Skip to main content

Festival Majapahit Internasional 2013

Peserta dari sembilan negara.

Sebenarnya saya hanya mendapat tugas meliput preskon Festival Majapahit Internasional 2013 di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, bukan saat acara berlangsung. Karena saat acara mulai, sudah ada tim kantor yang meliput khusus. Tapi, karena kangen melihat pertunjukan sendratari, akhirnya saya ikut berangkat bersama rombongan jurnalis dan beberapa panitia ke Taman Chandrawilwatikta, Pandaan, Pasuruan, sepulang jam kerja.

Festival Majapahit Internasional 2013 sendiri merupakan festival internasional serupa kedua yang diselenggarakan oleh Disbudpar Jatim setelah vakum 32 tahun dan diikuti oleh sembilan negara Asia. Seperti Laos, Thailand, Malaysia, India, Singapura, Kamboja, Filipina, Myanmar, dan Indonesia. Acaranya berlangsung tiga hari berturut-turut, 11-13 September 2013 lalu. Dibuka dan disaksikan langsung oleh perwakilan duta besar di Jatim, pembukaan acara ini berlangsung sangat meriah. Ada sekitar sepuluh ribu pengunjung memadati Chandrawilwatikta yang tidak dikenakan biaya sepeser pun. Ini yang membuat saya bangga. Acara besar berskala internasional, dihadiri banyak tamu besar, masyarakat tidak dipungut biaya. Nonton sepuasnya, sebosannya.

Acara dimulai pukul 19.30 dengan tarian pembuka dari perwakilan sembilan negara peserta festival. Serius, saya benar-benar terpukau dengan serentetan gerakan tari yang ditarikan puluhan penari pembuka. Saat itu saya berkeyakinan bahwa pasti ada yang lebih menarik dari tarian pembuka. Dan saya tidak salah. Setelah tarian pembuka, peserta dari India menampilkan sendratari kisah Sita dan Rama, Ramayana.



Penampilan asal India.

 Gemuruh pengunjung membuat saya excited. Siapa yang tidak mengenal India? Tentu semua kenal dan bergembira, mengingat hampir sebagian besar penduduk Indonesia menyukai dangdut dan musik India, ngaku? :p. Sayangnya, karena sedari awal saya mengenal film India dan sudah takut melihat om-om brewok, maka settingan panggung dan backsound yang dibuat total India membuat saya merinding. Make up Rahwana dan Rama persis dengan yang ada di buku-buku, menakutkan. Padahal, sendratarinya seru sekali. Diiringi tari-tarian khas India, malam itu saya terhibur.

Pascatarian India, Kamboja menjadi peserta kedua yang menarikan tarian yang saya lupa judulnya apa. Yang jelas, menarikan masa kejayaan kerajaan Ramayana. Dibandingkan dengan India, tarian kedua lebih krik-krik, mungkin karena tidak banyak masyarakat tahu menahu soal kisah yang dipaparkan. Tapi secara total, tetap memukau.


Penampilan asal Kamboja.

Masing-masing peserta mendapatkan jatah tampil selama tiga puluh menit. Tidak terkecuali Indonesia. Dari tiga pertunjukan tiga negara yang disuguhkan, sejujurnya saya begitu bangga dengan tarian yang dibawakan para penari asal STKW. Sekitar dua ratusan penari perwakilan Indonesia menari dengan sangat apik. Berkali-kali saya dan puluhan ribu penonton lainnya bahkan berdecak kagum saking terpesonanya. Membawakan kisah kerajaan Majapahit di bumi Jawa Timur, ternyata, Indonesia begitu kaya. Percayalah, apa yang ada di bumi Indonesia adalah milik kita yang harus dilestarikan. Di akhir cerita, Hayam Wuruk menyisipkan pesan agar rakyat menjaga kelestarian hutan untuk kelangsungan hidup anak cucunya. Di festival ini, Indonesia menjadi satu-satunya peserta yang menampilkan sendratari Majapahit sesuai temanya. Seru, keren, terpukau, dan masih tidak percaya melihat ratusan penari menari dengan kompak dan rancak. Melihat sendratari ini, saya langsung sadar, bahwa sesungguhnya Indonesia memang sangat kaya akan budaya, adat, dan keindahan yang beragam. Sure, I'm proud to Indonesia.

 




Indonesia diwakili STKW Surabaya.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…