, sejak itulah pantai ini dinamakan Pantai Goa Cina. Dari atas tebing sinilah, pemandangan di bibir pantai bisa dipotret. Keindahannya, juga keasrian wilayah pesisir pantai. Meeeh, serius bikin pingin nyebur.

Keindahan laut di Pantai Goa Cina ini juga bisa dinikmati sembari bersantai di warung makan yang tersedia. Atau kalau bermalam di lokasi pantai, bisa sambil berteduh di tenda. Ah, iya, soal tenda ini, sebenarnya cukup disayangkan bila keberadaannya ada di sekitar pantai, meski mungkin menyenangkan dan melenakan pikiran. Karena bayangpun, saat saya beranjak dari melihat sekitar pantai, ada sepasang kekasih—yang semoga saja mereka telah sah— tengah berganti baju di tenda yang sama. Yaaa, bukan urusan saya memang, tapi itu mengganggu.


Goa Cina.
Pemandangan dari Goa Cina. Memukau.

Overall, percaya atau enggak, di Pantai Goa Cina ini membuat kami betah berlama-lama sekali duduk sambil asal jepret sana-sini saking nggak tahannya membiarkan keindahan panoramanya dianggurin. Nggak percaya? Buktikan sendiri :D.

Beras mundak, tangan methankring. :p
Warung-warung.
Tenda-tenda.
Kami.
Post a Comment