Skip to main content

Pesisir Jogja yang Memukau

Gunungkidul, Jogjakarta dikenal sebagai wilayah pesisir dengan sejuta pesona yang tidak akan pernah ada habisnya. Puluhan pantai berjajar apik dengan karakteristik berbeda-beda, meski berada pada satu garis pantai yang sama, yakni Selatan. Seperti laiknya pantai Selatan, keindahan pantai di Gunungkidul tidak ada duanya. Nah, November lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi jejeran pantai di Gunungkidul. Berbekal seadanya, saya mengajak Andita, teman kuliah yang kini melanjutkan kuliah di Jogja, untuk turut serta dalam perjalanan kali ini. Saya sengaja menginap di kosan Andita untuk menghemat bujet. Selanjutnya, kami menyewa sepeda motor yang perharinya dipatok sebesar 45.000 rupiah.

Jarak Gunungkidul dari daerah Pascasarjana UGM sekitar dua jam ditempuh dengan motor. Sepanjang perjalanan menuju Gunungkidul, sejauh mata memandang, pemandangan hijau di kanan kiri jalan sangat memukau. Hawa dingin menyergap begitu motor melaju di Wonosari. Ditambah dengan angin segar membuat lupa keadaan kota Surabaya. Betul, travelling memang candu yang melenakan.

Untuk memasuki kawasan pantai Gunungkidul, pengunjung diharuskan membayar retribusi sebesar 8.000 rupiah, selebihnya bayar parkir saja. Saking banyaknya pantai bertebaran di Gunungkidul, kami pun mengunjungi deretan pantai yang ada mulai deretan termudah, Pantai Baron.

Dulu, saat saya masih duduk di kelas dua SD, saya pernah berkunjung ke Pantai Baron. Saya masih ingat betul bagaimana sosok pantai ini. Kesan saya kala itu hanya satu: kotor. Kesan itu begitu kuat karena ketika saya kembali berkunjung, kesan yang sama masih melekat. Mungkin, karena Pantai Baron memiliki pasir hitam dan banyak perahu nelayan bersandar menjadi identik sebagai pantai ikan. Di mana-mana perahu, jala ikan, dan nelayan. Pantai Baron kurang apik dipakai untuk berfoto-foto.

Pantai Kukup menjadi tujuan kami selanjutnya. Masih sama dengan saat saya pernah berkunjung, Pantai Kukup masih memesona. Berpasir putih dan memiliki gardu untuk melihat pemandangan lepas pantai yang memukau. Birunya langit dan laut beradu padu bercampur putihnya buih laut dan gumpalan awan. Indah. Kawasan Pantai Kukup juga asri dengan pepohonan di tepian pantai. Kami betah berlama-lama di sini.

Deretan pantai selanjutnya adalah Pantai Sepanjang. Sesuai namanya, pantai ini berbentuk memanjang dan paling panjang dari seluruh pantai yang kami kunjungi. Bentuk pantai ini hanya lurus memanjang. Berhubung kami ke sana bukan hari libur, pemandangan lepas pantai yang melompong pun didapat. Saking panjang dan sepi kondisi pantai, kami bahkan tidak tahu di mana letak tempat parkir. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk berhenti sekenanya yang justru membuat kami menjadi satu-satunya penghuni pantai. Yes, tempat kami berhenti tepat di lokasi yang sepi. Panasnya cuaca siang itu tidak menjadi halangan karena pemandangan yang kami dapatkan sangat indah. Bebatuan hitam, pasir putih, deburan ombak yang tenang, serta suasana pantai yang kosong membuat kami terbuai. Foto selfie pun banyak didapat di sini. Sepanjang, it's not a hidden paradise, but private. Seriuuus! Hanya di Sepanjang ombaknya bisa diajak bermain-main. Kami sama-sama suka tempat ini.

Puas bermain air di Pantai Sepanjang, kami bergeser ke arah Pantai Drini. Kabarnya, pantai ini sangat indah dan memang betul indah. Karakteristik deburan ombak yang galak masih membayang. Tapi, hamparan pasir putihnya sangat bersahabat. Saya bahkan bergulung-gulung di empuknya pasir saking nyamannya. Selain Pantai Sepanjang, Pantai Drini adalah pantai yang paling memukau bagi kami. Indah luar biasa. Yang saya suka, Pantai Drini teduh dan menentramkan. Meski perahu nelayan juga berjejer, kesan kotor dan kumuh jauh dari lokasi ini. Kontras dengan Pantai Baron. Saat di Pantai Drini, kami mulai memrediksi bahwa hujan akan segera datang dilihat dari tekstur dan warna langit yang perlahan mulai abu. Namun, bagi saya, paduan mendung yang hangat dengan air laut membiru pekat menjadi pemandangan yang luar biasa eksotis. Ah, di sini, kami juga menemukan kepiting terdampar yang akhirnya menjadi masalah di kosan Andita :))).

Well, kami berangkat telat dari Jogja, sehingga tak banyak pantai yang kami kunjungi. Terlebih Andita juga harus melaksanakan tugas sebagai mahasiswa sekaligus cuaca yang pada akhirnya kurang bersahabat membuat kami berpacu dengan waktu. Hujan mengguyur deras selepas kami berlalu dari Pantai Drini. Ah, iya, saat di Pantai Drini, kami bertemu dengan kru FTV--sepertinya-- yang tengah syuting, fyi aja, sih :p. Yang terpenting, jangan lupa, trip di musim hujan sudah seharusnya membawa bekal jas hujan untuk keselamatan pribadi. Jadi, tertarik untuk melahap puluhan pantai yang ada di Gunungkidul, Jogja? Pastikan cuaca cerah agar tidak kecewa. Selamat bermain air.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…