Skip to main content

Di Balik Serunya Menjadi Single Tracker

Saya sedang suntuk di bis sejak pukul 9 pagi tadi meninggalkan Dieng. Sampai sekarang, pukul 19, saya masih di bis menuju Surabaya setelah oper bis lima kali. Iya, untuk ke Surabaya harus rela berganti bis sebanyak itu dari puncak Dieng. Bisnya: Dieng-Perempatan Njuritan, Wonosobo; Perempatan Njuritan, Wonosobo-Terminal Wonosobo; Wonosobo-Magelang; Magelang-Jogja; Jogja-Surabaya. Sebenarnya, dari Magelang ada bis langsung menuju Surabaya, hanya saja ada di jam tertentu. Yakni pukul 10 dan 15 saja. Berhubung saya sampai Magelang pukul 12.15 jadi mau tidak mau saya harus ke Jogja. Dari Jogja-Surabaya kebetulan tiket kereta habis, jadi bis benar-benar pilihan menyehatkan. Halah.
Perjalanan kali ini, saya kembali menjadi seorang single tracker. Semi single tracker, tepatnya. Mengambil jatah cuti tiga hari plus hari libur, saya berangkat dari Surabaya Senin malam pukul 22. Setelah perjalanan ngebut benjutnya Sumber Slamet, saya sampai Jogja pukul 5 Selasa pagi dilanjutkan menuju MM UGM, tempat saya nebeng di kosan Itak--teman kuliah--dengan Trans Jogja trayek 3B. Sejak menginjakkan kaki di Jogja, saya sempat khawatir TransJ mogok lantaran hari Senin didemo oleh ratusan PO lain yang menolak rencana pemerataan armada di sekitar Jogja menggunakan TransJ. Artinya, bis mikro lain dilarang beroperasi selain TransJ. Kabar yang saya baca, terminal lumpuh. Beruntung, Selasa pagi itu TransJ kembali beroperasi dan saya mendapat bis pertama.
Saya tidak akan bercerita banyak hal tentang perjalanan kali ini. Karena akan ada tulisan tersendiri. Di sini, saya hanya akan menyorot bagaimana rasanya menjadi seorang single tracker amatir dari kaca mata saya. Mungkin, ada banyak hal yang memang harus saya pelajari dengan menjadi seorang pejalan tunggal. Banyak hal.
Kurang dari seminggu merencanakan perjalanan, selama itulah saya berpikir bahwa saya kembali akan menjadi seorang pejalan tunggal. Sebab, dua teman saya membatalkan niatnya untuk ikut. Tak apalah, pikir saya. Toh, di Jogja nanti akan ditemani Itak meski hanya sehari, saat ke Gunung Kidul.
Jogja dua hari, Dieng dua hari, sehari ditemani Itak. Artinya, selama tiga hari saya akan jalan-jalan sendiri. Selama itu, apa yang menjadi rencana saya semuanya berhasil terlewati dengan baik. Maksudnya, keberadaan saya untuk refreshing benar-benar tidak terhalang apapun. Semuanya lancar, Alhamdulillah. Sejak Selasa malam, setelah seharian berkeliling di Utara Jogja, saya merenungi apa saja yang telah saya lakukan hari itu. Nyaris semuanya sempurna. Saya bertemu orang baru yang selalu banyak membantu, tempat baru yang ramah, dan cuaca bersahabat. Apalagi yang kurang? Saya jadi berpikir, apa yang kita lakukan pada alam, lingkungan, dan sosial, pasti akan berbalik pada diri sendiri.
Saya paham, saya seorang diri berjalan ke sana ke mari. Berbekal petunjuk, map, dan tanya sana-sini, saya bisa sampai di tempat tujuan. Tapi, apakah akan begitu jika saya tidak berlaku wajar di tempat orang? Saya pikir sulit.
Menjadi pejalan tunggal, saya merasakan keegoisan dan sifat mendominasi saya menguap. Saya memahami, jika tengah berjalan dengan siapapun, saya akan cerewet, banyak omong, ngomel, dan berkomentar kurang penting. Tapi dengan menjadi pejalan tunggal, meski saya masih ngomel ke diri sendiri, setidaknya saya bisa menahan emosi dan lebih memilih untuk diam. Sayangnya, hal ini tidak berlaku saat saya nyasar di Jogja malam-malam dengan kondisi badan pegal, ngantuk, lapar, pms, plus sinyal Axis lelet, saya emosi jiwa raga. Tapi detik itu juga saya paham, memangnya apa untungnya saya ngomel di kota orang? Kenapa saya tidak lebih menikmati? Toh, nyasar adalah makanan sehari-hari saya di Surabaya. Kenapa?
Menjadi pejalan tunggal, memaksa saya untuk tidak bodoh dan buta informasi. Sesering mungkin, saya mengulik informasi tentang tempat tujuan. Simpel saja, biar saya tidak dibodohi dan agar saya menyimpan banyak informasi penting yang bisa ditanyakan sewaktu-waktu pada orang lain. Menjadi pejalan tunggal, saya tahu, sombong dan angkuh harus dijauhkan. Karena tentu sewaktu-waktu saya butuh bantuan. Lagian, di mana saja sombong kurang bermanfaat juga, ya.
Alam, lingkungan, sosial. Perjalanan kali ini komplit. Saya ke pantai, gunung, dan museum. Di tempat yang berbeda, saya menemukan hal yang berbeda. Di gunung, saya belajar untuk sadar diri. Di antara kepungan gunung, saya menjadi tahu bahwa saya tidak berdaya. Gunung Sindoro, Pakuwojo, Sumbing, Sikunir, Slamet, dan yang lain adalah milik Allah. Sementara saya? Hanya secuil di antara kokohnya ciptaan Tuhan yang membentang. Di pantai, saya belajar mencintai perjalanan dan proses. Butuh waktu dua jam untuk mencapai Gunung Kidul dari Jogja dengan motor. Tapi semuanya terbayar lunas ketika lagi-lagi keindahan ciptaan Tuhan terpapar di depan mata. Artinya, akan ada buah manis dari sebuah perjalanan, yang penting sabar dan usaha tidak lepas. Di museum, saya belajar menghargai masa lalu. Membaca dan mendengar rentetan kejadian masa lalu membuat saya sadar, waktu lampau menjadi pembelajaran untuk masa sekarang. Dari ketiga tempat itu saya simpulkan banyak hal. Bahwa, menjadi pejalan tunggal bukan hal yang mudah. Menjadi sabar, bersosial, menghilangkan ego, mengerti dan memahami diri sendiri adalah tujuan yang saya butuhkan saat ini.
Menjadi pejalan tunggal membuat saya banyak merenung. Bahwasanya, selama ini saya jauh dari hal yang bisa membuat orang nyaman. Tapi dari alam, lingkungan, dan sosial saya belajar. Bahwa menjadi pejalan tunggal harus banyak baca, banyak tanya, banyak sopan, banyak introspeksi, banyak doa, dan banyak syukur. Mungkin, seperti inilah cara Tuhan mengajarkan saya untuk bisa menjadi individu yang lebih baik. Ingat saja, apa yang saya lakukan di alam, lingkungan, dan sosial pada akhirnya akan berbalik melakukan hal serupa pada saya. Saya tahu, Tuhan selalu punya maksud di balik apa saja yang terjadi. Pasti.

Comments

laila said…
keren keren.... jadi kangen jogja :(((

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…