Friday, November 15, 2013

Di Balik Serunya Menjadi Single Tracker

Saya sedang suntuk di bis sejak pukul 9 pagi tadi meninggalkan Dieng. Sampai sekarang, pukul 19, saya masih di bis menuju Surabaya setelah oper bis lima kali. Iya, untuk ke Surabaya harus rela berganti bis sebanyak itu dari puncak Dieng. Bisnya: Dieng-Perempatan Njuritan, Wonosobo; Perempatan Njuritan, Wonosobo-Terminal Wonosobo; Wonosobo-Magelang; Magelang-Jogja; Jogja-Surabaya. Sebenarnya, dari Magelang ada bis langsung menuju Surabaya, hanya saja ada di jam tertentu. Yakni pukul 10 dan 15 saja. Berhubung saya sampai Magelang pukul 12.15 jadi mau tidak mau saya harus ke Jogja. Dari Jogja-Surabaya kebetulan tiket kereta habis, jadi bis benar-benar pilihan menyehatkan. Halah.
Perjalanan kali ini, saya kembali menjadi seorang single tracker. Semi single tracker, tepatnya. Mengambil jatah cuti tiga hari plus hari libur, saya berangkat dari Surabaya Senin malam pukul 22. Setelah perjalanan ngebut benjutnya Sumber Slamet, saya sampai Jogja pukul 5 Selasa pagi dilanjutkan menuju MM UGM, tempat saya nebeng di kosan Itak--teman kuliah--dengan Trans Jogja trayek 3B. Sejak menginjakkan kaki di Jogja, saya sempat khawatir TransJ mogok lantaran hari Senin didemo oleh ratusan PO lain yang menolak rencana pemerataan armada di sekitar Jogja menggunakan TransJ. Artinya, bis mikro lain dilarang beroperasi selain TransJ. Kabar yang saya baca, terminal lumpuh. Beruntung, Selasa pagi itu TransJ kembali beroperasi dan saya mendapat bis pertama.
Saya tidak akan bercerita banyak hal tentang perjalanan kali ini. Karena akan ada tulisan tersendiri. Di sini, saya hanya akan menyorot bagaimana rasanya menjadi seorang single tracker amatir dari kaca mata saya. Mungkin, ada banyak hal yang memang harus saya pelajari dengan menjadi seorang pejalan tunggal. Banyak hal.
Kurang dari seminggu merencanakan perjalanan, selama itulah saya berpikir bahwa saya kembali akan menjadi seorang pejalan tunggal. Sebab, dua teman saya membatalkan niatnya untuk ikut. Tak apalah, pikir saya. Toh, di Jogja nanti akan ditemani Itak meski hanya sehari, saat ke Gunung Kidul.
Jogja dua hari, Dieng dua hari, sehari ditemani Itak. Artinya, selama tiga hari saya akan jalan-jalan sendiri. Selama itu, apa yang menjadi rencana saya semuanya berhasil terlewati dengan baik. Maksudnya, keberadaan saya untuk refreshing benar-benar tidak terhalang apapun. Semuanya lancar, Alhamdulillah. Sejak Selasa malam, setelah seharian berkeliling di Utara Jogja, saya merenungi apa saja yang telah saya lakukan hari itu. Nyaris semuanya sempurna. Saya bertemu orang baru yang selalu banyak membantu, tempat baru yang ramah, dan cuaca bersahabat. Apalagi yang kurang? Saya jadi berpikir, apa yang kita lakukan pada alam, lingkungan, dan sosial, pasti akan berbalik pada diri sendiri.
Saya paham, saya seorang diri berjalan ke sana ke mari. Berbekal petunjuk, map, dan tanya sana-sini, saya bisa sampai di tempat tujuan. Tapi, apakah akan begitu jika saya tidak berlaku wajar di tempat orang? Saya pikir sulit.
Menjadi pejalan tunggal, saya merasakan keegoisan dan sifat mendominasi saya menguap. Saya memahami, jika tengah berjalan dengan siapapun, saya akan cerewet, banyak omong, ngomel, dan berkomentar kurang penting. Tapi dengan menjadi pejalan tunggal, meski saya masih ngomel ke diri sendiri, setidaknya saya bisa menahan emosi dan lebih memilih untuk diam. Sayangnya, hal ini tidak berlaku saat saya nyasar di Jogja malam-malam dengan kondisi badan pegal, ngantuk, lapar, pms, plus sinyal Axis lelet, saya emosi jiwa raga. Tapi detik itu juga saya paham, memangnya apa untungnya saya ngomel di kota orang? Kenapa saya tidak lebih menikmati? Toh, nyasar adalah makanan sehari-hari saya di Surabaya. Kenapa?
Menjadi pejalan tunggal, memaksa saya untuk tidak bodoh dan buta informasi. Sesering mungkin, saya mengulik informasi tentang tempat tujuan. Simpel saja, biar saya tidak dibodohi dan agar saya menyimpan banyak informasi penting yang bisa ditanyakan sewaktu-waktu pada orang lain. Menjadi pejalan tunggal, saya tahu, sombong dan angkuh harus dijauhkan. Karena tentu sewaktu-waktu saya butuh bantuan. Lagian, di mana saja sombong kurang bermanfaat juga, ya.
Alam, lingkungan, sosial. Perjalanan kali ini komplit. Saya ke pantai, gunung, dan museum. Di tempat yang berbeda, saya menemukan hal yang berbeda. Di gunung, saya belajar untuk sadar diri. Di antara kepungan gunung, saya menjadi tahu bahwa saya tidak berdaya. Gunung Sindoro, Pakuwojo, Sumbing, Sikunir, Slamet, dan yang lain adalah milik Allah. Sementara saya? Hanya secuil di antara kokohnya ciptaan Tuhan yang membentang. Di pantai, saya belajar mencintai perjalanan dan proses. Butuh waktu dua jam untuk mencapai Gunung Kidul dari Jogja dengan motor. Tapi semuanya terbayar lunas ketika lagi-lagi keindahan ciptaan Tuhan terpapar di depan mata. Artinya, akan ada buah manis dari sebuah perjalanan, yang penting sabar dan usaha tidak lepas. Di museum, saya belajar menghargai masa lalu. Membaca dan mendengar rentetan kejadian masa lalu membuat saya sadar, waktu lampau menjadi pembelajaran untuk masa sekarang. Dari ketiga tempat itu saya simpulkan banyak hal. Bahwa, menjadi pejalan tunggal bukan hal yang mudah. Menjadi sabar, bersosial, menghilangkan ego, mengerti dan memahami diri sendiri adalah tujuan yang saya butuhkan saat ini.
Menjadi pejalan tunggal membuat saya banyak merenung. Bahwasanya, selama ini saya jauh dari hal yang bisa membuat orang nyaman. Tapi dari alam, lingkungan, dan sosial saya belajar. Bahwa menjadi pejalan tunggal harus banyak baca, banyak tanya, banyak sopan, banyak introspeksi, banyak doa, dan banyak syukur. Mungkin, seperti inilah cara Tuhan mengajarkan saya untuk bisa menjadi individu yang lebih baik. Ingat saja, apa yang saya lakukan di alam, lingkungan, dan sosial pada akhirnya akan berbalik melakukan hal serupa pada saya. Saya tahu, Tuhan selalu punya maksud di balik apa saja yang terjadi. Pasti.

Post a Comment