Skip to main content

Pantai Kuta Lombok kala Senja

Selepas dari Taman Mayura di Mataram, kami langsung pulang menuju penginapan di Kuta. Sebenarnya, rencana awal adalah menikmati sunset di Pantai Senggigi. Namun, menurut pemandu di Taman Mayura, lebih baik kami pulang dan menikmati senja di Pantai Kuta, meski tidak ada sunset. Sebab, jalanan menuju penginapan dipastikan sama dengan saat kami kali pertama sampai di Lombok, gelap gulita dan berbahaya. Dan lagi, saya masih punya banyak waktu untuk melihat sunset di ikon Pulau Lombok, Pantai Senggigi. Pertimbangan keamanan itulah yang membawa saya dan partner memilih untuk balik kanan menuju Pantai Kuta.

Pantai Kuta bukan hanya ada di Bali. Meski namanya sama, Lombok juga punya Pantai Kuta atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mandalika. Nama Mandalika ini tidak akan saya lupakan karena nantinya akan membawa saya dalam perdebatan kecil dengan sopir engkel esok hari :))).

Saya tidak tahu persis perbedaan Pantai Kuta Bali dengan di Lombok. Ya, meski saya pernah ke Bali tiga kali dan selalu mampir ke Pantai Kuta, saya lupa persisnya jenis pasir, ombak, dan pemandangan di sana. Secara terakhir ke Bali sepuluh tahun lalu. Jadi, harap maklum :p.

Sebelum melaju ke Pantai Kuta, di Mataram kami menyempatkan diri untuk mencicipi kuliner khas Lombok. Kuliner pertama yang kami coba adalah Ayam Taliwang di Depot Kania, Cakranegara--yang ternyata letaknya berdekatan dengan penginapan kami selama di Mataram. Awalnya, feeling saya mengatakan kalau Ayam Taliwang mahal di harga, enak di lidah. Namun, ketika kami memesan satu Ayam Taliwang yang dibagi untuk berdua, Plecing Kangkung yang segarnya kebangetan, dan dua porsi jus buah, memang rasanya nendang kemana-mana. Termasuk harganya. Kami langsung nangis sambil senyum kecut begitu dapat nota pembayaran sebesar 85.000 ribu rupiah! Kecut banget rasanya, beneran! :))). Sejak merasakan kecutnya harga Ayam Taliwang, kami mewanti-wanti untuk selanjutnya makan di warung pinggiran tanpa nama, irit jeh! :))).

Selesai merasakan rasa sedap di lidah, pahit di kantong Ayam Taliwang, kami melaju ke Pantai Kuta. Jarak Pantai Kuta dan penginapan kami cukup dekat. Hanya 5 menit jika jalan kaki. Tapi kami ke sana tidak jalan kaki :p.

Hari sudah senja ketika kami parkir motor sembarangan di tepi Pantai Kuta. Betul kata pemandu Taman Mayura, Pantai Kuta tidak punya sunset karena letaknya ada di Selatan. Namun karakteristik pantainya cukup oke. Pantai berpasir putih bersih, deburan ombak tenang, bebatuan karang, dan suasana nyaman. Ini yang saya cari. Tenang dan nyaman. Mungkin, karena akses menuju daerah Kuta cukup seram, jadi jarang ada wisatawan menuju ke sana saat senja selain turis asing yang berpesta di tepi pantai. Oh iya, sejauh mata memandang, daerah Kuta didominasi oleh wisatawan asing, wisatawan lokalnya jarang sekali. Saat kami berfoto-foto, sejumlah wisatawan asing tengah menyiapkan--mungkin, barbeque party--api unggun dengan beberapa botol bir di dekatnya. Suasana pesta malam dimulai. Memang, semakin mengarah ke pantai, semakin banyak penginapan, kafe, dan bar berdiri. Suasana ramai. Namun, suasana itu akan berubah ketika saya sampai di penginapan karena pantai mulai gelap. Letak penginapan kami memang dekat dengan pantai, tapi tidak sedekat dengan penginapan penuh bar dan kafe. Penginapan kami lebih dekat dengan masjid. Uniknya, meski arah ke pantai penuh pesta, di masjid tetap ada ritual tahlilan setiap Kamis malam. Tahlilan dan semacam manaqiban juga diperdengarkan melalui pengeras suara. Kontras tapi itu seninya. Beda tapi tetap aman dan tentram. Yang pesta tetap pesta, yang mengaji tetap mengaji.

Malam itu, sekembali dari Pantai Kuta, saya memutuskan untuk langsung tidur setelah bersih diri, tanpa makan malam karena tidak merasa lapar. Meski sebenarnya partner merasa lapar. Haha, egois nian! :))). Esoknya, kami berencana untuk keliling di dekat penginapan sembari bersiap untuk pindah ke Mataram.

PS. Photos are taken by phone camera low lux. Hahaha, buruk rupa sekali :))).

Comments

bergaya turis said…
Mbak Atiqoh, boleh saya diberi info dimana lokasi penginapan yang dekat masjid itu ? kami butuh masjidnya
Mohon bisa di info

Terima Kasih

Jasmine 25B9EF5B PIN
Whatsapp 082298907417

Terima Kasih
Atiqoh Hasan said…
Halo. Penginapan saya ada di dekat perempatan jalan raya Kuta. Sementara masjidnya ada di belokan perempatan. Nama penginapannya G'day Inn :D.

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…