Sunday, May 25, 2014

Islam, Budaya, dan Indonesia

Meluangkan waktu untuk ke Pulau Lombok memberikan manfaat tersendiri bagi saya. Berjalan, belajar, dan bertemu banyak orang baru membuat saya paham bagaimana bentuk negara yang saya pijak, Indonesia, di mata wisatawan asing.
Indonesia adalah negara dengan sejuta pesona yang tidak pernah ada habisnya. Ragam suku, adat, dan budayanya membuat banyak orang terpukau. Multikultural. Berjalan di Pulau Lombok, saya bertemu dengan banyak sekali orang baru, tidak terkecuali wisatawan asing. Beberapa wisatawan asing yang saya temui berasal dari Amerika, Belgia, Perancis, Belanda, dan Jerman. Sedangkan wisatawan lokal asal Jogja, Semarang, dan Jakarta.
Bertemu dengan mereka, bukan hanya sekadar say hi! Tapi kami saling berbicara alasan kedatangan di Pulau Lombok. Ada apa di Pulau Lombok? Mengapa dipilih sebagai destinasi wisata?
Seorang wisatawan asing keturunan Cina asal Amerika yang saya temui mengaku senang bisa berwisata di Pulau Lombok. Namanya Laurent, dia adalah mahasiswa Harvard University yang mendapatkan scholarship untuk mengulik budaya unik di suatu negara. Indonesia sengaja dipilih karena dia terkesan dengan kekayaan budayanya dan adanya dominasi pemeluk agama Islam terbanyak di dunia. Alasan lain, dia tertarik untuk meneliti Indonesia lantaran pernah ada seorang penulis wanita asal Amerika yang menghujat Islam. Penulis itu menggelar talk show di negara ini dan dibubarkan oleh ormas yang memang terkenal rusuh. Dia penasaran sekali dengan banyak hal di Indonesia. Mengapa pemeluk agama Islam di Indonesia banyak sekali? Mengapa suku, adat istiadat, dan budaya di Indonesia beragam sekali?
Di home stay Mataram, saya bertemu dengan turis asal Belgia dan Perancis--yang saya lupa namanya. Mereka travelling khusus di Indonesia sejak Januari lalu. Banyak hal yang membuat mereka tertarik. Pemandangan alamnya, budaya, adat istiadatnya, semuanya. Apalagi, Indonesia terkenal sangat murah. Entah masyarakatnya yang murah senyum atau barang-barangnya yang super murah. Mereka bahkan menganalogikan; menyewa flat sempit di Eropa--tanpa tv, wifi, tanpa makan, tanpa air, hanya bisa tidur-- selama satu bulan nominalnya setara dengan keliling Indonesia selama satu bulan, lengkap dengan makan di restoran, menginap di hotel, plus transportasi dari satu kota ke kota lain. Wow! Sebegitu njomplangnya kehidupan di Eropa dan Indonesia yang membuat mereka betah berlama-lama di negara kepulauan terbesar dunia ini.
Ya, negara saya, negaramu, negara kita ini memang luar biasa dahsyat. Elok alamnya; hutan, gunung, dan laut. Ragam budayanya; agama, suku, ras, bahasa, tarian, seni, dan kebiasaan. Banyak! Yang membuat saya semakin takjub dan bersyukur hidup di tanah air ini, alasan berkebalikan dari turis-turis itu.
Tentang Islam. Wisatawan Amerika tertarik dengan Islam di Indonesia. Dia ingin belajar tentang Islam. Padahal, Islam di Indonesia sangat beragam. Saking beragamnya, pelaksanaan hari raya pun juga tidak bersamaan.
Tentang Indonesia. Dua wisatawan asing tetangga kamar tertarik karena Indonesia memang menarik. Padahal, jika mencermati berita sehari-hari, masyarakat Indonesia juga kerap bertengkar. Saling memusuhi, saling berseteru.
Mereka bilang, Indonesia itu kaya. Di tengah kekayaan alam melimpah ruah--sampai dibagi-bagikan pada tetangga-- masyarakat kita masih bisa hidup berdampingan. Suku Jawa dengan suku Madura, suku Batak, suku Tengger, suku Sasak, suku Asmat, suku Bugis, suku Sasak, semuanya. Mereka senang melihat keragaman itu. Mereka tidak percaya bahwa keragaman bisa membuat Indonesia satu. Karena itulah mereka ke mari, tertarik.
Namun sayangnya, seperti yang kita tahu, tidak semua masyarakat Indonesia paham akan potensi besar yang dimiliki negeri tercinta ini. Tidak sepenuhnya paham bahwa kelestarian Indonesia harus dimulai dari sekarang. Ya, dari sekarang. Meski sebenarnya terlambat. Tapi, tentu terlambat masih lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Sampai hari ini, beberapa tempat yang pernah saya kunjungi memang betul, indah. Memang betul, mampu menghilangkan penat di pikiran. Tapi sayang, beberapa tempat itu tidak jauh dari sampah berserakan. Wisatawan dan penduduk lokal masih dengan mudah membuang sampah sembarangan, merusak lingkungan. Padahal, begitu besar potensi wisata Indonesia, mestinya bisa semakin besar meraup keuntungan, mengumpulkan pundi rupiah, menyejahterakan masyarakat setempat.
Di Pulau Sempu, Gunung Bromo, Pantai Watu Ulo, Gunung Sikunir, Gili Trawangan (atau Gili Meno dan Gili Air), Pantai Senggigi, dan masih banyak lagi wisata lain yang penuh sampah. Yang paling parah, pemandangan bawah air 3 gili di Lombok membuat saya tidak berhenti menggeleng. Koral rusak dan mati. Padahal setiap harinya wisatawan asing silih berganti datang mengalahkan jumlah wisatawan lokal.
Ya, pesona Indonesia memang luar biasa indah. Namun, saya percaya, Indonesia akan jauh lebih indah dan ramah jika masyarakat mulai sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Sederhananya, memulai mengumpulkan sampah pribadi di kantung bawaan jika tidak menemukan tempat sampah. Sederhana, tapi hasilnya akan berkelanjutan untuk masa depan.
Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia kita.
Post a Comment