Skip to main content

Mumpung Masih Muda Banyakin Jalan-jalan


Dunia travelling sedang menggeliat. Saking menggeliatnya, hampir seluruh perbincangan di sosial media dan toko buku menghadirkan kisah perjalanan. Mulai tips perjalanan murah ala backpacker sampai perjalanan menggunakan koper alias berbujet tinggi. Yah, well, setidaknya itu memberikan keuntungan tersendiri bagi pemasukan daerah dan Indonesia atau negara lain; civil starts love travel and give any income.

Begitu pun saya. Sejak kerja, pikiran saya cuma dua; menabung untuk masa depan dan menabung untuk jalan-jalan. Hobi jalan-jalan sebenarnya sudah mengendap sejak lama. Sejak saya masih kecil, saat sering ikut kantor ayah berlibur. Lalu, kesenangan itu menguar pelan-pelan hingga sekarang. Meski sebenarnya, hobi itu selalu terkendala untuk mencapainya; izin orang tua.

Ayah saya seorang workaholic--yang jarang bepergian. Bepergian baru terlaksana atas dorongan sebagian besar anggota keluarga. Berbeda dengan ayah, ibu lebih terbuka. Meski sebenarnya sama-sama suka parno jika anaknya keluyuran kemana-mana.

Dari dulu, saat saya ingin bepergian, ayah selalu menghambat. Yang nggak boleh inilah-itulah, yang ujung-ujungnya saya batal berangkat atau nekat berangkat. Pernah saya sudah siap berangkat, sudah packing, sudah tukar libur, namun izin tidak saya dapat. Akibatnya? Saya gondok berat.


Well, sebenarnya, saya keberatan dengan sikap orang tua--yang terkesan terlalu parno. Padahal, kalau saja mereka menaruh kepercayaan, tentu saya nggak perlu nekat dan mencari-cari alasan agar bisa tetap berangkat untuk melayani nafsu berlibur. Saya yakin seratus dua persen kalau mereka tahu cerita Ibnu Battuta--pengembara muslim terbesar di pertengahan abad ke-13.

Ibnu Battuta seorang muslim taat. Beliau sengaja menghabiskan hidupnya untuk mengembara, mencari makna hidup, mempelajari, dan mengamalkannya. Bahkan, dari perjalanan-perjalanannya itu beliau dipercaya menjadi duta besar di beberapa negara Arab dengan posisi dan bayaran tinggi. Alasannya, Ibnu Battuta memiliki strategi bagus untuk mengembangkan suatu negara karena pengalaman mengembaranya diterapkan. Beliau mempelajari banyak hal di berbagai tempat. Mulai dari kebiasaan suatu suku, latar belakang suatu daerah terbentuk, hingga hal menarik yang tidak banyak orang tau--seperti jenis tanaman dan hewan yang tumbuh di gurun terbesar dunia, Sahara. Semuanya berawal dari berjalan, travelling. Tidak kurang-kurang, bahkan, dalam hadits nabi disebutkan, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina. Artinya, ilmu itu ada di mana-mana, mulai dari gendongan ibu sampai ke liang lahat. Ilmu tidak melulu ada di sekitar, tapi juga di tempat lain. Ilmu juga tidak melulu soal pelajaran di bangku belajar. Ya, seharusnya orang tahu soal ini, termasuk orang tua saya. Begitu hebatnya Ibnu Battuta ini, sampai-sampai beliau meracuni pikiran anak muda masa kini--meski mungkin Vasco de Gama lebih dikenal.

Pada dasarnya, travelling adalah cara belajar yang--menurut saya--pas bagi seorang kinestetik. Belajar sambil bergerak akan memermudah ingatan seorang kinestetik dibandingkan dengan audio-visual. Dengan berjalan, orang akan lebih banyak tahu hal-hal baru yang tidak ada dalam referensi. Travelling belajar secara mendalam dan menyeluruh. Mengapa? Karena travelling mengajarkan manusia untuk saling berinteraksi, berkomunikasi, bercerita antarsesama. Interaksi inilah yang membuat seseorang bisa dianggap lebih maju dari pada orang yang tidak melakukan perjalanan. Berdasarkan survey perusahaan travel asal Inggris, Contiki Holidays seperti dikutip dari Daily Mail, survey yang diberikan pada 2000 orang 75%  di antaranya mengaku hidupnya lebih bahagia dengan travelling saat di bawah umur 35 tahun. Sementara sisanya menyesal karena tidak pernah memperluas wawasan saat muda. Mengapa bisa demikian?

Tahukah kamu, kalau travelling, berjalan-jalan di usia muda tidak hanya mampu membuka wawasan, tapi juga mengasah kepekaan dan meningkatkan kepercayaan diri? Tentu saja. Travelling membuat seseorang mampu bersosialisasi dengan orang baru. Mampu memahami lingkungan baru sehingga bisa melakukan keputusan dan menyelesaikan masalah dengan bijak. Sebab, seorang pejalan umumnya mampu melihat satu hal dari berlainan sisi. Sebagai contoh; saya akan berwisata ke Lombok dengan estimasi waktu lima hari dan bujet maksimal 800 ribu rupiah--tidak termasuk transport. Lalu sebaiknya saya menempuh jalur mana? Lewat udara anggaplah PP 800 ribu rupiah dari Surabaya menuju Lombok Praya. Lalu akomodasi dan transport serta makanan memilih yang berbujet rendah. Penginapan menumpang di rumah kenalan, sewa motor 50 ribu rupiah perhari, makan makanan harga miring di tepi jalan. Apakah 800 ribu rupiah cukup? Tentu saja! Waktu lebih efisien, materi lebih hemat. Lain lagi lewat jalur laut yang lebih murah namun lebih memakan waktu. Perjalanan menuju Lombok harus ditempuh dari Surabaya-Banyuwangi-Bali-Lombok atau dua kali penyebrangan. Siapapun bisa menimbang-nimbang. Dengan waktu libur lima hari, bujet maksimal 800 ribu rupiah, mana yang lebih worth it? Pejalan pasti tahu mana yang dipilih, mana yang lebih menguntungkan.


Meski terkesan remeh, hal-hal seperti itu jangan dikira tidak berpengaruh pada masa depan. Beberapa survey menunjukkan bahwa pengalaman travelling mampu membuat seseorang mudah mencari pekerjaan. Alasannya, seorang pejalan dianggap mempunyai time management bagus. Punya pemikiran yang cemerlang dan penuh inovasi. Serta memiliki problem solving yang tepat sehingga dianggap sebagai decision maker yang baik.

Jika direnungkan, memang ada kaitannya kok. Seorang pejalan akan terbiasa mengatur waktu dari satu tempat ke tempat lain. Dia akan membuat estimasi dan rancangan sedemikian rupa agar tidak membuat rencana berikutnya terbengkalai. Jika plan A gagal, selalu ada plan B untuk menyelamatkan tujuannya. Seorang pejalan juga dianggap sebagai tim yang bagus karena mampu mengatur satu orang dan yang lain dengan cakap sesuai porsi.

Di sisi lain, seorang pejalan akan peka terhadap sekitar. Sederhananya, tidak akan membuang sampah sembarangan. Yaa, remeh memang, tapi seorang pejalan yang baik adalah tahu bagaimana menjaga lingkungan dengan baik.

Well, umur orang memang tidak ada yang tahu. Bagi saya, berjalan adalah cara ampuh untuk mengusir penat. Travelling memang menguras tenaga, waktu, dan materi. Tapi keuntungannya, tentu bukan hanya sekadar foto indah, melainkan pengalaman berbagi yang bisa diceritakan untuk anak cucu. Saya tidak ingin menyesal dua kali dalam hidup singkat ini. Cukup satu; saat SMA dan mahasiswa dulu tidak pernah ikut olimpiade dan jarang ikut kompetisi karya ilmiah yang mungkin bisa menambah wawasan ilmiah. Biar nggak bego-bego amat seperti sekarang :p. Jadi, buat saya, berjalanlah selagi mampu, selagi bisa, selagi muda, agar kelak tidak kecewa. Life is short, make it count.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…