Saturday, June 7, 2014

Seru-seruan di Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu

Pagi hari, saya bangun dengan persiapan matang. Saking matangnya, saya bangun sebelum subuh untuk bersiap jalan-jalan. Tapi sayangnya, sepagi apapun saya bangun--dengan asumsi semakin pagi, semakin banyak tempat wisata dikunjungi--ternyata, toko-toko di sekitar penginapan belum buka, jalanan masih super gelap gulita! Akhirnya saya balik kanan, memilih untuk bengong di kamar sambil menunggu waktu sarapan. Pukul 7 pagi, resepsionis dan waitresd penginapan membuka menu sarapan. Menu sarapan di sana hanya ada dua pilihan; omelette tomat dan pancake pisang plus teh dan kopi panas.
Selepas sarapan, sambil melihat peta di papan penginapan, saya meminta tolong resepsionis untuk disewakan motor. Dengan cekatan, dia pun langsung menelepon rekannya menggunakan bahasa adat Lombok, memesankan motor. Untungnya, saya mendengar percakapan mereka yang kalau tidak salah sedang menawar harga motor sampai 40.000 rupiah. Saya pun berpikiran bahwa harga sewa motor bisa ditawar! Maka, setelah resepsionis menutup telepon, saya pun menemui pemilik motor yang ternyata ada di depan penginapan tepat. Saya terlibat percakapan dengan pemilik motor hingga akhirnya saya menawar harga motor sehari 45.000 rupiah. Nah, karena rencananya saya pindah ke Mataram pada Jumat siang, otomatis saya meminjam selama 36 jam. Dan saya berhasil mendapatkan harga 65.000 rupiah untuk 36 jam, meski si pemilik motor terlihat nggak rela *the super power of bargaining :p*. Oh, iya, kami mendapat motor tanpa plat, tanpa STNK, dan tanpa helm. Katanya, Lombok aman dari polisi. Iya Lombok memang aman sekali, tapi apa kabar nyawa saya coba?
Setelah mendapatkan motor, sekitar pukul 8 tepat saya langsung ke tujuan wisata pertama, yakni Air Terjun Benang Stokel di kaki gunung Rinjani, Lombok Utara. Di perjalanan awal, kami melewati pasar tradisional Sengkol. Tidak jauh berbeda dengan pasar kebanyakan di Jawa, pedagang di pasar Sengkol meletakkan dagangannya di tepi jalan raya utama. Iya, diletakkan saja seolah jalan raya itu adalah lapak bebas. Alhasil, sekitar pasar Sengkol macet. Gimana nggak? Cidomo (dokar kuda), engkel (sejenis bemo) mobil, motor, dan pangkalan ojek jadi satu tumplek blek. Beruntung, macet tidak terlalu parah. Ada petugas dari Dinas Perhubungan yang--mungkin setiap hari--ikut membantu kelancaran jalan raya utama.
Anyway, menurut beberapa orang yang saya temui, waktu tempuh Kuta-Air Terjun Benang Stokel sekitar 1 jam. Dengan bantuan GPS ditambah surfing, dan tanya sana-sini, saya dan partner pun langsung meluncur kepedean. Sepanjang perjalanan didominasi dengan perbukitan indah, kami percaya pada tiga penunjuk jalan tadi. Namun, pada akhirnya, kami menyerah pada GPS karena ternyata-oh-ternyata, GPS di Lombok sesat banget. Nggak cocok dan suka bikin pemotor stres--kami contohnya :)). Beberapa blog yang saya baca pun bilang demikian. GPS di Lombok hanya berfungsi saat di Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat. Yang jelas, kalau mau aman, mending tanya warga lokal. Kenapa? Selain GPS sesat, Lombok juga miniiim penunjuk jalan. Serius! Kami bahkan berputar-putar satu lokasi sampai tiga kali saking sesatnya GPS dan minimnya penunjuk jalan. Bahkan, ketika kami sedikit menghirup napas lega karena jarak Air Terjun Benang Stokel katanya makin dekat, kami masih kudu tahan ketawa. Ya, karena pintu masuk Air Terjun Benang Stokel nggak ada papan namanya! Saya bahkan harus turun tanya penjaga palang, mirip tamu yang berkunjung ke rumah, "Misi, Mbak, ini betul Air Terjun Benang Stokel?" Hahaha. Duh!
Sampai di parkiran, siapapun yang tidak jeli pasti akan tergiur masuk pos informasi. Yang ternyata, di pos informasi akan ditarik biaya perpaket wisata di sekitar tiga air terjun berdekatan itu. Mulai 60.000 sampai 180.000 rupiah. Untungnya, saya malas untuk ke pos informasi--yang ternyata didominasi oleh wisatawan asing dilihat dari harga yang tertera menggunakan mata uang dollar. Maka saya dan partner pun hanya membayar masing-masing 6.000 rupiah untuk parkir dan tiket masuk. Sebenarnya, berwisata di Lombok memang diperlukan kejelian ekstra. Karena superminimnya papan penanda. Jadi, setiap tanya pada orang, pasti itu calo, pasti ditawarin macam-macam. Bahkan, nyaris, partner saya terkecoh untuk ngojek ke Air Terjun Benang Kelambu. Padahal naik motor sendiri pun bisa.
Semula, kami memang ingin ke Air Terjun Benang Stokel dulu--yang kabarnya memang dekat dari tempat parkir. Tapi, setelah bertanya dan tidak menggunakan jasa ojek, siapapun yang kami tanya pun memilih untuk bungkam :'(. Akhirnya, kami pun jalan kaki tak tentu arah di kaki Gunung Rinjani yang ternyata berujung pada Air Terjun Benang Kelambu. Jaraknya lumayan, bisa ditempuh 45 menit jalan kaki. Hahaha, what a surprise! Di situ, partner mulai berkeluh kesah karena treking jauh dan mewanti-wanti untuk pakai jasa ojek pas balik. Saya, sih, woles aja.
Treking tanpa penunjuk arah sama sekali, kami beberapa kali bingung dengan persimpangan jalan. Serius, persimpangan jalannya nggak cuma satu-dua, tapi banyak! Beberapa kali kami bertanya warga lokal yang untungnya baik hati dan ramah. Salah satu yang saya tanya adalah petani kopi. Di kaki Gunung Rinjani, ternyata sejumlah ibu-ibu memilih untuk berprofesi sebagai petani kopi yang dijual di pasar. Kopi khas Lombok yang saya lupa untuk mencicipinya :/.
Sambil treking, kami menghilangkan penat dengan berfoto-foto geje. Gimana nggak geje, wong objek yang difoto sama semua; jalanan berlumpur, semak-semak dan pepohonan, dan kami. Monoton.
Tapi, meski 45 menit treking menanjak, semuanya akan terbayar lunas begitu sampai di Air Terjun Benang Kelambu. Serius! Pemandangannya subhanallah, masyaallah! Saya sampai speechless, loh, begitu melihat kali pertama. Air terjun memancar deras dengan dinding tebing penuh dedaunan hijau. Air yang mengalir dingin menyegarkan. Pikiran saya waktu itu hanya; nggak mau pulang, nggak mau kerja! Aduh, serius, saya sampai tidak bisa berkata-kata saking indahnya pemandangan Air Terjun Benang Kelambu. Betul kata para calo, Air Terjun Benang Kelambu memang jauh, tapi pesonanya bikin lupa daratan. Subhanallah...
Di sana, saya merelakan diri berbasah-basahan saking gemesnya sama pemandangan alamnya. Tapi, di saat wisatawan lokal riuh mendinginkan badan, saya hanya bisa puas menginjakkan kaki sampai lutut. Ternyata, selain wisatawan asing, Air Terjun Benang Kelambu juga menarik perhatian wisatawan lokal untuk berlibur bersama keluarga. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sana saking terpesonanya saya pada pemandangan yang kerap menjadi foto kalender. Lalu, sekitar pukul 12, kami berbalik arah menggunakan ojek *akhirnya naik ojek juga! :))*. Harga ojek bisa ditawar. Tawar aja sampai 15.000 dari harga semula 30.000. Sebenarnya itu kurang sadis penawarannya, tapi partner mengiyakan saja harga 15.000 perorang dan bawa motor tukang ojek sendiri. Sayang duitnya, ya...
Sampai di parkiran, kami bertanya lokasi Air Terjun Benang Stokel pada orang yang wajahnya kelihatan baik :p. Maka, oleh pedagang bakso dijelaskan, Air Terjun Benang Stokel ada di gerbang tempatnya mangkal. Yang artinya, memang hanya 50 meter dari tempat parkir. Jdeng! Dan lagi, ternyata dari Air Terjun Benang Stokel, ada jalan tembusan yang lebih pendek mengarah ke Air Terjun Benang Kelambu. Yaaah!
Berbeda dengan Air Terjun Benang Kelambu, untuk mencapai Air Terjun Benang Stokel harus melewati puluhan anak tangga. Yaa, lumayan bikin celana longgar! :)).
Penampakan Air Terjun Benang Stokel tidak sebagus Air Terjun Benang Kelambu. Tapi, tempatnya yang dekat dengan tempat parkir dan tidak butuh waktu lama untuk menjangkaunya, membuat air terjun itu lebih ramai dikunjungi. Ditambah ada gazebo-gazebo untuk bersantai. Sayang, saya tidak banyak mengambil foto di sini. Oh iya, di lokasi ini ada tiga air terjun sekaligus. Selain Benang Kelambu dan Benang Stokel, satu sisanya saya lupa namanya dan kata beberapa orang di sana, jaraknya cukup jauh. Jadi, kami pun memutuskan untuk balik kanan setelah puas mengamati Air Terjun Benang Kelambu dan Air Terjun Benang Stokel. Kami beralih tujuan menuju Mataram, pada akhirnya...
PS. All photos are taken by phone camera. Kacrut jaya...
Post a Comment