Friday, July 18, 2014

One Day Trip di Pacitan

Seminggu sebelum puasa, saya dan lima teman dari Plurk Surabaya memutuskan untuk berwisata ke Pacitan, kota Seribu Goa. Pacitan menjadi tujuan utama kami untuk one day trip. Alasannya, Pacitan tidak begitu jauh dari Surabaya, tetapi banyak objek wisata tersaji. Benar, Jawa Timur memang kaya. Tidak diragukan lagi.
Kami berangkat pada Jumat malam menggunakan bis dari Terminal Bungurasih. Kami sengaja ngeteng, karena tidak mau ambil risiko terlalu capek di jalan. Bis paling akhir Surabaya-Pacitan pukul 22.30 dengan harga 45.000 rupiah. Namun kami stand by sejak pukul 21.30. Jelas, karena kami ingin mendapatkan tempat duduk. Sebab kami tahu, setiap Jumat malam warga pendatang Surabaya sering mudik ke daerah asal, termasuk Pacitan. Strategi kami tidak meleset, justru dengan stand by lebih awal, kami bisa leluasa memilih tempat duduk.
Perjalanan Surabaya-Pacitan selama 6,5 jam kami habiskan dengan tidur. Memasuki Kabupaten Pacitan, jalanan meliuk bertebing membuat saya terjaga sepanjang perjalanan. Susah tidur. Akhirnya, pukul 5.00 kami sampai di Terminal Pacitan. Setelah salat Subuh dan cuci muka, kami menelepon kembali rental motor meminta kepastian motor pinjaman. Sayang, kami tidak beruntung. Tidak ada satupun motor tersedia. Setelah berembuk, kami pun memutuskan untuk menyewa mobil seharga 550.000 rupiah sudah termasuk fee sopir, bensin, dan tiket masuk objek wisata apa saja yang kami inginkan. Worth it-lah ya, kalau dibagi berenam. Secara selama di perjalanan kami hanya duduk, ngemil, dan tidur. Tidak mengeluarkan tenaga sama sekali untuk mencapai tujuan wisata.
Tujuan pertama kami ke Pantai Pancer. Letaknya di pusat kota Pacitan dan bersisian dengan Pantai Teleng Ria. Kedua pantai ini teksturnya sama. Berpasir hitam kecokelatan dan berombak besar. Banyak turis asing datang ke mari untuk berselancar. Di sisi lain Pantai Pancer terdapat bagian air payau, pertemuan air laut dan air tawar. Pertemuan itu biasanya ditandai dengan adanya gugusan pohon mangrove di bibir pantai. Lepas dari Pantai Pancer, kami memesan makanan Nasi Tiwul khas Pacitan untuk dimakan di perjalanan.
Pantai Srau menjadi tujuan kedua kami. Di sini, ada tiga lokasi untuk melihat karakteristik pantai yang berbeda. Pantai Srau juga biasanya digunakan untuk melihat hilal penunjuk bulan Ramadan dan Syawal datang. Di Selatan Pacitan yang lain, ada Pantai Watu Karang. Pantai ini indah dan cukup sepi. Airnya biru kehijauan. Ombaknya tidak begitu ganas. Selain kami, pengunjung didominasi bule yang tampak tengah membuat film dokumenter.
Kata orang, ikon Pacitan adalah Pantai Klayar. Kami ke sana untuk melihat langsung fenomena banyu nggebros atau air yang menyembur karena ombak menabrak celah di antara batu karang. Ombak di pantai ini cukup ganas. Di pantai ini juga terdapat batu mirip spinx yang banyak dijadikan objek foto. Dari Klayar, kami langsung menuju Pantai Banyu Tibo. Sesuai namanya, Banyu Tibo berarti air jatuh. Di pantai ini terdapat air tawar yang jatuh ke laut melalui celah karang membentuk serupa air terjun. Tidak seperti Klayar, pantai ini relatif sepi meski pemandangannya memesona. Perjalanan terakhir kami menuju Pantai Buyutan untuk melihat sunset. Letaknya sangat dekat dengan Klayar. Namun sayang, cuaca sore itu mendung. Pantai ini berada di bawah perbukitan. Berbeda dengan lima pantai lain, pantai ini sangat sepi! Ombaknya tidak ganas namun suasananya syahdu. Senja di tepi pantai yang indah.
Dari Buyutan, kami mampir menikmati Soto Pacitan. Rasanya yang manis membuat otak kecil saya cepat mengingatnya. Terakhir, kami menuju Masjid Agung Pacitan untuk bersih diri sebelum memesan bis paling akhir pukul 23.00 di pergudangan bis. Total one day trip di Pacitan perorang tak sampai 200.000 rupiah. Cukup murah untuk backpacker kere seperti kami. Dari perjalanan ini, kami tahu jika Pacitan bukan hanya soal seribu goa, tapi juga ribuan pantai. Karena, selain enam pantai tersebut, masih banyak pantai tersembunyi di Pacitan. Tertarik?
Post a Comment