Thursday, September 26, 2013

Sandal yang Tertukar #1

Lelaki berparas bersih itu menghembuskan napas berat. Di tangannya ada secarik kertas yang dilipat perlahan. Dari raut wajahnya, terlihat dia tengah dirundung duka. Tubuhnya yang tegap meski tidak gagah, kini lesu. Dua pundaknya layu dengan kepala tertunduk. Berkali-kali pandangannya beralih, bergantian antara buih air laut dan kertas yang dibawa. Kakinya dibuat menyilang, posisi benar-benar putus asa. Tidak dihiraukannya gegap gempita sekitar yang tengah merayakan malam pergantian tahun. Padahal langit cerah dengan aneka warna kembang api. Sekilas, dari kejauhan tempatku berdiri bersandar, kulihat dia meremas kertas yang dibawa dan melemparnya kuat ke lautan. Lelaki berkacamata bingkai hitam itu membuang kertas yang sudah digenggamnya beberapa saat. Mungkin dia kesal. Sejurus kemudian, kulihat dia mengacak-acak rambutnya kasar, saat yang kurasa tepat untukku bergabung, barangkali.

Aku melangkah meninggalkan tempatku berdiri, berjalan menuju lelaki itu. Terus terang, aku penasaran. Memangnya, ada masalah apa sampai dia harus terlihat sedepresi itu? Aku mempercepat langkahku seraya membenarkan anak rambut yang beterbangan tertiup angin. Malam ini cerah, ramai, dan angin malam bertiup cukup kencang. Seharusnya bisa dinikmati dengan secangkir cokelat panas di warung tepi pantai. Bukan merenung sendiri menyesali nasib, seperti dia, lelaki tampan nan pemurung itu.

"Hai," aku berdiri di dekatnya, sengaja menyapa tanpa langsung duduk di sisinya. Dua-tiga detik dia tak bereaksi sampai aku kembali menyapa untuk kali kedua dengan sapaan yang sama.

"Sori, aku Dira. Boleh duduk di sini?" aku bertanya tanpa basa-basi setelah dia mendongakkan kepala menatapku. Aku melempar senyum, meminta dengan sopan.

Dia mengangguk lalu acuh.

Aku tertawa kecil melihat reaksinya. Pundakku bergetar pelan. "Tahun baru, mestinya orang punya harapan baru, memperbaiki apa saja yang kurang. Bukan malah sedih dan menyendiri," aku bermonolog. Cuek saja meski dia tidak peduli. Kalau pun dia peduli, mungkin dia menganggap bahwa aku orang gila. Stres karena bicara sendiri.

"Seharusnya kau paham kalau harapan itu masih ada. Bukan malah menyesali kenapa apa yang kau inginkan terlepas begitu saja," aku terus beropini. Sifat sok tahuku muncul. Pede saja.

Semilir angin malam membuai, membuatku terlarut pada apa saja yang terlintas di pikiranku. "Kau mencemaskan wanita yang tidak menganggapmu ada?" pertanyaanku meluncur begitu saja. Aku pun tidak sepenuhnya sadar pada yang kulontarkan. Yang jelas, berhasil membuat raut wajahnya berubah, menatapku.

Aku meringis. "Sori," mataku menyipit, meminta maaf.

Bukan aku mau ikut campur urusan orang, hanya saja aku tertarik menanggapi. Bagiku, tabu melihat orang sedih di malam pergantian tahun. Terlebih lelaki.

Pandangan lelaki itu menyipit, alisnya hampir bertaut. "Kau siapa?" tanyanya yang langsung kujawab dengan uluran tangan.

"Dira. Nadira," aku menyebut nama panggilan dan pendekku, memperkenalkan diri. "Kau?"

"Tom," dia menjawab, mengabaikan uluran tanganku, dan beranjak pergi meninggalkanku.

Sudah biasa. Aku mengedikkan bahu, tersenyum kecut.
***

Dua hari lalu saat malam pergantian tahun, kali pertama aku bertemu dengannya. Lelaki berparas bersih, tampan, berkacamata, namun tengah bersedih. Pemandangan yang tentu kontras dengan sekelilingnya. Debur ombak, pesta kembang api, suka cita, dan harapan.

Aku memainkan pensil di tangan kananku. Sesekali kugigit ujungnya jika otakku benar-benar buntu. Pagi ini Parangtritis sepi. Hanya ada beberapa turis berkunjung dengan two tone swim suit. Seperti biasa, aku tidak peduli. Aku lebih fokus pada apa yang menjadi topik penulisan bukuku selanjutnya. Draft novel biasa kutulis saat aku sedang sendiri. Karena aku tahu, ide selalu datang saat aku menyendiri di tempat yang tenang. Hamparan pasir pantai dengan angin semilir sesekali membuatku terlena. Namun ide tak kunjung datang. Pikiranku tengah penuh dengan bayangan lelaki di malam pergantian tahun, Tom. Sejak pertemuan malam itu, aku tidak pernah bertemu lagi. Tapi wajahnya yang muram justru sulit kuhapus dari ingatan.

Aku membuang napas. Pensil dan block note hijau tempatku menulis draft kuletakkan di sisiku. Kututup mata perlahan diiringi tarikan napas satu-dua. Aku bermeditasi, menenangkan pikiran, menggali ide lebih dalam. Breath in, breath out. Aku menikmati sensasi menenangkan jiwa yang kuciptakan. Meditasi selalu membuatku tenang.

"Kau sedang apa, heh?" suara seorang laki-laki mengagetkan, membuat mataku terbuka seketika. Lelaki malam itu sudah duduk tepat di depanku, memandangku heran.

Ini terlalu tiba-tiba. Dia datang dan mengagetkan. Mataku mengerjap-kerjap cepat. Seulas senyum kusunggingkan kecil. "Hai, Tom," aku menyapanya seraya membenarkan posisi duduk. "Aku sedang meditasi," lanjutku senang melihatnya lagi.

Tom mengangkat alis. "Ya?"

"Ya. Kau tahu? Untuk ukuran orang dewasa, meditasi cukup membantu menghilangkan stres. Apalagi masalah paceklik hati sepertimu malam lalu," aku terkikik menyindirnya. Dia melotot.

Sebenarnya, bukan aku sengaja membuatnya ingat pada malam itu. Tapi apa daya aku keceplosan. "Kau mau mencobanya, Tom?"

Setahuku, meditasi dan yoga seringkali membuat perasaan seseorang menjadi lebih rileks. Memang tidak menyelesaikan masalah yang ada, tapi membantu membuka peredaran darah pada tubuh dan otak agar bisa berpikir jernih, santai, dan tidak gegabah. Aku sering melakukannya. Makanya, kupikir tidak ada salahnya juga jika aku menawarkan padanya.

Tom tersenyum. "Kau penulis?" dia balik melempar pertanyaan, tidak menjawab pertanyaanku. Yang kuherankan, bagaimana bisa dia tahu siapa aku?

"Penulis biasanya sensitif pada sekitar. Punya perasaan peka di atas rata-rata. Kamu, block note, dan pensil adalah paduan yang pas untuk disebut sebagai penulis," Tom terawa kecil. Matanya menyipit menyisakan garis lurus. "Pantas saja kau tahu apa yang terjadi padaku. Kau punya bakat jadi peramal," sambungnya seraya tertawa lebar yang mau tak mau membuatku ikut mengimbanginya.

"Kau yang peramal. Bagaimana kau tahu bahwa aku seorang penulis?" aku mencondongkan kepala, penasaran.

"Intuisi," senyum Tom melengkapi permulaan hariku pagi itu.
***

Jika kadang orang menyebut bahwa jodoh bisa datang karena kebetulan, maka aku berkata lain. Bagiku, jodoh datang karena alasan. Cocok, waktu, sepadan, dan semua hal yang beralasan. Termasuk pertemuan.

Tom tertawa dengan kamera di tangannya. Jemarinya sibuk melihat preview gambar yang berhasil ditangkap. Sesekali menunjukkan padaku.

"Foto ini lucu sekali, kau terlihat natural," Tom menggeser kameranya, mempersilakan aku melihat sosok diriku di bingkai kamera. Tampak aku sedang tertawa lepas menatap ke arahnya.

"Makasih," aku tersenyum, menggeser kembali kameranya.

Tom masih menunduk, melihat satu persatu gambar yang dia dapat. Senyumnya masih tersungging.

"Tom, kau tahu? Candi ini menceritakan kisah cinta Roro Jonggrang yang penuh tipu muslihat. Kau tentu pernah mendengarnya, bukan, hm?" aku menerawang sambil menatap jejeran candi yang konon dibuat Rakai Pikatan atau Bandung Bondowoso, lelaki yang menggilai Roro Jonggrang.

Tom menoleh, menghentikan aktivitasnya. Dia hanya tersenyum.

"Apa pendapatmu soal itu?" pandanganku sama sekali tidak beralih, tidak juga tahu reaksinya. Pandanganku hanya membayang pada satu candi utama di kompleks Prambanan, Candi Siwa.

Hening. Tidak kudengar suara Tom menyahut. Pandangannya mengikuti ke mana arah mataku. Hari itu memang bukan hari libur, jadi maklum jika kompleks candi Prambanan sepi. Pengunjung tidak sebanyak weekend atau pun hari libur tanggal merah.

"Kurasa, wanita seperti legenda Roro Jonggrang itu banyak," sahutku kemudian. "Pura-pura mencintai, lalu meninggalkan. Pasti sakit, jika ditinggalkan begitu saja."

Aku berceloteh sendiri.

"Tapi, kurasa semuanya beralasan. Contohnya saja, Roro Jonggrang. Menurut cerita, dia wanita cantik yang dicintai Bandung Bondowoso, lelaki yang telah membunuh ayahnya, Prabu Baka, pemimpin kerajaan Baka pada pertempuran melawan kerajaan Pegging. Prabu Baka meninggal dalam pertempuran itu. Singkatnya, Bandung Bondowoso jatuh cinta pada Roro Jonggrang,..."

"Lalu gadis yang dikisahkan jelita itu meminta syarat pada Bandung Bondowoso untuk membangun seribu candi dan sebuah sumur," Tom menimpali, membuatku seketika terdiam, takjub. "Namun ternyata, Roro Jonggrang menipunya dan pada akhirnya Bandung Bondowoso mengutuk putri Prabu Baka menjadi arca, sebagai pelengkap 999 candi yang telah dibangunnya."

Aku tertawa kecil, memukul lengan Tom pelan. "Hei, kau tahu legendanya?" tanyaku tidak percaya.

Dia mengangguk. "Menurutmu, apa aku terlihat menguasai materi kisah cinta wanita penipu itu, hm?"

Aku bertepuk tangan, berdiri. "Sangat. Kau suka sejarah?"

"Tidak juga. Aku hanya berpikir bahwa posisiku sama dengan Bandung Bondowoso," dia tersenyum masam.
***

Post a Comment