Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2014

Sisa Kerajaan Papi Dolly

Jarum jam menunjukkan angka 21.30. Tidak begitu larut. Namun cukup larut bagi anak usia sekolah. Di salah satu sudut gang di Surabaya, justru tidak tampak kelarutannya. Hingar bingar justru kian terasa. Termasuk di gang sempit bagian dari orang bilang, Gang Dolly.Malam itu, Juwita, gadis belum genap 13 tahun bercengkrama di depan rumah. Parasnya yang cantik, tubuhnya yang proporsional menjebak siapapun yang melihatnya. Tidak akan ada pikiran bahwa gadis itu baru lulus sekolah dasar.Juwita mengenakan kaus tanpa lengan berwarna putih, malam itu. Celananya pendek tapi tak sampai pangkal paha. Mulus. Jelas, itu yang terlihat dalam benak setiap orang yang melihatnya. Cantik, tentu saja. Tapi dia baru 13 tahun belum genap. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Wajahnya segar dengan make up natural yang makin menonjolkan kecantikannya. Sepatunya setinggi tujuh sentimeter. Aduhai, manisnya. Ada apa Juwita malam itu?Rupanya, malam itu adalah malam pertama dia akan bekerja sebagai penyanyi…

Permen Karet Terakhir

Rin melempar clutch bag di kasur, menyusul tubuhnya. Sebelah tangannya meraih bantal kuat-kuat, membawanya tepat di atas wajah, menenggelamkan dalam-dalam. Nafasnya memburu. Antara nafsu dan kecewa. Teramat sangat. Seandainya saja dia lebih peka. Seandainya saja dia lebih peduli pada orang yang kerap mengajaknya bertengkar. Seandainya saja dia lebih paham arti dari godaan-godaan menjengkelkan. Seandainya saja dia tidak galak. Tidak cuek bebek pada gurauan menyebalkan. Pasti dia tidak perlu kecewa. Tidak perlu menahan napas ketika harus bersalaman pada kedua mempelai. Pasti separuh hatinya tidak mencelos sakit. Kepanasan. Seandainya saja.Rin masih telentang dengan bantal menutupi wajahnya. Bayangan pada kedua mempelai berkelebat. Matanya panas mengingat ekspresi kaget pada lelaki yang pernah diam-diam disimpan dalam hatinya. Tidak pernah ada dalam bayangannya jika lelaki yang menikah dengan Jingga, sahabatnya, adalah lelaki yang kali terakhir mengisi hatinya. Tidak pernah dia duga. Pan…

Apa Itu Jilboober?

Ilustrasi (Rappel.com) Sejak memutuskan untuk membatasi diri di dunia maya, secara otomatis saya enggak tahu perkembangan terkini tentang dunia maya. Paling, saya baru tahu sesuatu yang lagi booming dari lini masa twitter yang beberapa di antaranya adalah berita. Yang paling terakhir saya tahu adalah soal jilboobs. Berjilbab tapi menggunakan pakaian ketat. Memerlihatkan seluruh lekuk tubuhnya. Sehingga tidak ada bedanya dengan tanpa jilbab.

Jilboobs dan jilboober. Saya pikir, fenomena ini tidak hanya terjadi belakangan saja. Karena seingat saya, zaman saya SMP pun banyak orang menggunakan jilbab sementara pakaiaannya ketat. Hanya saja kali ini pengaruhnya lebih santer kali ya. Karena pengaruh media sosial juga. Tapi saya pribadi, enggak pernah terganggu sama apa itu jilboobs dan siapa saja yang masuk dalam kategori jilboober. Sama halnya saat teman-teman saya sibuk dengan gaya hijab masa kini atau jadi  hijaber. Saya biasa-biasa saja menanggapinya, karena itu pilihan masing-masing ora…

Wonderful Indonesia: Mencari Surga di Raja Ampat

Gugusan pulau-pulau kecil di bebatuan karst dengan vegetasi tanaman. (foto: Indonesia Travel)
Saya tidak pernah membayangkan bisa menjejakkan kaki di Raja Ampat, sebuah kepulauan di wilayah paling timur Indonesia. Tentu saja, karena tabungan--yang saya kumpulkan selama bekerja dua tahun menjadi seorang kuli tinta--tidak cukup untuk membeli tiket ke sana. Sebegitu mahalnyakah transportasi menuju kepulauan yang katanya surga dunia? Tampaknya memang begitu. Tapi, tidak salah juga kalau saya berandai-andai untuk mampir barang seminggu ke destinasi wisata yang mendunia itu. Melihat langsung kultur, kebiasaan, adat, dan kehidupan langsung masyarakat sekitar kepulauan surgawi.
Raja Ampat terletak di timur Indonesia, tepatnya di Provinsi Papua Barat. Indonesia bagian timur dikenal sebagai wilayah dengan biaya hidup yang sangat tinggi. Itu karena akses menuju ke daerah sangat sulit, tidak terkecuali untuk menuju Raja Ampat. Sebutlah dari kota saya, Surabaya. Dari Surabaya menuju Raja Ampat, w…

Cewek Alternatif

Akhir-akhir ini saya cukup sering menyebut kata 'cewek alternatif'. Nggak dalam hati, nggak dalam obrolan, bahasannya beberapa kali tentang itu. Apa yang aneh?Jadi begini, saya punya teman yang suka muncul tiba-tiba dan di luar dugaan. Kalau nggak diharapkan sama sekali, dia datang. Tapi kalau diharapkan, enggak ada kabar sama sekali. Payahnya, tiap dia nongol dan menyapa, dia selalu punya niatan curhat terselubung. Sebenarnya, saya tipikal orang yang oke-oke saja kalau dicurhatin, hitung-hitung membantu temanlah ya. Saya juga suka banget berbagi cerita. Ya barangkali saja dengan sharing bisa melegakan jiwa. Seorang teman saya ini lucu sekali. Dia datang tiba-tiba lalu pergi secepat kilat. Saking seringnya begitu, saya jadi sudah sangat terbiasa dan enggan peduli. Buat apa? Toh, saya hanya diperlukan saat dia butuh saja *sadis ON:p*Ceritanya, teman saya ini baru patah hati. Dia curhat ke saya panjang lebar, berkeluh-kesah. Saya sebagai teman pun memberi masukan sebisanya, sema…

Allah Ada Dimana-mana

Seminggu terakhir, entah kenapa saya merasa berat sekali dalam memutuskan sesuatu. Semua perkara yang sebenarnya mudah, justru tampak sulit dan ribet. Ditambah lagi saya yang cengeng ini mencampuradukkan masalah tadi dengan yang lain. Boom! Streslah saya. Saya sedang berada pada masa putus asa, pesimistis. Saya juga bingung mau cerita pada siapa. Teman-teman saya "menghilang" dan saya tidak bisa memaksanya. Sampai malam itu, saya menemukan buku Quroish Shihab yang langsung membuat saya merasa perlu untuk membelinya. Bukunya terbitan lawas tapi dicetak ulang. Judulnya; Dia Dimana-mana. Kali pertama saya melihatnya, saya berpikir, kayaknya buku ini bisa membantu saya. Dan, memang begitu.Bab pertama yang saya baca adalah bagian Burung (2) Optimisme dan Pesimisme, bab yang memang saya butuhkan saat ini. Dalam buku itu diibaratkan, banyak orang percaya dengan isyarat dari burung. Arah terbang burung dan bagaimana kicauannya dikatakan bisa membantu seseorang tahu nasib baik atau b…

Pantai Ngliyep dan Pantai Jonggring Saloko

Bagi saya, pantai adalah tempat menyepi terbaik. Merenung, diam, sambil menatap ombak. Warnanya yang biru beradu padu dengan langit. Menenangkan. Nah, April lalu, saat saya stres berat, saya memilih untuk menyepi di dua pantai di Malang Selatan; Pantai Ngliyep dan Pantai Joggring Saloko. Sebenarnya ada satu pantai lagi di dekat Ngliyep, hanya saja aksesnya jelek banget. Apalagi saat musim hujan seperti saat itu, jalanan makin buruk rupa. Nggak bisa dilewati motor. Seperti biasa, saya mengajak Har dan Navis untuk jalan. Perjalanan pertama menuju Ngliyep. Dari Margosono, perjalanan melewati Karangkates sampai Donomulyo. Persisnya, pantai ini terletak sekitar 63 kilometer dari pusat kota Malang. Estimasi waktu jika ditempuh menggunakan kendaraan pribadi sekitar 60-90 menit. Jalanan Selatan Malang sepi dan mulus. Namun karakteristiknya sama; meliuk-liuk dengan pepohonan di kanan kiri. Pintu masuk Pantai Ngliyep saat itu sepiii sekali. Kami menjadi pengunjung pantai satu-satunya. Maklum…

Yang Tersisa dari Lokalisasi

Surabaya sempat tenar dengan gang dolly dan jarak. Dulu sekali bahkan hingga kini, gang dolly jarak masih terkenal. Apalagi kalau bukan karena dua kawasan itu adalah kawasan lokalisasi yang sempat menjadi terbesar se-Asia Tenggara? Selain gang dolly jarak, ada lokalisasi dupak bangunsari, kremil, dan lokalisasi jalanan. Dua lokalisasi terakhir sudah ditutup terlebih dahulu dibandingkan gang dolly jarak. Meski demikian, penutupan lokalisasi masih menyisakan masalah baru.

Namanya Sekar. Pagi tadi saya dan Sekar bertemu dan berkenalan di ruang kerja walikota Surabaya. Sekar, bocah perempuan berumur delapan tahun menderita hypersex alias maniak seks. Bukan sertamerta dia menjadi budak seks. Tapi dari orang terdekatnyalah dia belajar.
Masa kecil Sekar suram. Sangat suram. Ayahnya seorang preman lokalisasi yang kerap main pukul. Tidak hanya pada mama Sekar, tapi juga pada bocah berambut lurus itu. Sekar, kerap dipukul, ditendang, dimasukkan ke sumur dengan posisi kepala di bawah dan kaki…