Sunday, May 11, 2014

Jangan Buru-Buru Menikah

Menikah itu nggak gampang. Kalimat itu selalu saya tanamkan pada otak ketika di luar sana mulai ribut pertanyaan, "Kapan menikah?".

Seperti halnya kebanyakan wanita twenty something lainnya, sejujurnya, saya ingin menikah. Itu wajar, kan? Menikah itu fitrah, termasuk keinginan untuk menikah. Apalagi di usia seperti saya. Keinginan itu selalu ada. Bahkan kadang meletup-letup, kadang biasa saja. Tergantung mood. Namun, belakangan, saya mulai merasa perlu mengkoreksi keinginan meletup untuk segera menikah. Selain karena perjodohan yang--hampir selalu gagal-- saya juga mencermati hal lain di balik serunya pernikahan.

Jauh sebelum hari ini, saya beberapa kali bertanya pada ibu. Pertanyaan sepele yang membuat saya kurang yakin pada pernikahan--jika saya melakukannya dalam waktu mendadak, tiba-tiba, dan serbacepat. Waktu itu saya bertanya, "Apakah menikah itu menyenangkan? Kalau iya, mengapa temanku banyak sekali yang bercerai-berai. Atau bahkan ada yang memiliki anak namun tidak mau menikah. Sekrusial apa makna pernikahan itu?"

Sederhana. Siapapun bisa bertanya pertanyaan sepele seperti itu. Saat itu, ibu diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, "Pernikahan itu sama sekali tidak mudah. Menggabungkan dua watak berlainan dan harus menjadi padu. Sama sekali rumit. Maka, hal termudah yang bisa kamu lakukan hanya satu; berdoa."

Jawaban itu luar biasa mudah. Siapa tidak tahu kalau dengan berdoa semua bisa lancar? Hanya, doa seperti apa yang bisa dikabulkan? Dalam kondisi seperti apa kita saat meminta?

Hampir lima bulan di tahun 2014 ini saya mendapatkan kabar sangat beragam dari teman-teman. Tentang pernikahan mereka yang menakjubkan dan mengagetkan. Salah satunya, tentang sebuah pernikahan melalui perjodohan. Dalam frame yang saya lihat secara nyata, keduanya tampak sangat anggun dan bahagia di pelaminan. Namun, siapa sangka jika beberapa bulan setelahnya si wanita melarikan diri? Tidak mau dijamah, tidak menganggap lelakinya adalah suami? Lalu pergi dengan lelaki lain. Mendapati hal itu, ada perasaan berdesir dalam dada. Kok bisa mereka tampak bahagia padahal ternyata ada lubang menganga di antaranya?

Kisah lain yang membuat saya miris. Ada seorang teman menikah melalui murabbi. Keduanya menikah setelah saling mengirim proposal diri, cocok, dan menikah. Di pelaminan, keduanya tampak sangat bahagia. Saya pikir, perkenalan singkat tidak akan membuat kualitas suatu hubungan pernikahan terganggu. Namun kenyataannya tidak demikian. Hampir tiga bulan menikah, ternyata si wanita tidak jatuh cinta pada si lelaki. Alasan klasik--yang saya pun juga pernah mengalaminya. Hingga akhirnya tuntutan untuk cerai pun datang. Padahal si lelaki sudah berusaha memperbaiki diri seperti yang diminta si wanita. Lalu apakah bercerai memang semudah itu?

Cerita lain, saya mempunyai teman wanita. Usianya hampir menyentuh kepala tiga. Dia belum menikah. Padahal, dia sudah umrah, memanjatkan doa meminta jodoh, sejak usianya masih twenty something. Namun ternyata jodohnya baru datang belakangan. Dia tidak cinta, namun dia menerima. Hingga saat ini, beberapa bulan usia pernikahannya, saya pikir masih (dan semoga selalu) aman sentosa. Si wanita bahkan mengaku kualitas hubungannya sangat baik, meski masih juga menderita karena LDR *yaa dinikmati aja keleuuus :p*.

Jodoh memang tidak bisa ditebak, kan? Siapa yang menjamin, umrah bisa langsung mendatangkan jodoh atau apapun yang diminta? Tidak ada jaminan. Karena semuanya hanya masalah waktu.
Namun, dari tiga cerita singkat tentang teman saya itulah yang membuat saya berpikir berulang-ulang. Saya takut.

Ketakutan itu cukup mendasar. Sebab, teman sekolah dan kuliah saya banyak sekali yang sudah menikah dan mempunyai anak. Ada yang satu, dua, tiga, bahkan empat! Luar biasa, bukan? Lantas, apakah saya merasa tersaingi dan harus mengejar ketertinggalan layaknya sebuah perlombaan? Dulu, sempat terbesit sedikit bahwa saya tertinggal. Tapi setelah saya memahami, saya kemudian sadar bahwa pernikahan bukanlah ajang balap yang harus segera dipertontonkan pada khalayak ramai. Bukan pula ajang perlombaan memperlihatkan kemesraan dalam rumah tangga baru pada teman lain.
Ibu pernah bilang, "Ya memang, menikah itu sulit. Tapi kamu, kan, punya Allah, ngapain harus takut?"

Mungkin, tulisan serupa ini sering sekali saya tulis. Saya pun mulai bosan dengan topik yang begini-begini saja. Tapi apa mau dikata? Saya tidak biasa menyimpan kegelisahan. Jadi, biar saja tulisan serupa berkali menghiasi laman blog, asal saya damai, aman, tentram, sentosa :p. Intinya, dari cerita di atas, jangan buru-buru nikah. Mending cari kejelasan masa depan karir yang masih buram dan suram :))).
Post a Comment