Sunday, September 29, 2013

Festival Majapahit Internasional 2013

Peserta dari sembilan negara.

Sebenarnya saya hanya mendapat tugas meliput preskon Festival Majapahit Internasional 2013 di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, bukan saat acara berlangsung. Karena saat acara mulai, sudah ada tim kantor yang meliput khusus. Tapi, karena kangen melihat pertunjukan sendratari, akhirnya saya ikut berangkat bersama rombongan jurnalis dan beberapa panitia ke Taman Chandrawilwatikta, Pandaan, Pasuruan, sepulang jam kerja.

Festival Majapahit Internasional 2013 sendiri merupakan festival internasional serupa kedua yang diselenggarakan oleh Disbudpar Jatim setelah vakum 32 tahun dan diikuti oleh sembilan negara Asia. Seperti Laos, Thailand, Malaysia, India, Singapura, Kamboja, Filipina, Myanmar, dan Indonesia. Acaranya berlangsung tiga hari berturut-turut, 11-13 September 2013 lalu. Dibuka dan disaksikan langsung oleh perwakilan duta besar di Jatim, pembukaan acara ini berlangsung sangat meriah. Ada sekitar sepuluh ribu pengunjung memadati Chandrawilwatikta yang tidak dikenakan biaya sepeser pun. Ini yang membuat saya bangga. Acara besar berskala internasional, dihadiri banyak tamu besar, masyarakat tidak dipungut biaya. Nonton sepuasnya, sebosannya.

Acara dimulai pukul 19.30 dengan tarian pembuka dari perwakilan sembilan negara peserta festival. Serius, saya benar-benar terpukau dengan serentetan gerakan tari yang ditarikan puluhan penari pembuka. Saat itu saya berkeyakinan bahwa pasti ada yang lebih menarik dari tarian pembuka. Dan saya tidak salah. Setelah tarian pembuka, peserta dari India menampilkan sendratari kisah Sita dan Rama, Ramayana.



Penampilan asal India.

 Gemuruh pengunjung membuat saya excited. Siapa yang tidak mengenal India? Tentu semua kenal dan bergembira, mengingat hampir sebagian besar penduduk Indonesia menyukai dangdut dan musik India, ngaku? :p. Sayangnya, karena sedari awal saya mengenal film India dan sudah takut melihat om-om brewok, maka settingan panggung dan backsound yang dibuat total India membuat saya merinding. Make up Rahwana dan Rama persis dengan yang ada di buku-buku, menakutkan. Padahal, sendratarinya seru sekali. Diiringi tari-tarian khas India, malam itu saya terhibur.

Pascatarian India, Kamboja menjadi peserta kedua yang menarikan tarian yang saya lupa judulnya apa. Yang jelas, menarikan masa kejayaan kerajaan Ramayana. Dibandingkan dengan India, tarian kedua lebih krik-krik, mungkin karena tidak banyak masyarakat tahu menahu soal kisah yang dipaparkan. Tapi secara total, tetap memukau.


Penampilan asal Kamboja.

Masing-masing peserta mendapatkan jatah tampil selama tiga puluh menit. Tidak terkecuali Indonesia. Dari tiga pertunjukan tiga negara yang disuguhkan, sejujurnya saya begitu bangga dengan tarian yang dibawakan para penari asal STKW. Sekitar dua ratusan penari perwakilan Indonesia menari dengan sangat apik. Berkali-kali saya dan puluhan ribu penonton lainnya bahkan berdecak kagum saking terpesonanya. Membawakan kisah kerajaan Majapahit di bumi Jawa Timur, ternyata, Indonesia begitu kaya. Percayalah, apa yang ada di bumi Indonesia adalah milik kita yang harus dilestarikan. Di akhir cerita, Hayam Wuruk menyisipkan pesan agar rakyat menjaga kelestarian hutan untuk kelangsungan hidup anak cucunya. Di festival ini, Indonesia menjadi satu-satunya peserta yang menampilkan sendratari Majapahit sesuai temanya. Seru, keren, terpukau, dan masih tidak percaya melihat ratusan penari menari dengan kompak dan rancak. Melihat sendratari ini, saya langsung sadar, bahwa sesungguhnya Indonesia memang sangat kaya akan budaya, adat, dan keindahan yang beragam. Sure, I'm proud to Indonesia.

 




Indonesia diwakili STKW Surabaya.
Post a Comment