Skip to main content

Rame-Rame Kondom

Masih hangat perbincangan soal Pekan Kondom Nasional yang dicanangkan beberapa pihak (produsen dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional-KPAN) (sebelumnya saya tulis Kemenkes. Saya mohon maaf.) memeringati Hari Aids, 1 Desember. Banyak opini, kecaman, dan masukan digulirkan di media dan media sosial. Pasalnya, hal tersebut dinilai absurd, tidak solutif namun justru banyak menimbulkan masalah baru. Sebagai awam, dilihat dari sisi mana pun, saya tidak setuju dengan aksi bagi-bagi kondom gratis. Terlebih dengan pembagiannya yang terkesan sembarangan.

Saya sempat membaca media dengan isi pernyataan Wagub DKI Jakarta, Ahok. Di media tersebut disebutkan, Ahok menyatakan setuju melalui pernyataan yang membuat saya mesem. Kurang lebih begini (saya lupa persisnya), "Kalau nggak mau kena HIV/ AIDS, pakai kondom solusinya." Betul sekali pernyataannya. Tapi apa sudah betul sasarannya? Kondom gratis juga dibagikan ke pelajar dan mahasiswa, loh. Lain lagi kalau pembagiannya tepat sasaran. Di salah satu media cetak disebutkan, penderita HIV/ AIDS kini didominasi oleh ibu rumah tangga, pekerja seks komersial, dan sisanya lain-lain. Mencengangkan.

Saya masih sedikit ingat, soal kontroversi adanya rencana memasukkan pelajaran seks di sekolah. Menurut saya, pelajaran ini penting namun disesuaikan pada usia. Namun, alangkah lebih pentingnya jika pelajaran moral dan agama dijadikan landasan utamanya. Tidak jauh-jauh, di sekolah Tita, pelajaran moral ditiadakan. Diganti dengan pelajaran kewarganegaraan. Itu berarti pendidikan moral dan karakter anak harus dimatangkan oleh keluarga. Keluarga mempunyai peranan penting untuk membentuk moral anak. Sebab, dengan pendidikan moral dan agama yang kuat anak akan tahu mana benar dan salah. Termasuk memaknai aksi bagi-bagi kondom gratis. Coba kalau aksi bagi-bagi kondom dilakukan ke rumah perumah dengan sasaran ibu rumah tangga dan ke sejumlah lokalisasi (dilihat dari dominasi pengidap), mungkin cara tersebut akan lebih efektif. Berbeda dengan pembagian di sekolah mau pun kampus. Bisa jadi pembagian tersebut akan memicu rasa penasaran. Bagaimana rasanya menggunakan kondom? Dengan siapa menggunakannya? Implisit, disadari atau tidak, rasa penasaran akan muncul di beberapa pelajar atau mahasiswa dan berujung pada aksi seks bebas. Berawal dari coba-coba, berakhir dengan suka-suka.

Sebenarnya, kalau tujuan dari program ini adalah mengurangi angka pengidap HIV/ AIDS, saya pikir tidak perlu sebegitu hebohnya bagi-bagi kondom. Tapi dengan sosialisasi bahaya penularan virus melalui seks bebas, narkoba, dan penggunaan jarum suntik bergantian; penguatan nilai moral dan agama; juga pengetahuan soal seks, saya pikir cukup membantu mengurangi angka pengidap HIV/ AIDS. Tentu, peran serta keluarga dan lingkungan sangat vital.

Namun, jika Pekan Kondom Nasional sudah terlanjur berjalan bahkan sampai menelan biaya 25 milyar, kini giliran masyarakat harus cerdas. Mencari informasi banyak-banyak, bertanya sana-sini tentang kondom, dan memilah dengan tepat serta tegas tindakan mana yang harus dilakukan. Semoga bus Pekan Kondom Nasional tidak sampai di Surabaya, kota yang sedang giat memberantas lokalisasi, ya.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…