Saturday, June 7, 2014

Taman Mayura, Saksi Kerajaan Hindu di Lombok

Sebenarnya, Mataram adalah tujuan kami di hari ketiga dan keempat. Tapi, karena kami kurang menguasai peta Lombok, selepas dari Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu, kami langsung menuju Mataram mencari tempat wisata apa saja yang bisa ditemui. Kami menemukan Taman Mayura yang letaknya persis di pusat bisnis perkotaan Cakranegara, Mataram, Lombok Barat. Tepatnya di belakang SPBU Cakranegara *meski di pusat kota, kami tetap nyasar dong! :))*

Masuk ke Taman Mayura kalau tidak salah ingat, perorang ditarik harga 10.000 rupiah. Mungkin karena di pusat kota, harga tiketnya jadi lumayan mahal :p *dasar pelit!*. Di sini, pengunjung akan ditawari menggunakan jasa guide atau tidak. Saat itu, kami menggunakan jasa guide untuk menjelaskan secara detail sejarah Taman Mayura.

Taman Mayura adalah saksi sejarah adanya kerajaan Hindu di Pulau Lombok. Dibangun pada abad ke-17 oleh raja Anak Agung Ngurah, Taman Mayura dulunya mempunyai fungsi sebagai tempat petilasan, tempat menjamu tamu, tempat bermusyawaah, hingga tempat istirahat. Kata Mayura diambil dari burung merak yang dulunya digunakan untuk mengusir ular di sekitar taman. Adanya burung merak di taman tersebut atas usul sahabat raja asal Pakistan--yang saya lupa namanya siapa :/.

Nama asli Taman Mayura sebenarnya adalah Taman Mayora. Namun, karena warga Lombok kurang fasih menyebut huruf 'o' maka menjadi Mayura. Pelafalan 'ra' pun tidak menggunakan huruf 'a' tapi 'e'. Jadi jika diucapkan berbunyi Taman Mayure. Persis dengan Taman Narmada jadi Taman Narmade, Pantai Kuta jadi Pantai Kute.

Memasuki Taman Mayura, pengunjung akan disuguhi pemandangan asri laiknya sebuah taman dengan sebuah kolam besar berada di tengah. Kolam tersebut merupakan tempat mandi para dayang raja. Di tengah kolam pemandian terdapat selasar untuk sidang atau tempat musyawarah lengkap dengan enam patung tokoh Islam asal Pakistan. Keenam patung tersebut merupakan simbol balas jasa raja pada teman karibnya yang berhasil mengusir ular dari taman menggunakan burung merak. Simbol patung tersebut juga menandakan adanya keberagaman agama di Pulau Lombok. Artinya, meski kerajaan Hindu berkuasa kala itu, toleransi agama umat Hindu cukup kuat. Itu dibuktikan hingga sekarang. Dimana 40% warga Lombok adalah pemeluk agama Hindu, 55% umat muslim, dan sisanya beragam agama. Suasana Hindunese di Lombok khususnya di Mataram sangat terasa, persis seperti di Bali, banyak pura di tepi jalan. Menariknya, meski memiliki banyak pura di tepi jalan, Lombok lebih dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid. Sebab, sepanjang jalan, masjid bertebaran dimana-mana. Jadi, umat muslim yang bertandang ke Lombok nggak perlu khawatir nggak bisa salat karena tidak menemukan masjid atau musala.

Kembali ke Taman Mayura, selain disuguhi pemandangan asri taman dan rimbunnya pepohonan disertai angin semilir, pengunjung akan diajak memasuki wilayah peribadatan. Yaitu, Pura Jagatnatha. Pura Jagatnatha adalah pura terbesa ketiga di Indonesia setelah Pura di Borobudur, Jogjakarta dan Pura Bedugul di Bali. Pura ini terbuka untuk umum. Namun, pada saat upacara keagamaan, pura akan disterilkan karena akan menjadi pusat keagamaan umat Hindu. Di sekitar pura terdapat pohon beringin. Menurut kepercayaan, pohon beringin bukan hanya mengandung unsur mistis namun juga merupakan pertanda suatu tempat akan makmur, jaya, serta selalu aman sentosa. Filosofi ini persis seperti di Alun-alun Kidul Jogjakarta yang memiliki dua pohon beringin besar dengan sumber kemakmuran bagi masyarakat yang memercayai.

Saat memasuki wilayah pura, ada satu keluarga yang mendirikan tenda lengkap dengan perabotan rumah tangga. Pemandu menjelaskan, keluarga tersebut merupakan keluarga beruntung yang berhak mendirikan tenda di sekitar pura, tepat di depan tempat petilasan raja di dekat kolam air, selama tiga hari berturut-turut. Sebab, keluarga tersebut berhasil melempar botol akua berisi pengharapan pada salah satu ujung pohon beringin yang diyakini akan mendapat berkah, petunjuk, serta keberuntungan dari Sang Hyang Widhi. Botol yang dikaitkan dengan tali tersebut tidak akan jatuh dalam kurun waktu satu-dua minggu. Tapi bisa sampai berbulan-bulan. Jika botol jatuh, maka umat Hindu lain baru bisa mencoba peruntungan serupa.

Sekilas, Taman Mayura memang tampak tidak ada yang istimewa. Namun, menyewa guide membuat saya sadar bahwa apa yang tampak sederhana tidak selalu sederhana. Justru bisa menyimpan sejuta kisah memesona. Di Taman Mayura, saya tidak hanya belajar sejarah. Tapi, saya juga belajar untuk lebih menghormati pemeluk agama lain selain Islam. Jika raja Hindu bisa, kenapa umat muslim tidak bisa? Bukankah Nabi Muhammad juga menanamkan toleransi beragama yang sama? :d

PS. Photos are taken from phone camera.

Post a Comment