Sunday, June 15, 2014

Pantai Tanjung Aan Lombok

Hari itu, lepas dari Pantai Seger, kami tidak segera menuju ke Pantai Tanjung Aan (orang Lombok menyebutnya Tanjung An. Lagi-lagi karena merasa 'berat' dengan huruf 'a'). Tapi kami balik ke penginapan untuk sarapan karena waktunya hanya dua jam, mulai pukul tujuh sampai sembilan pagi. Estimasi saya, kalau langsung lanjut Tanjung Aan, sarapan kami akan hangus. Sayang banget. Meski hanya omelette tomat dan atau pancake pisang, setidaknya itu bisa mengganjal perut sampai pukul enam sore nanti. Lumayan daripada nggak sama sekali.

Well, Pantai Tanjung Aan di Lombok Tengah dikenal dengan pantai yang indah. Sayang, aksesnya rusak. Jarak yang sebenarnya dekat dari penginapan di Kuta kesannya jadi jauh. Sepanjang perjalanan selain perumahan sederhana penduduk, jalanan dipenuhi semak-semak. Agaknya betul kalau dikatakan berbahaya saat datang pagi-pagi buta. Sepi. Padahal kami datang sekitar pukul setengah delapan, sesuai yang disarankan oleh bapak penjaga penginapan. Kami menjadi pengunjung pertama di sisi Timur Pantai Tanjung Aan. Sebab, dilihat dari sisi Timur, di sisi Barat tampak beberapa wisatawan yang tengah asik berfoto-foto di atas batu besar. Sebenarnya, bapak penjaga penginapan mengusulkan saya untuk memilih di sisi Barat, tapi saya terlanjur nggak paham dengan arah mata angin, jadi ke mana aja boleh :)).
Di Tanjung Aan, pemandangannya hampir mirip dengan Pantai Seger. Tapi karakteristik garis pantai di Tanjung Aan lebih panjang. Jadi, pandangan mata lebih lapang. Birunya langit dan laut beradu. Indah. Belum lagi ombaknya yang tenang membuat suasana pantai jadi sahdu.
Tapi ketenangan saya sedikit terusik ketika tiga bocah datang menghampiri, menawarkan dagangan berupa gelang dan gantungan kunci. Sebenarnya, mereka tidak akan saya anggap mengusik jika menawarkan dagangan tidak sambil mengejar ke manapun wisatawan berjalan. Beneran. Sayangnya, mereka terus merengek dan memohon agar dagangannya dibeli dengan alasan untuk membantu orang tua dan biaya sekolah. Aduh, jurusnya maut. Saya nggak tega kalau ada penawaran begitu. Tapi saya ingat bujet terbatas. Ya, karena saya sengaja tidak mencantumkan oleh-oleh dalam trip kali ini kecuali kaus. Jadi, saya keukeuh menghindar terus. Beruntung partner saya diberi hati tidak tegaan. Mereka pun saya arahkan ke partner agar dia yang membeli barang dagangan tiga bocah itu. Hahaha.

Selama partner dikerumuni tiga bocah, saya memilih untuk foto-foto sendiri, dan menepi di bangku-bangku teduh yang telah disediakan. Sambil memandang laut lepas, ketiga bocah itu datang menghampiri dan kembali menawarkan dagangan :))). Akhirnya, iseng-iseng saya alihkan pembicaraan dagang mereka. Saya ajak mereka ngobrol tentang keseharian, keluarga, dan apa saja. Mereka anak Suku Sasak dari Desa Sade yang berniat membantu orang tuanya kala hari libur sekolah. Katanya, sekolah libur saat hari Jumat. Mereka memilih berjualan di Tanjung Aan karena tidak ada larangan berjualan. Beda lagi sama Kuta. Yang katanya, kawasan itu bebas penjual dagangan seperti mereka. Ya, entahlah.

Kami ngobrol asik sampai seorang perempuan datang menyapa saya dengan senyuman lebar. Perempuan itu membawa bungkusan kain besar yang kemudian dibuka di depan saya. Awalnya, saya tidak peduli karena lebih asik ngobrol dengan tiga bocah. Tapi kemudian perempuan itu bersuara sambil menunjukkan isi kain besar yang terbuka. Saya melirik sekilas. Ternyata, isinya... sarung! Hyaaah, ternyata perempuan itu adalah pedagang sarung tenun dari Sade. Satu perempuan datang membuka dagangan, artinya akan ada pedagang-pedagang lain yang akan berekerumun. Dan benar saja! Dalam sekejap, saya dikerumuni ibu-ibu pedagang. Jeng jeng jeng. Saya melirik sekilas ketiga bocah di depan saya, mereka tersenyum lalu berpindah tempat. Aduh, feeling saya nggak enak :p.

Satu persatu pedagang datang memarkir motor, menghampiri kami, menawarkan barang dagangannya. Ada sarung tenun dan kaus. Mereka menawarkan dengan harga miring. Katanya, kalau beli di Sade lebih mahal, beda dengan barang yang mereka bawa. Di sini, saya sempat pingin tertawa ngakak gara-gara pedagang satu dan yang lain saling iri, lalu mereka menyalahkan saya. Lah?
Ceritanya, setelah sekian lama saya tidak tertarik dengan barang yang mereka bawa, mereka mengatai saya. Mereka bilang, saya parah. Parah dalam artian, banyak yang menawari dagangan tapi nggak tertarik sama sekali. Lalu, ketika ada pedagang kaus datang dan membuka dagangan, saya langsung menengok dan hendak menawar. Saya dengar, mereka berbicara dalam bahasa Indonesia campur bahasa Lombok. Saya parah. Parah tidak tertarik, tidak menawar, dan mereka capek menawakan. Beberapa pernyataan menggelikan mereka sebenarnya banyak saya dengar. Tapi saya cuma datar sambil meringis. Meski pada akhirnya, saya membeli satu sarung seharga 35.000 rupiah, entah buat siapa nantinya. Saya membeli pada perempuan pertama yang datang menawarkan dagangan. Harapannya, setelah saya membeli, mereka membubarkan diri. Eeeh, nggak taunya teteup! Ya udah, sih, saya balik kanan ke pedagang kaus.
Saya membeli dua kaus masing-masing seharga 20.000 rupiah. Itu pun setelah partner saya membeli lima kaus seharga 100.000 rupiah. Awalnya, pedagang kaus--yang didominasi laki-laki--hanya melepas 100.000 untuk lima kaus. Tapi saya nggak mau. Saya bilang, "Saya nggak mau, Pak, kalau harganya segitu buat lima kaus. Saya butuh dua aja, kok. Lagian, saya dan dia, kan, sama saja. Bapak mau nggak ini satu dua puluh ribu?". Saya pikir, kalau pun bapak itu nggak mau, saya masih bisa membeli di Mataram. Akhirnya bapak bilang, "Ya, saya mau." :))).
Setelah saya membeli kaus, kami bergegas untuk kembali ke penginapan menuju Rembitan, Sade. Tapi langkah saya terhenti, ketika ibu-ibu pedagang--yang tidak saya beli dagangannya--ngedumel ke saya. "Mbak, curang. Cuma beli sarung ke ibu itu. Kausnya ke bapak itu. Mbak tahu? Bapak-ibu yang dagangannya mbak beli itu, mereka suami istri. Mbak nggak adil. Belinya ke suami istri aja. Kami nggak dibeli." Pernyataan satu ibu itu langsung diamini oleh yang lain. Yang langsung bikin hati dan lambung saya nggak betah menahan tawa. Lah, mana saya tahu kalau mereka suami istri? Jadi, semua ini salah saya? Hahaha.


Btw, kalau berniat membeli oleh-oleh, jangan membayangkan seperti Pasar Seni Sukowati di Bali atau Pasar Beringharjo di Jogjakarta ya! Sebab, di Mataram belum ada pasar binaan seperti itu. Ada, tapi tidak seperti kedua pasar tersebut. Jadi, kalau mau beli oleh-oleh asli Lombok, mending beli di Tanjung Aan. Ada kaus dan sarung tenun. Baik tenun asli maupun tenun tekstil. Harganya lumayan miring, yang pinter nawar aja. :D

Post a Comment