Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2014

Backpacking Seru di Lombok

Yay! Akhirnya saya mendapatkan jatah cuti juga. Sebenarnya, tujuan cuti saya kali ini adalah Belitung, Bangka Belitung. Namun, setelah hitung-menghitung bujet, tabungan jalan-jalan saya kurang. Maka berbelok arahlah saya menuju Lombok. Kenapa harus Lombok? Menurut kabar yang beredar, Lombok memiliki sejuta pesona. Tiga gili yang terkenal, pemandangan alam yang penuh pepohonan hijau, cuaca dan hawa segar, dan pesona bawah laut yang memukau. Siapa yang tidak tertarik? Selain itu, saya tertarik dengan Lombok karena membaca tulisan di kaus ayah tentang tiga gili populer Lombok. Saat itu, saya masih duduk di kelas empat SD ketika ayah mendapat tugas di Lombok. Pikiran saya cuma satu saat itu; bagaimana bentuk Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air? Kok ayah sudah ke sana. Dari situ, saya pun terobsesi memasukkan Pulau Lombok dalam list perjalanan saya :d. Nah, perjalanan liburan kali ini sengaja saya tempuh melalui jalur udara. Alasannya untuk efisiensi waktu. Biarlah meski merogoh kocek…

Mumpung Masih Muda Banyakin Jalan-jalan

Dunia travelling sedang menggeliat. Saking menggeliatnya, hampir seluruh perbincangan di sosial media dan toko buku menghadirkan kisah perjalanan. Mulai tips perjalanan murah ala backpacker sampai perjalanan menggunakan koper alias berbujet tinggi. Yah, well, setidaknya itu memberikan keuntungan tersendiri bagi pemasukan daerah dan Indonesia atau negara lain; civil starts love travel and give any income.

Begitu pun saya. Sejak kerja, pikiran saya cuma dua; menabung untuk masa depan dan menabung untuk jalan-jalan. Hobi jalan-jalan sebenarnya sudah mengendap sejak lama. Sejak saya masih kecil, saat sering ikut kantor ayah berlibur. Lalu, kesenangan itu menguar pelan-pelan hingga sekarang. Meski sebenarnya, hobi itu selalu terkendala untuk mencapainya; izin orang tua.

Ayah saya seorang workaholic--yang jarang bepergian. Bepergian baru terlaksana atas dorongan sebagian besar anggota keluarga. Berbeda dengan ayah, ibu lebih terbuka. Meski sebenarnya sama-sama suka parno jika anaknya kelu…

Islam, Budaya, dan Indonesia

Meluangkan waktu untuk ke Pulau Lombok memberikan manfaat tersendiri bagi saya. Berjalan, belajar, dan bertemu banyak orang baru membuat saya paham bagaimana bentuk negara yang saya pijak, Indonesia, di mata wisatawan asing. Indonesia adalah negara dengan sejuta pesona yang tidak pernah ada habisnya. Ragam suku, adat, dan budayanya membuat banyak orang terpukau. Multikultural. Berjalan di Pulau Lombok, saya bertemu dengan banyak sekali orang baru, tidak terkecuali wisatawan asing. Beberapa wisatawan asing yang saya temui berasal dari Amerika, Belgia, Perancis, Belanda, dan Jerman. Sedangkan wisatawan lokal asal Jogja, Semarang, dan Jakarta. Bertemu dengan mereka, bukan hanya sekadar say hi! Tapi kami saling berbicara alasan kedatangan di Pulau Lombok. Ada apa di Pulau Lombok? Mengapa dipilih sebagai destinasi wisata? Seorang wisatawan asing keturunan Cina asal Amerika yang saya temui mengaku senang bisa berwisata di Pulau Lombok. Namanya Laurent, dia adalah mahasiswa Harvard Univer…

Di Penyeberangan Bangsal-Gili Trawangan

Hari masih pagi, tapi pelabuhan Bangsal di Lombok Utara sudah menggeliat. Wisatawan dan pedagang berbaur menunggu kuota kapal penuh. Tidak terkecuali cidomo, engkel, dan ojek yang sibuk menurunkan dan menunggu penumpang. Penyeberangan terbanyak menuju Gili Trawangan, pulau yang penuh gemerlap bar, kafe, tour travel, dan penginapan. Pagi itu pukul setengah sembilan waktu setempat. Barang dagangan seperti nasi, jajanan, buah dan sayuran, sepeda, dan tanaman, masih tergeletak di tepi pelabuhan. Kuota kapal menuju Gili Trawangan belum maksimal, 30 orang. Meski tergeletak, seolah tidak mau rugi, penjaja makanan juga menggelar barang dagangannya untuk dijual. Yang paling laris tentu saja penjual nasi bungkus. Sejumlah laman blog wisata maupun catatan perjalanan menyarankan membeli sarapan pada ibu-ibu penjual nasi di sini. Sebab, jika sudah masuk Gili Trawangan, jangan berharap ada harga murah. Semuanya serbamahal. Menunggu kuota mencapai 30 orang tidak begitu lama. Karena setiap kekurang…

Sedikit Cerita tentang Suku Sasak, Lombok

Lombok. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Lombok. Kali pertama saya juga menggunakan jasa penerbangan. Sejuta pesona Lombok membuat saya berani menyisihkan sebagian pemasukan bulanan untuk datang ke sana. Bicara Lombok, bicara backpacking, bicara juga tentang keunikan pulau dengan panganan khas Sate Bulayak dan Nasi Balap Puyung ini. Sejak memutuskan menghabiskan waktu di Lombok, saya berusaha mencermati apa saja keunikan yang ada. Termasuk kebiasaan dari warga setempat dan suku asli penghuni pulau di Timur Pulau Bali, suku Sasak. Suku Sasak adalah suku asli dari Pulau Lombok. Tepatnya di Dusun Sade, Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Sebagai suku asli Pulau Lombok, kawasan Sade dibuat menjadi tempat jujukan para wisatawan. Pekerjaan utama masyarakat suku Sasak adalah menenun dan hasilnya dijual di depan rumah mereka sendiri. Ada sekitar 150 kepala keluarga yang menempati kawasan Sade dan semuanya merupakan suku Sasak. Namun jangan salah, ada pula suku Sasak yang memilih hidup …

Jangan Buru-Buru Menikah

Menikah itu nggak gampang. Kalimat itu selalu saya tanamkan pada otak ketika di luar sana mulai ribut pertanyaan, "Kapan menikah?".

Seperti halnya kebanyakan wanita twenty something lainnya, sejujurnya, saya ingin menikah. Itu wajar, kan? Menikah itu fitrah, termasuk keinginan untuk menikah. Apalagi di usia seperti saya. Keinginan itu selalu ada. Bahkan kadang meletup-letup, kadang biasa saja. Tergantung mood. Namun, belakangan, saya mulai merasa perlu mengkoreksi keinginan meletup untuk segera menikah. Selain karena perjodohan yang--hampir selalu gagal-- saya juga mencermati hal lain di balik serunya pernikahan.

Jauh sebelum hari ini, saya beberapa kali bertanya pada ibu. Pertanyaan sepele yang membuat saya kurang yakin pada pernikahan--jika saya melakukannya dalam waktu mendadak, tiba-tiba, dan serbacepat. Waktu itu saya bertanya, "Apakah menikah itu menyenangkan? Kalau iya, mengapa temanku banyak sekali yang bercerai-berai. Atau bahkan ada yang memiliki anak namun …