Skip to main content

Serba-Serbi 2013

Sebelas hari lagi 2013 berlalu, banyak hal yang saya dapat dan berhasil lalui di tahun ini. Berangkat dari resolusi yang saya buat, ada dua hal yang tidak bisa tercapai di tahun ini; menikah dan nyetir mobil. Tapi itu bukan masalah besar, karena waktunya memang belum tepat :p.

Resolusi 2013 yang saya catat pertama dan besar-besar di akhir tahun 2012 adalah travelling. Saya bertekad, setidaknya satu bulan sekali ada masa jalan-jalan. Entah one day trip, city tour di kota sendiri, atau tugas ke luar kota yang melenakan. Yang penting jalan-jalan dan membuat saya lupa dengan pekerjaan :p.

Januari
Minggu pertama bulan Januari, saya ditugaskan ke Lumajang, tepatnya ke Gunung Lemongan dekat dengan 13 ranu yang mengelilingi. Sebelum naik, saya sempat mampir ke Ranu Klakah, udara yang sejuk membuat saya lupa tujuan awal; yakni bekerja :p. Sedikit cerita, Ranu Klakah dan 12 ranu lain di sekitar Gunung Lemongan dulunya sempat kerontang akibat ulah tangan tak bertanggung jawab. Kebakaran dan penebangan hutan massal mendominasi. Namun, di tangan Aak Abdullah dan Laskar Hijau, Gunung Lemongan yang semula tandus berangsur hijau. Tanaman bambu dan tanaman buah-buahan ditanam pelan-pelan di lahan bekas kebakaran. Tanaman bambu menjadi pilihan lantaran sifatnya yang bisa menyimpan banyak air, sedangkan tanaman buah-buahan sengaja ditanam karena memiliki nilai ekonomi. Berkat tangan Aak Abdullah ini, kini 13 ranu di sekitar Gunung Lemongan kembali terisi. Sawah milik petani pun teraliri. Tentu bukan serta merta sukses begitu saja, sempat juga usahanya diganggu oleh orang yang tak suka dengan aksinya. Standar hukum alam. Aksi Aak Abdullah ini berhasil mengantarkan namanya menjadi pemenang Satu Indonesia Awards tahun 2010.

Di tengah kerja di Gunung Lemongan, Lumajang (Saya, Pak Memet, dan Mas PJ)

Gunung Lemongan, Lumajang

Masih di bulan Januari, saya diajak kantor untuk family gathering. Tapi, karena saya sedang bermasalah dengan keluarga, saya pun memutuskan untuk pergi sendiri dan meminta jatah tiket keluarga untuk teman; Har. Ya, saya nggak mau rugi. Di saat yang lain membawa keluarga, pasangan, dan kerabat, saya pun bisa bawa teman, hahaha.

Statusnya memang awal tahun, tapi keadaannya suram. Masalah di awal tahun membuat saya menjadi seorang yang lebih introvert. Tidak seekstrovert dulu. Ada banyak hal yang kini membuat saya berpikir berkali-kali untuk sekadar bercerita. Bercerita pun hanya pada orang yang saya pikir pas untuk sekadar mendengarkan. Pelan-pelan saya menutup diri, meski masih sering tampak terbuka. Tapi ada bagian lain yang harus saya simpan sendiri. Ya, 2013 pelan-pelan mengubah saya menjadi sosok yang tertutup.

Februari
Bulan kedua tahun 2013. Saya ditugaskan ke Wonosalam, Jombang, dataran sedikit tinggi. Di sana, saya bertemu dengan penggagas makanan sehat berbahan tanaman liar; seperti daun racun dan dedaunan yang saya lupa namanya *payah*. Namanya Hayu Dyah Patria, beliau salah satu pemenang Satu Indonesia Awards tahun 2011. Di tempat ini saya belajar ketulusan. Saya memang dalam rangka kerja, tapi ide dan niat tulus penggagas serta masyarakat sekitar Wonosalam yang mau menerima perubahan pola berpikir menginspurasi saya; bahwa sejatinya perubahan bisa dimulai dari hal kecil di sekitar. Selama ini daun racun dan dedaunan liar hanya diabaikan oleh masyarakat. Namun, ketika Hayu datang dengan bahan penelitian, perspektif masyarakat pun perlahan berganti. Bahwasanya, tanaman liar pun juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan menyehatkan.

Maret
Maret, saya ditugaskan ke Nganjuk dan Lamongan. Di Nganjuk, saya bertemu dengan wanita inspiratif, Pramu Hermawarnie. Beliau adalah istri dari pensiunan pegawai BUMN terkemuka di Gresik sekaligus ibu dari Hayu Dyah Patria. Sebagai wanita aktif, kepindahannya ke kota Nganjuk diisi dengan mengubah mindset ibu-ibu desa melalui seni kreasi sulam pita. Ia sadar, jika tidak berbagi sekarang, kapan lagi bisa? Ia tidak bisa menjamin hari tuanya akan panjang. Kegiatan ibu-ibu desa setiap harinya adalah menggosip, mengantar anak, dan mengurus keluarga. Memang, itu kodrat wanita. Namun, Ema--akrab ia disapa--ingin membuat hidup ibu desa lebih berarti dan bernilai. Ema mengajak ibu desa untuk menyulam. Tujuannya, mengurangi aktivitas menggosip dan menambah pemasukan bagi keluarga. Menariknya, bahan pekerjaan boleh dikerjakan di rumah tapi tetap dalam pengawasan Ema. Dari kegiatan ini, ibu desa yang dulu sempat direndahkan suaminya kini justru lebih percaya diri dan lebih dihargai oleh orang lain. Karena tidak jarang Ema mengajak ibu-ibu desa binaannya untuk ikut serta menjadi fasilitator saat tengah membina di kota lain.

Di Lamongan, saya bertemu dengan dua pelajar inspiratif penemu pewangi ruangan berbahan kotoran sapi, Dwi Nelly Izzah dan Rintia Miki Aprianti. Siswa SMA Muhammadiyah Babat ini terinspirasi dari ilmuwan Amerika yang membuat parfum dari kotorannya sendiri. Keduanya lantas memutuskan untuk membuat pewangi ruangan berbahan kotoran sapi lantaran di Lamongan banyak peternak sapi yang jarang memanfaatkan kotorannya selain untuk pupuk. Mereka pun membuat percobaan didampingi guru pendamping dengan komposisi 30% kotoran sapi + 20% Ca + sulfur 10% + 5% limbah daun segar kaya Natrium + 10% mikroba pengurai. Hasil dari pencampuran dan destilasi bahan tersebut menjadi pewangi ruangan yang mengantarkan mereka menuju kompetisi sains dunia di Turki, April lalu.

April
Bulan April, masalah pribadi saya berangsur selesai disertai kondisi kesehatan membaik. Di bulan ini, saya kembali ditugaskan ke luar kota yakni Tretes di Ubaya Training Center (UTC) untuk meliput kegiatan outbound. Nah, berhubung saya berangkat bersama kamerawan, jadi saya ikutan outbound, hahaha. Nggak mau rugiii! :))

Ubaya Training Centre (UTC)

Mei
Bromo. Saya merencanakan perjalanan ini serba dadakan. Ya, bukan saya kalau tidak serba mendadak :p. Saya berangkat bersama Har, Vis, dan Vian naik motor dini hari. Belum pernah terpikirkan kalau saya bisa melakukan hal ini :p. Hasilnyaaa? One day trip yang luar biasa dan nagiiiiih! Dari sini saya semakin yakin kalau libur sehari bukan berarti tidak bisa jalan-jalan. Asal niat, pasti bisa.

Bromo (Saya-Vian-Har)
Juni
One day trip memanfaatkan waktu libur yang aneh dan lain dari pada yang lain kali ini tujuan saya adalah pantai Selatan Malang. Ada puluhan pantai di sana. Tapi tenaga dan waktu hanya mampu tiga pantai, Pantai Tamban, Pantai Bajul Mati, dan Pantai Goa Cina. Saya berdua menyusuri Selatan Malang via motor dengan Har. Lucunya, Har ini kenapa selalu mau kalau saya ajak nakal, hahaha. Aah, Har memang teman yang baik hati koook. *bukan rayuan bukan pujian :)))*.

Pantai Goa Cina, Malang Selatan (Saya dan Har)
Juli
Sudah masuk bulan puasa. Tapi seminggu sebelum puasa saya menyempatkan diri untuk city tour sama Tita dan Ilma. Tujuannya dua; Kenjeran dan lantai 5 Plasa Surabaya. Nostalgia yang seru. Apalagi Tita jarang-jarang diajak pergi ke sana.

Plaza Surabaya (Tita dan Saya)

Agustus
Pascalibur Lebaran saya segera menyusun rencana bepergian. Jogja menjadi tujuan saya setelah nyaris sepuluh tahun tidak berkunjung. Di Jogja pulalah kali pertama saya melakukan perjalanan jauh seorang diri. Saya senang, karena single backpacking tidak banyak membuat saya bergantung dan merepotkan orang lain. Di Jogja ini tujuan saya hanya di pusat kota. Memborong banyak belanjaan, seorang diri, sesuka hati, siapa menolak? :p
Taman Sari, Jogja

Di bulan Agustus juga saya ke Pulau Sempu setelah selama ini hanya memimpikan. Teman one day trip kali ini cukup banyak, berenam. Saya, Har, Vis, Laila, Mila, dan teman Laila yang saya lupa namanya, maaaf. Yang saya sayangkan, kenapa saya tidak berenang di siniii? Kenapa saya tidak bawa baju ganti? Kenapa saya tidak gulung-gulung di pasir putihnya yang melenakan itu? Ah, saya harus ke sana lagi kayaknya :p.

Pulau Sempu, Malang (Har, Saya, Mila, Navis, Laila, dan Temannya)

Daaan, di bulan ini saya menginjak ke umur baru, dua puluh empat. Iyeee, saya makin tua. Semoga makin dewasa dan bijak dalam menanggapi masalah yaaa.

September
Saya tidak mempunyai rencana jalan-jalan sama sekali di bulan ini. Sampai Mas Adib nge-Whatsapp dan mengajak serta ke Bromo bareng teman-temannya. Dari awal saya menolak jika naik motor karena pengalaman mengajarkan saya arti ngeri dan ngesot menembus parahnya lautan pasir :p. Tapi ternyata naik mobil, yawislah cus. Kami berdelapan saat itu, bersama enam orang yang sama sekali belum saya kenal sebelumnya. But sure, travelling not only brings you to a new place but friend also.


Bromo (Kiki, Mas Muhan, Saya, Mbak Tiwi, Mbak Pipit, Mbak Fitri, Mas Adib, dan Mas Riza)

Oktober
One day trip di bulan Oktober, Mojokerto menjadi kota pilihan saya. Selain mudah, juga dekat, dan efisiensi waktu. Teman perjalanan saya kala itu adalah Pipit (teman TK saya), Fikri, dan Mamik yang merupakan teman kerja sehari-hari. Kami memilih Trowulan untuk melihat masa kejayaan kerajaan Majapahit sekaligus berkunjung ke patung Budha tidur yang kabarnya terbesar ketiga dunia, Maha Vihara.

Maha Vihara, Mojokerto (Fikri, Saya, Mamik, dan Pipit)

Di bulan ini juga saya mendapat tugas liputan ke Ponpes Sunan Drajat, Lamongan. Believe it or not, saya merindukan momen mengaji kitab bersama. Sederhana ya? Sayang sekali dulu saya menyia-nyiakan waktu begitu saja. Giliran sudah sibuk begini mengaji pun jarang. Di sini, saya diramalkan akan segera menikah. Hehe, diaminin saja dulu, ya. 

November
Mendapatkan jatah cuti, perjalanan saya di bulan ini cukup mengasyikkan. Dalam kurun waktu lima hari saya menghabiskan jatah liburan di dua tempat berbeda; Jogja dan dataran tinggi Dieng, Banjarnega. Di Jogja, tujuan wisata saya adalah Utara Jogja meliputi Kaliurang dan museum-museum wilayah Utara. Salah satu museum yang membuat saya terpukau adalah Museum Ullen Sentalu, museum dengan desain alam yang mengajak pengunjung untuk tahu perbedaan kesultanan Jogja dan Surakarta. Saya juga menghabiskan waktu di Selatan DI. Jogja, tepatnya di Gunung Kidul. Berdua mengendarai motor dengan Itak, kami menyambangi empat di antara puluhan pantai yang ada di sana.


Pantai Drini, Gunung Kidul, DI. Jogjakarta (Andita dan Saya)

Hari berikutnya cuti, dataran tinggi Dieng menjadi sasaran saya. Jarak tempuhnya sekitar lima jam dari Jogja. Tapi di sana, dijamin lupa dengan semua hal yang ada di Surabaya. Yang paling membuat saya lupa adalah pesona sunrise dari puncak Gunung Sikunir, Telaga Cebong dari good view Sikunir, dan iring-iringan awan yang menutupi Desa Sembungan--desa tertinggi di Pulau Jawa. Saking terpesonanya, saya bahkan lupa kalau esoknya saya harus kembali kerja. Ah, yang jelas, jalan-jalan bulan November bikin hati puaaaas sekali.

Sunrise Sikunir, Dieng

Desember
Sebenarnya, saya merencanakan untuk menghabiskan masa cuti yang tersisa satu hari ke Magetan. Sayangnya, karena hape saya main drama dan meminta jatah travelling untuk membeli hape baru, jadi rencana jalan-jalan pun batal. Saya pun ikhlas kalau tidak bisa melunasi janji saya di akhir tahun 2012; travelling. Namun, ternyata Tuhan berkata lain. Sebuah instansi mengajak saya untuk jalan-jalan ke PPLH Seloliman, Ngoro, Mojokerto. Dekat dari Surabaya, memang. Saya pun sudah pernah ke sana. Tapi, masa iya saya menolak begitu saja? Sayang dong, jalan-jalan gratis dilewatkan begitu saja :p. 

Nah, karena yang mengajak adalah instansi listrik milik negara, maka kegiatan kami tidak lain dan bukan adalah mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Bagaimana caranya aliran air sungai bisa menggerakkan turbin sampai membuat nyala listrik yang sebagian masih disuplai oleh instansi ini. Lumayan menambah pengetahuan, bukankah memang begitu tujuan dari jalan-jalan? :p

PLTMH Wot Lemah, Seloliman, Ngoro, Mojokerto

Ah, 2013 akan segera berlalu. Tapi di tahun ini banyak sekali warna yang sudah Tuhan berikan pada saya. Alhamdulillah, saya bisa melaluinya dengan baik. Semoga 2014 rencana yang sudah tersusun bisa berjalan sebagaimana mestinya. Amin.

Comments

DIAN Rustya said…
Wwwwaaaaaaaaaahhhh Tiqoh sudah mulai nulis2 ^_^
Eh tahun 2013, tahun kita kenal juga loh Tiq #hugs

Aku hampir lupa 2013 ini ngapain aja, jd bingung mo nulis apa kecuali yg ttg bersenang2 saja hihihihihi
*trus bongkar2 blog*
Atiqoh Hasan said…
hahaha, iya, mbak.(cozy) ayooo, bongkar aja, tulis sekarang! :p
asik nih baca critanya :D
ditunggu crita lainnya

-widhi
Atiqoh Hasan said…
aaaak, mbak widhiii, hahaha. makasih, mbak udah mau mampir. apa kabar, jepang? :D

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…