Skip to main content

Senja di Pantai Nipah

Kapal penyebrangan dari Gili Trawangan menuju Pelabuhan Bangsal sampai sekitar pukul 16.20, Sabtu sore. Lepas dari Bangsal, kami langsung menuju Malimbu. Arah ke Malimbu cukup jelas. Dari Pelabuhan Bangsal ada pertigaan ke kanan, itu arah Malimbu. Berbeda dengan perjalanan saat berangkat yang didominasi pepohonan dan jalan berliku, perjalanan pulang kali ini dihiasi jejeran pantai. Sejauh mata memandang cuma ada pantai dan pantai. Partner saya memacu kendaraan dengan kecepatan sedang. Tujuan kami berikutnya adalah sunset di Pantai Senggigi. Kenapa Senggigi? Ya, karena itu ikon Pulau Lombok.

Namun semuanya berubah ketika saya berpikir impulsif dan memberikan penawaran pada partner, "Kenapa kita nggak nyoba ke pantai terdekat? Kayaknya pantainya lebih bagus dan sepi." Partner saya setuju, kami pun berbelok menuju pantai terdekat. Sebelum berbelok ke pantai terdekat, saya menunjuk pantai paling ujung. Nama pantai itu adalah Pantai Pandanan. Letaknya tepat di ujung pertama saat partner gagal menghentikan laju motor dadakan. Di deretan pantai tersebut, tidak ada sama sekali papan penanda nama-nama pantai. Hanya ada pintu masuk dari besek bambu yang tidak tampak seperti pintu masuk. Hal itulah yang mungkin membuat deretan pantai sepi pengunjung.

Kami berbelok menuju Pantai Nipah, letaknya tepat di sisi Pantai Pandanan. Tekstur pantainya sejauh mata memandang, mirip satu sama lain. Berpasir putih, berombak tenang, sepi, dan romantis. Saya sempat menyapa penduduk lokal bertanya nama pantai di sekitar Pelabuhan Bangsal. Karena kami hanya berdua, beliau mengira kami juga penduduk lokal. Padahal sih bukan banget. Wajah pendatang, kan, kelihatan sekali ya :))).

Suasana Pantai Nipah menjelang senja saat itu sangat sepi. Hanya ada kami berdua dan penduduk lokal. Sementara anak-anak lokal bermain bola di tepi pantai. Saya puas sekali duduk santai di tepi pantai. Syahdu dan menenangkan. Tidak pernah saya temui pemandangan senja sedamai ini. Satu-dua kapal nelayan berangkat melaut, beberapa nelayan berdiri santai di tepinya. Sementara saya berfoto ria sambil memandang satu demi satu aktivitas mereka.

Matahari pelan-pelan mulai turun, menunjukkan warna oranye tua yang menyenangkan. Saya mengusulkan untuk berbalik menuju Bukit Malimbu. Menurut literasi blog yang saya baca, dari Bukit Malimbu bisa melihat Gili Amatra secara lengkap dan menyeluruh. Kami ingin membuktikan itu. Ya, benar saja. Saat kami sampai di Bukit Malimbu--yang berupa jalanan dengan pemandangan lapang menjorok ke laut--banyak sekali motor dan mobil berjajar. Berikut penjual jagung bakar dan minuman hangat. Kami memutuskan untuk tidak berhenti di sana saking padatnya. Kami pun bergeser sedikit. Di dekat Bukit Malimbu terdapat gapura. Di sanalah kami berhenti, menyaksikan keajaiban alam, mengantarkan sang surya kembali ke peraduannya. Dari tempat kami berdiri, matahari tidak lagi sejajar. Tapi berada di bawah kami. Ya, kami berhenti di titik cukup tinggi dari dekat Bukit Malimbu.

Matahari sudah tenggelam. Jalanan Raya Senggigi mulai gelap. Meski demikian, masih ada satu-dua lampu jalan yang menyala. Tidak seperti kondisi di Kuta yang sama sekali tidak mempunyai lampu jalan. Mengarah ke Senggigi dari Bukit Malimbu, berturut-turut kami melewati Pantai Malimbu, Pantai Tiga, dan Pantai Senggigi. Seluruhnya dalam satu garis lurus yang sama indah.

Hari itu, cukup memuaskan bagi saya. Pemandangan indah, suasana yang nyaman, tenang, dan damai mampu membuat pikiran jenuh hilang seketika. Kami mengakhiri hari dengan makan Nasi Balap Puyung atau di Jawa dikenal dengan Nasi Campur. Namun menu lauk di dalamnya berbeda. Ada paru, daging ayam, daging sapi, kacang kedelai, kelapa manis (serundeng), tempe kering, potongan cabe hijau, sambal, dan entah ada apalagi. Harganya sangat bersahabat di kantong. Hanya 10.000 rupiah perporsi. Untuk harga segitu, rasanya sangat enak! Beneran, deh. Bikin kenyang pula.

Malam sudah mulai larut, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Sampai penginapan, kami disambut dengan lampu mati. Eaaa. Nggak di Jawa, nggak di NTB kebagian lampu mati juga :))). Cukup lama kami menunggu di depan kamar sambil ngobrol dengan tetangga sebelah sampai saya merasa ngantuk berat. Nggak cuma ngantuk, banyak nyamuk juga, ding. Mood saya pun langsung down gegara lampu matinya lama. Ya udah, saya pun akhirnya memutuskan untuk mandi ditemani cahaya lilin lanjut tidur :)).

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…