Skip to main content

Backpacking Seru di Lombok

Yay! Akhirnya saya mendapatkan jatah cuti juga. Sebenarnya, tujuan cuti saya kali ini adalah Belitung, Bangka Belitung. Namun, setelah hitung-menghitung bujet, tabungan jalan-jalan saya kurang. Maka berbelok arahlah saya menuju Lombok.
Kenapa harus Lombok? Menurut kabar yang beredar, Lombok memiliki sejuta pesona. Tiga gili yang terkenal, pemandangan alam yang penuh pepohonan hijau, cuaca dan hawa segar, dan pesona bawah laut yang memukau. Siapa yang tidak tertarik? Selain itu, saya tertarik dengan Lombok karena membaca tulisan di kaus ayah tentang tiga gili populer Lombok. Saat itu, saya masih duduk di kelas empat SD ketika ayah mendapat tugas di Lombok. Pikiran saya cuma satu saat itu; bagaimana bentuk Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air? Kok ayah sudah ke sana. Dari situ, saya pun terobsesi memasukkan Pulau Lombok dalam list perjalanan saya :d.
Nah, perjalanan liburan kali ini sengaja saya tempuh melalui jalur udara. Alasannya untuk efisiensi waktu. Biarlah meski merogoh kocek sedikit lebih dalam. Toh, materi mudah dicari. Dan lagi, bukankah liburan adalah bagian dari kado bagi diri sendiri setelah lelah bekerja? Tentu saja! :p
Pagi itu, sebelum berangkat kerja, saya packing supercepat. Memilih 5 kaus--termasuk yang dipakai berangkat, 1 celana kain--buat tidur dan snorkling, 1 celana jeans--dipakai sejak awal berangkat, peralatan mandi serbamini, dan sandal jepit. Semuanya saya sesuaikan dengan jumlah hari saya di sana. Asumsinya, perhari ganti satu baju karena seharian akan dipakai untuk jalan-jalan. Untuk underwear, bisa dihitung sendiri. Bawa sedikit dan dicuci di penginapan juga bisa. Jangan lupa, untuk menghemat backpack, packing pakaian dengan baik; yaitu digulung. Dengan menggulung pakaian, backpack saya longgar dan nggak terasa berat; hanya sekitar 2,7 kilogram. Oh, iya, jangan lupa, baju juga bisa diminimalisir jika memang berniat membeli baju di lokasi. Hemat backpack, sayang pundak :d. Jangan lupa juga, siapkan uang mentah di tas selempang ya, buat jaga-jaga tanpa harus membuka dompet di depan publik.
Saya terbang menuju Lombok setelah menyelesaikan deadline pekerjaan sampai pukul 15.00 dan diobrak-obrak partner agar segera pulang dan berangkat menuju bandara. Padahal pesawat flight baru pukul 18.20. Manisnya, pesawat delay 90 menit. Yang artinya, saya menunggu 3,5 jam di bandara dan menunggu boarding sambil berpindah duduk di tiga tempat berbeda. Bosen, cyiiin!
Perjalanan SUB-LOP sekitar satu jam lebih sedikit. Setelah mendapat kompensasi makan malam, saya memutuskan tidur sampai landing. Lombok masuk dalam provinsi Nusa Tenggara Barat. Artinya, satu jam lebih cepat dibandingkan dengan Surabaya. Saat itu saya sampai pukul 23.05 waktu Lombok dan langsung memesan taksi bandara menuju penginapan di daerah Kuta, Lombok Tengah dengan biaya 84.000 rupiah. Mungkin, jika tanpa taksi bandara akan lebih murah harganya karena menggunakan argo. Namun sebelumnya, seperti laiknya turis kebanyakan, saya mejeng di depan tulisan Bandara Internasional Lombok Praya. Buat apa lagi selain foto-foto? Yaa, kan, saya turis jugaaa :)).
Bandara International Lombok Praya merupakan bandara yang baru selesai dibangun pada 2011 lalu. Karena termasuk baru, warga sekitar masih sering memanfaatkan bandara sebagai tempat wisata. Iya, tempat wisata! Saat itu di antara penumpang satu pesawat, saya yang paling akhir dan paling kaget begitu melihat puluhan warga berdiri memandang kami dengan tatapan seolah menunggu sesuatu. Setelah berjalan beberapa meter melewati mereka, saya pun melihat beberapa tikar tergelar di rerumputan dengan beberapa orang duduk. Oh, ternyata mereka sedang berwisata malam. Menurut warga asli Lombok, wilayah Lombok Tengah terkenal lebih primitif dibandingkan Lombok Barat dan Timur. Sehingga maklum saja jika mereka berwisata di bandara dan melihat takjub siapa saja yang baru dan akan naik pesawat.
Perjalanan dari bandara menuju Kuta sekitar 30 menit dengan infrastruktur yang sangaaat... kontras. Jalanan mulus tiada terkira, namun tidak ada satu pun lampu jalan menerangi. Belum lagi banyak anjing liar main potong jalan. Sunyi mencekam. Kabarnya, daerah Praya, Lombok Tengah masih rawan rampok. Jangankan turis, warga Lombok wilayah lain pun kerap berseteru dengan warga Lombok Tengah. Namun, sekarang mulai berkurang seiring mulai banyak wisatawan datang ke Lombok, meski nggak sebanyak Bali. Sedikit demi sedikit, mereka mulai paham dengan kedatangan wisatawan. Meski sedikiiit sekali.
Sepanjang perjalanan, nggak ada salahnya mengajak ngobrol supir taksi buat tanya-tanya seputar wisata Lombok. Lumayan mengusir kantuk yang menyerang. Dan lagi, gelapnya jalanan cukup membuat suasana sepi cenderung menegangkan. Menurut supir taksi, jalanan Lombok yang gelap memang karena pemda setempat belum membangun lampu jalan. Katanya, dalam tahap proses pengerjaan. Entah kapan selesai, sepanjang perjalanan yang saya amati tidak menunjukkan tanda adanya pembangunan lampu jalan. Btw, supir taksi di Lombok ramah kok. Bahkan sampai menawari carter taksi untuk keliling Lombok--nyambi jadi calo, cyiiin! :)).
Setelah sampai di pintu masuk Kuta, saya langsung diantar menuju penginapan. Saya menginap di sekitar Pantai Kuta tepatnya di G'Day Inn Budget Room. Harga permalamnya 135.000 rupiah via Booking.com, kalau on the spot harga dibanderol 150.000 permalam dengan fasilitas yang sama oke. Double bed, kamar mandi dalam, kipas angin, dan sarapan serta air mineral sepuasnya. Untuk ukuran harga--yang menurut saya kurang murah :p--segitu lumayanlah ya. Soalnya fasilitasnya oke plus bersih, jadi worth it-lah. Oh, iya, karena saya sudah booking seminggu sebelum berangkat, sampai penginapan pukul 23.33 pun dibukain juga. Secara karena daerah Kuta memang masih sepi, jadi pukul 22.00 sudah gelap gulita termasuk penginapan. Nah, karena sudah larut, saya pun memutuskan untuk langsung tidur setelah salat Isya sekaligus persiapan tenaga untuk menuju ke Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu di Lombok Utara Kamis pagi.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…